Film Ganjil Genap: Resiliensi Perempuan Menolak Ambyar, Esensi Move On, dan Komitmen Saling Berubah

Film Ganjil Genap yang dilepas ke bioskop mulai Kamis (28/6/2023) adalah karya sineas Bene Dion Rajagukguk adaptasi dari novel bersutan Almira Bastari.

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 07 Juli 2023, 06:00 WIB
Film Ganjil Genap yang dilepas ke bioskop mulai Kamis (28/6/2023) adalah karya sineas Bene Dion Rajagukguk adaptasi dari novel bersutan Almira Bastari. (Foto: Dok. Instagram @bene_dion)

Liputan6.com, Jakarta Film Ganjil Genap yang dilepas ke bioskop oleh rumah produksi MD Pictures mulai Kamis (28/6/2023), adalah karya sineas Bene Dion Rajagukguk, hasil adaptasi dari novel berjudul sama milik Almira Bastari.

Ganjil Genap memasang tiga bintang utama dengan jam terbang lumayan tinggi di layar lebar. Oka Antara memerankan Aiman, dokter gigi berusia 35 tahun yang tak sengaja bertemu Gala (Clara Bernadeth) di bioskop.

Gala adalah pegawai bank di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Baskara Mahendra yang kita kenal lewat film Bebas, menghidupkan karakter Bara, pacar Gala selama 8 tahun terakhir namun batal ke pelaminan.

Kisah Ganjil Genap bermula ketika Bara memutuskan Gala dengan alasan “spark” dalam cinta mereka sudah tidak terasa, beberapa tahun terakhir. Bagi Bara cinta sudah lewat. Yang tersisa hanya komitmen. Masalahnya, komitmen saja tak cukup untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Dibantu dua sahabatnya, Sidney (Nadine Alexandra) dan Nandi (Joshua Suherman), Gala bersumpah akan move on. Ia lantas berkenalan dengan sejumlah cowok hasil rekomendasi Sidney dan Nandi. Apes tak ada yang nyangkut.

Mencoba aplikasi Tinder, Gala malah diajak santuy di apartemen sekalian cuddling. Hatinya makin ambyar kala tahu Bara bertunangan dengan Risty (Josephine Firestrome) padahal baru 8 minggu pacaran. Kini, Gala berada di persimpangan setelah hubungannya dengan Aiman kian intens.

 


Beranjak dan Jungkir Baliknya

Clara Bernadeth sebagai Gala dalam film Ganjil Genap. (Foto: Dok. MD Pictures)

“Wajar dong, gue berharap. Masa pacaran 8 tahun enggak ada bekasnya?” (Gala)

Ganjil Genap tidak memotret fenomena sosial soal ruwetnya lalu lintas Jakarta (yang konon kian tertata, kian dicinta) pada jam pulang kantor hingga jelang malam. Ini soal romantika cinta mereka yang telah berkarier dan mapan. Secara spesifik, soal bagaimana move on semestinya dilakukan, yang ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi, jika hubungan itu telah menahun.

Psikolog Anna Surti Ariani, dalam catatannya untuk Health Liputan6.com, yang dipublikasikan pada 9 Februari 2016, menjelaskan, saat hubungan yang telah menahun putus, “korban” punya banyak PR yang mesti dikerjakan. Pertama, mengingat-ingat rasanya jadi jomlo. Kedua, ketika bertemu keluarga maupun teman, ia mesti memperkenalkan diri sebagai single dan ini tak mudah. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan bersama kini harus terbiasa dijalani sendiri.

Lanjut Baca:

PR serupa dirasakan Gala yang bingung mencari alasan saat Mama (Lydia Kandou) kaget melihatnya pulang naik ojol pada hari pelat nomor genap. Biasanya Gala yang mengantar dengan mobil pelat genapnya, sampai ke rumah. Termasuk saat Mama berencana mengundang Bara ke rumah untuk makan soto bareng, Gala kelimpungan mencari dalih yang logis. Lalu, dimulailah perjuangan untuk move on. Gala melewati lima fase yang diperkenalkan Elisabeth Kubler-Ross dalam buku On Death and Dying (1969). Pertama, denial atau menolak kenyataan bahwa statusnya kini jomlo. Diputuskan tanpa alasan jelas awalnya membuat Gala meyakini ini bukan fakta meski ini benar nyata. Kedua, anger atau marah. Berkali Gala yang tak terima diputuskan menyebut Bara bangke. Di depan bestie (Sidney dan Nandi) hingga polisi yang merazianya dalam operasi ganjil genap di salah satu jalan protokol di Jakarta. Dalam amarahnya pula, tercetus sumpah akan mendahului Bara menikah. Tersirat jelas motif balas dendam ada di sana. Ketiga, bargaining, yakni era di mana “korban” bernegosiasi dengan keadaan. Dalam konteks negatif, Gala menciptakan ilusi harapan dengan mengontak Bara satu, dua, hingga empat kali. Saat Bara menghubungi dan mengajaknya bertemu, ilusi ini meninggi. Padahal, pertemuan itu hanya berisi presentasi ringkas soal alasan putus. Salah satunya, Bara mimpi naik pelaminan dengan cewek lain. Gala menawarkan solusi absurd (pertanda sumbu logikanya memendek) dengan meminta Bara tidur lagi. Siapa tahu, dalam tidurnya kali ini, Bara mimpi bersanding dengan Gala lengkap dengan baju pengantin. Keempat, depression, ditandai momen Bara beranjak dari lokasi pertemuan tanpa melakukan “puk-puk” untuk menguatkan Gala. Ia pergi begitu saja. Level stres Gala meninggi saat tak sengaja melihat Bara bersama Risty di parkiran, persis setelah menyampaikan alasan putus. Sakit hati. Marah. Tak berharga padahal ia merasa lebih cantik dari Risty. Mental dan hati Gala berada di titik terendah. Benar-benar ambyar. Terakhir, acceptance atau penerimaan. Ditandai dengan upaya Gala mencari pacar baru. Apakah ini berarti Gala telah move on? Tunggu dulu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya