Liputan6.com, Jakarta: Saat ini, hampir seluruh pesawat tempur TNI Angkatan Udara disuplai dari Amerika Serikat. Ini berbahaya. Sebab, sistem pertahanan udara Indonesia dipastikan terganggu bila suatu saat terjadi krisis politik dengan negara pemasok. Karena itu, pemerintah kini mempertimbangkan membeli pesawat tempur Sukhoi Su-27 Flanker buatan Rusia. Demikian dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Chappy Hakim di Jakarta, baru-baru ini.
Chappy mengatakan, pembicaraan mengenai pembelian pesawat ini akan dilakukan saat kunjungan Presiden Megawati Sukarnoputri ke Rusia pekan ini. Jika pemerintah jadi membeli pesawat buatan Rusia, KSAU menilai, sistem pertahanan udara Indonesia akan lebih stabil dan menguntungkan.
Asal tahu saja, pemerintah sempat berniat membeli 12 unit atau satu skadron Su-27 saat Indonesian Air Show digelar pada 1996. Namun, niatan itu urung karena krisis ekonomi dan tekanan politik AS menyusul konflik di Timor-Timur--sekarang Timor Leste. Bahkan, sejak kasus Timtim, AS mengembargo peralatan militer, termasuk suku cadang pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang sudah dimiliki Indonesia. Padahal, dua F-16 milik TNI AU telah jatuh karena kecelakaan ataupun kerusakan mesin.
Itulah sebabnya, membeli pesawat baru dari negara yang berbeda menjadi relevan untuk Indonesia saat ini. Sementara pilihan pemerintah melirik Su-27 rupanya keputusan yang tepat. Setidaknya, dari sisi kecanggihan teknologi. Pesawat bermesin ganda turbofan Lyul`ka AL-31F ini bisa melesat hingga kecepatan Mach 2 atau dua kali lebih cepat dari kecepatan suara. Namun, yang menjadi keunggulan Su-27--dan keluarga Sukhoi lain--adalah kemampuannya bermanuver "Cobra". Seperti namanya, manuver yang termasuk dynamic decelaration (perlambatan dinamis) ini mirip dengan gerakan ular kobra mematuk. Manuver diawali dengan gerakan pesawat mengangkat moncongnya hingga 90 derajat. Untuk sesaat, kecepatan pesawat melambat. Baru kemudian, hidung pesawat diturunkan dan terbang normal kembali. Hingga kini, gerakan tersebut belum tertandingi pesawat tempur Barat.
Selain berfungsi untuk pertempuran udara, Su-27 juga dirancang untuk menghancurkan sasaran di darat (FGA--fighter ground attack). Karena itu, perlengkapan senjatanya pun mengkombinasikan antara rudal udara ke udara (air to air) dan udara ke darat (air to surface). Di antaranya adalah peluru kendali Vympel R-27 atau dikenal dengan AA-10 Alamo. Setelah mengunci, rudal ini bisa mengejar pesawat sasaran hingga 170 kilometer dengan kecepatan Mach 4 atau dua kali kecepatan maksimum Su-27 sendiri. Namun, memang dibanding dengan F-16 harga Su-27 "sedikit" lebih mahal. Satu unit Su-27 dijual sekitar US$ 30-40 juta. Sedangkan, F-16 sekitar US$ 25 juta. Jadi, jika serius membeli Su-27 satu skadron, pemerintah harus mempersiapkan duit US$ 360 juta. Itu baru dengan asumsi harga Su-27 yang terendah.
Su-27 memiliki banyak sepupu. Di antaranya adalah Su-27K Sea Flanker, Su-30, Su-35, dan yang paling canggih Su-37 Super Flanker. Pada 1997-2000 Rusia memberi lisensi kepada Cina untuk membuat 200 unit Su-27. Selama periode itu, Cina memproduksi 40 unit Su-27 per tahun. Cina juga tercatat sebagai pemakai Sukhoi terbanyak di luar Rusia. Selain Rusia dan Cina, hingga kini pengguna pesawat Sukhoi adalah Belarusia, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, Hongaria, Jerman, Irak, Iran, Suriah, Yaman, Libia, Aljazair, Afghanistan, Angola, Etiopia, Peru, Korea Utara, India, Kazakhstan, Ukrania, dan Vietnam. Selain Indonesia, Rusia juga tengah giat menawarkan Su-27 ke Malaysia.(ZAQ/Fransambudi dan Erwin)
Chappy mengatakan, pembicaraan mengenai pembelian pesawat ini akan dilakukan saat kunjungan Presiden Megawati Sukarnoputri ke Rusia pekan ini. Jika pemerintah jadi membeli pesawat buatan Rusia, KSAU menilai, sistem pertahanan udara Indonesia akan lebih stabil dan menguntungkan.
Asal tahu saja, pemerintah sempat berniat membeli 12 unit atau satu skadron Su-27 saat Indonesian Air Show digelar pada 1996. Namun, niatan itu urung karena krisis ekonomi dan tekanan politik AS menyusul konflik di Timor-Timur--sekarang Timor Leste. Bahkan, sejak kasus Timtim, AS mengembargo peralatan militer, termasuk suku cadang pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang sudah dimiliki Indonesia. Padahal, dua F-16 milik TNI AU telah jatuh karena kecelakaan ataupun kerusakan mesin.
Itulah sebabnya, membeli pesawat baru dari negara yang berbeda menjadi relevan untuk Indonesia saat ini. Sementara pilihan pemerintah melirik Su-27 rupanya keputusan yang tepat. Setidaknya, dari sisi kecanggihan teknologi. Pesawat bermesin ganda turbofan Lyul`ka AL-31F ini bisa melesat hingga kecepatan Mach 2 atau dua kali lebih cepat dari kecepatan suara. Namun, yang menjadi keunggulan Su-27--dan keluarga Sukhoi lain--adalah kemampuannya bermanuver "Cobra". Seperti namanya, manuver yang termasuk dynamic decelaration (perlambatan dinamis) ini mirip dengan gerakan ular kobra mematuk. Manuver diawali dengan gerakan pesawat mengangkat moncongnya hingga 90 derajat. Untuk sesaat, kecepatan pesawat melambat. Baru kemudian, hidung pesawat diturunkan dan terbang normal kembali. Hingga kini, gerakan tersebut belum tertandingi pesawat tempur Barat.
Selain berfungsi untuk pertempuran udara, Su-27 juga dirancang untuk menghancurkan sasaran di darat (FGA--fighter ground attack). Karena itu, perlengkapan senjatanya pun mengkombinasikan antara rudal udara ke udara (air to air) dan udara ke darat (air to surface). Di antaranya adalah peluru kendali Vympel R-27 atau dikenal dengan AA-10 Alamo. Setelah mengunci, rudal ini bisa mengejar pesawat sasaran hingga 170 kilometer dengan kecepatan Mach 4 atau dua kali kecepatan maksimum Su-27 sendiri. Namun, memang dibanding dengan F-16 harga Su-27 "sedikit" lebih mahal. Satu unit Su-27 dijual sekitar US$ 30-40 juta. Sedangkan, F-16 sekitar US$ 25 juta. Jadi, jika serius membeli Su-27 satu skadron, pemerintah harus mempersiapkan duit US$ 360 juta. Itu baru dengan asumsi harga Su-27 yang terendah.
Su-27 memiliki banyak sepupu. Di antaranya adalah Su-27K Sea Flanker, Su-30, Su-35, dan yang paling canggih Su-37 Super Flanker. Pada 1997-2000 Rusia memberi lisensi kepada Cina untuk membuat 200 unit Su-27. Selama periode itu, Cina memproduksi 40 unit Su-27 per tahun. Cina juga tercatat sebagai pemakai Sukhoi terbanyak di luar Rusia. Selain Rusia dan Cina, hingga kini pengguna pesawat Sukhoi adalah Belarusia, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, Hongaria, Jerman, Irak, Iran, Suriah, Yaman, Libia, Aljazair, Afghanistan, Angola, Etiopia, Peru, Korea Utara, India, Kazakhstan, Ukrania, dan Vietnam. Selain Indonesia, Rusia juga tengah giat menawarkan Su-27 ke Malaysia.(ZAQ/Fransambudi dan Erwin)