Hantu Maut dari Guangdong

Wabah SARS menyebar dari Guangdong, Cina. Penyakit akibat coronavirus ini menjangkiti 2.483 orang di 20 negara dan menewaskan 89 penderita. Jangan membeli masker yang bukan standar.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 April 2003, 09:16 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Perang memang dahsyat dan menimbulkan korban jiwa, namun ada yang lebih mengerikan: wabah penyakit yang menular cepat dan dapat merenggut nyawa si penderita dalam hitungan hari. Tak heran, bila dalam tiga pekan terakhir, tayangan Perang Teluk II mendapat tandingan dari pemberitaan mengenai penyebaran wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut di sejumlah negara [baca: SARS Menghantui Dunia].

Bayangkan, sejak November 2002 hingga 6 April 2003, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa wabah yang penularannya melalui udara dan kontak langsung dengan penderitanya itu telah tersebar ke 20 negara di empat benua. WHO juga mencatat, dari 2.483 kasus ada 89 penderita yang terinfeksi SARS telah meninggal dunia. Kasus terbanyak dijumpai di Cina dengan 1.220 penderita dan 49 orang mati. Disusul kemudian Hongkong (800 penderita, 20 meninggal dunia), Amerika Serikat (115 terinfeksi, minus mati), dan Singapura (101 terjangkit, enam mati). Urutan berikutnya adalah Vietnam dengan 59 kasus dan empat penderita SARS meninggal dunia.

Sedangkan di Indonesia, Departemen Kesehatan RI belum memastikan ada penderita SARS. Sejauh ini, baru 15 orang yang sedang dalam perhatian serius karena diduga terinfeksi SARS. Rincinya, sebanyak 13 kasus terdapat di Jakarta, seorang di Batam dan satu lagi di Semarang, Jawa Tengah. Sumber di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, menyatakan, hingga kini setidaknya ada enam pasien yang mengalami sejumlah gejala awal SARS [baca: Belasan Orang Diduga Terserang SARS].

Angka-angka tersebut memang menyeramkan. Tapi tak usah panik. Hal penting yang perlu dicermati adalah kewaspadaan dan turut menangkal penyebaran virus mematikan tersebut. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, Amerika Serikat, SARS biasanya dimulai dengan demam yang melebihi 38 derajat Celcius. Demam kadang-kadang disertai keadaan menggigil. Gejala lainnya adalah sakit kepala, kaku otot, tak nafsu makan, lesu, dan kemerahan pada kulit, dan diare.

Lebih gawat lagi, bila si penderita sulit bernapas, atau malah butuh bantuan oksigen. Setelah tiga sampai tujuh hari, penderita mungkin mengalami batuk kering tidak berdahak yang lama-kelamaan menimbulkan kekurangan oksigen dalam darah. Buktinya, 10 sampai 20 persen penderita memerlukan alat bantu pernapasan. Sedangkan saat paling berbahaya untuk menularkan virus adalah ketika si penderita mulai kesulitan bernapas.

Kendati demikian, jangan keburu panik. Bila memang mengalami gejala-gejala tersebut si penderita dianjurkan segera berobat ke rumah sakit atau poliklinik terdekat. Bukan apa-apa, soalnya tak semua orang yang terinfeksi virus itu akan berkembang menjadi pneumonia SARS. Buktinya, data statistik menunjukkan bahwa 80 persen penderita pneumonia SARS akan sembuh. Hanya 20 persen yang berubah menjadi kasus yang berat, serta sebanyak empat persen penderita SARS meninggal dunia.

Adalah Provinsi Guangdong, Cina, yang diduga daerah endemi pertama sindrom pernapasan akut parah itu pada November 2002. Tiga bulan kemudian, seorang dokter Cina yang terjangkit penyakit SARS berkunjung ke Hongkong. Ia menginap di lantai sembilan Hotel Metropole, Hongkong. SARS kemudian menyebar dengan cepat ke Vietnam, Kanada, dan Singapura. Ironisnya, dokter Carlo Urbani--ahli menular dari WHO dan orang pertama yang mengidentifikasi wabah sindrom pernapasan akut parah itu--akhirnya meninggal dunia akibat penyakit yang ditelitinya.

Mantan Ketua Medecins Sans Frontieres, Italia, ini menjelang akhir hayatnya memang menangani Program Kesehatan Masyarakat WHO di Kamboja, Laos, dan Vietnam. Akhir Februari 2003, ayah tiga anak itu dilaporkan mengidentifikasi SARS sebagai pneumonia atipikal yang tak diketahui penyebabnya pada pengusaha AS yang dirawat di sebuah rumah sakit di Hanoi, Vietnam.

WHO kemudian mengumumkan kewaspadaan global terhadap ancaman SARS pada 15 Maret silam. Berkat hal itu banyak kasus SARS berhasil diidentifikasi dan diisolasi sebelum menular ke tenaga kesehatan rumah sakit. Satu di antara cara menangkal virus SARS adalah menggunakan masker. Namun perlu diperhatikan, tak semua masker dapat menahan virus penyakit tersebut. Sebaiknya memakai masker seperti merek 3-M dengan standar N-29--yang dapat menahan masuk bakteri berukuran 0,01 mikron. Untuk petugas kesehatan, WHO menganjurkan agar juga menggunakan kacamata jika menangani pasien yang diduga menderita SARS.

Anehnya, entah panik atau tidak, banyak warga Jakarta memburu masker atau penutup mulut dan hidung ke apotek-apotek. Persediaan di apotek habis sekejap, mereka pun menyerbu toko-toko yang menyediakan alat itu. Tengok saja, Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Saat ini, harga masker di sana berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per boks. Sedangkan harga eceran sekitar Rp 50 ribu per buah. Padahal sebulan silam, harga per boks hanya sekitar Rp 250.000. Memang warga yang berkantong tebal mampu membeli masker anti-SARS. Akan tetapi, warga yang berkantong cekak justru memilih masker murah yang belum tentu mengamankan mereka dari serangan virus impor yang menakutkan tersebut [baca: Virus SARS Mewabah, Masker Laris Manis].

Jauh sebelumnya, kepanikan serupa juga melanda Hongkong dan Singapura. Tak heran, banyak orang tampak menggunakan pelindung hidung dan mulut itu di sejumlah tempat umum, seperti pasar hingga bandar udara. Bak jamur di musim hujan, kepanikan global pun menggejala di sejumlah negara, terutama yang wilayahnya berdekatan dengan negara endemi SARS. Di Batam, misalnya. Ada isu dan rumor yang berkembang di masyarakat bahwa ramuan cuka dan bawang putih efektif dalam menangkal serangan wabah SARS. Namun, ramuan yang dikabarkan diterima sejumlah warga melalui pesan singkat (SMS) dari Singapura itu segera ditanggapi seorang dokter kenamaan di Batam. Menurut dia, secara medis ramuan tersebut belum bisa dibuktikan keampuhannya menangkal virus SARS.

Ramuan murah meriah juga disodorkan ahli darah Profesor dokter A.G. Soemantri. Ketua Unit Transfusi Darah Cabang Palang Merah Indonesia Kota Semarang, Jateng, ini menyarankan masyarakat mengkonsumsi masakan kacang hijau dicampur ketela rambat yang bergizi tinggi dan mengandung vitamin B dan C. Ahli darah ini mengungkapkan, resep itu diperoleh dari rekan seprofesi di Singapura. Caranya? Satu liter air dimasak hingga mendidih, lalu dimasukkan satu genggam kacang hijau sambil terus diaduk hingga empuk. Ketela rambat yang dipotong kecil-kecil dicampurkan dan ditambah gula merah secukupnya.

Upaya ahli darah asal Semarang itu memang patut dihargai. Namun, WHO merekomendasikan agar para penderita segera diisolasi atau dikarantina. Sayangnya, mobilitas manusia ditunjang kemudahan transportasi membuat upaya identifikasi dan isolasi kalah cepat ketimbang penyebaran virus SARS. SARS yang diduga mulai berkembang di Guangdong, itu merambah dari Asia ke AS, Kanada, dan Jerman. Setelah Jerman, giliran Rumania, Prancis, Belgia, Italia, Irlandia, Inggris, dan Swiss mendapat kasus SARS. Para penderita tertular penyakit SARS dari perjalanan luar negeri yang dilakukan. Hal serupa terjadi di Australia dan Brasil.

Ketakutan terkena wabah SARS melalui perjalanan udara jelas memukul sejumlah maskapai penerbangan internasional. Sebab, banyak wisatawan maupun pebisnis yang mengurungkan kunjungan ke berbagai dunia, terutama menuju negara-negara yang selama ini dikenal sebagai negara endemis, misalnya Cina, Vietnam, Hongkong, dan Singapura. Kalangan bisnis Indonesia juga terpukul. Apalagi, empat negara itu sangat vital bagi dunia usaha nasional. Di empat negara itulah para pengusaha nasional banyak melakukan transaksi kontrak pembelian komoditas tekstil, sepatu, kredit perbankan, maupun pembukaan letter of credit (L/C). Selain itu para pengusaha nasional juga mengadakan pertemuan di Hongkong maupun Singapura untuk membuat kesepakatan pembelian bahan baku, produk setengah jadi, maupun menjadikan kedua negara itu sebagai pasar transit untuk komoditas ekspor ke Eropa maupun AS.

Terlebih lagi, 2 April silam, WHO telah merekomendasikan agar setiap orang menunda perjalanan ke Hongkong dan Provinsi Guangdong, Cina, jika tidak sangat mendesak untuk meredam penyebaran SARS. Pasalnya, pola penularan SARS di Hongkong berbeda dengan wilayah lain dan sampai kini belum sepenuhnya dipahami. Selain penularan akibat kena percikan batuk atau bersin penderita, diduga ada faktor lingkungan lain yang berperan. Namun belum ada penjelasan memuaskan mengenai dugaan itu.

Beberapa hari sebelumnya, WHO dan sejumlah laboratorium jaringannya memang bekerja keras mengungkap penyebab SARS untuk mengetahui jenis virus dan obat yang sesuai. Para ilmuwan Hongkong mengidentifikasi penyebab SARS sebagai virus dari keluarga paramyxoviridae. Seminggu kemudian, tepatnya 25 Maret silam, Pusat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (CDC) di Atlanta, AS, mengumumkan bahwa penyebab SARS pada dua pasien di AS adalah virus coronavirus.

Setelah teridentifikasi, para ilmuwan kemudian memfokuskan penelitian pada paramyxovirus dan coronavirus. Sesudah menyelaraskan kultur sel dan metode pemeriksaan virus dengan reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) para ilmuwan sepakat penyebab SARS adalah keluarga coronavirus. Konfirmasi dikemukakan CDC, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hongkong, dan Hamburg Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine. Nama SARS sempat diusulkan diganti dengan Pneumonia Coronavirus (CVP). Namun, karakteristik virus tidak sama dengan coronavirus yang selama ini diketahui menyerang manusia maupun binatang. Diduga merupakan strain baru hasil mutasi virus yang ditularkan binatang ke manusia.

Saat ini para ilmuwan yang tergabung dalam jaringan laboratorium WHO bekerja keras untuk mengembangkan tes diagnostik. Diharapkan dalam waktu dekat bisa digunakan di negara lain di dunia. Berdasarkan penelitian sementara, masa inkubasi ditetapkan dua sampai 10 hari. Penularan terjadi lewat kontak erat dengan penderita akibat percikan cairan waktu berbicara, batuk, maupun bersin. Penularan lewat ventilasi udara atau pendingin udara dalam satu kendaraan atau gedung tak terjadi asal tidak dekat dengan penderita dalam radius dua meter.

Virus ini mampu bertahan tiga jam di udara terbuka dan sensitif terhadap alkohol. Untuk mencegah penularan selain penggunaan masker juga dengan sering mencuci tangan serta mengelap benda-benda yang mungkin tertempel virus dengan alkohol. Karena virusnya belum dipahami betul dan masih terus diteliti, pengobatan dilakukan sebagaimana pengobatan pneumonia atipikal. Jika ada bakteri pasien diberi antibiotika. Selain itu digunakan antivirus seperti oseltamivir atau ribavirin dikombinasikan dengan steroid untuk memperbaiki keadaan umum. Pasien juga bisa diberi terapi suportif seperti infus, oksigen, serta alat bantu pernapasan (ventilator).

Lantaran virus belum dipahami betul, maka vaksin belum bisa dibuat. Yang bisa dilakukan untuk menolak virus adalah memperkuat kondisi tubuh dengan makan makanan bergizi, cukup olah raga, dan cukup istirahat. Jika sistem kekebalan tubuh prima, virus yang masuk dengan mudah akan dikalahkan.

Meski tak serupa, sejumlah wabah influenza mematikan seperti SARS memang beberapa kali pernah menghantui penduduk dunia. Sejatinya, influenza atau flu pertama kali ditemukan oleh Hippocrates, pada 412 Sebelum Masehi sebagai virus yang memiliki kemampuan bermutasi terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Sejarah juga mencatat, wabah influenza yang paling hebat adalah Flu Spanyol pada 1918, yang memakan korban sebanyak 20-40 juta jiwa. Setelah itu berturut-turut Flu Asia (1957), Flu Hongkong (1968), dan Flu Rusia (1977). Satu di antara upaya untuk memerangi flu adalah membuat vaksin dari campuran protein-protein pada permukaan virus yang berfungsi merangsang sistem kekebalan tubuh.

Vaksinasi memang penting, namun sebelum ditemukan serumnya setiap negara mesti berupaya keras menangkal wabah SARS. Seribu satu jurus pun dikeluarkan pemerintah Indonesia. Sebagai negara yang bertetangga dengan wilayah-wilayah terjangkit SARS dan banyaknya gerbang masuk, pemerintah Indonesia akhirnya mengumumkan SARS sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Keluarlah pengumuman dalam bentuk Surat Keputusan Menkes Achmad Sujudi Nomor 424 tertanggal 3 April 2003. SK yang ditandatangani Menteri Kesehatan Achmad Sujudi itu juga dilampiri Pedoman Penanggulangan SARS dan menjadi landasan penerapan Undang-undang Nomor 4/1984 tentang Wabah Penyakit Menular [baca: Undang-undang Wabah Penyakit Menular Diberlakukan].

Penerapan UU itu memungkinkan orang-orang yang menjadi kasus tersangka SARS untuk dikarantina. Mereka yang bertanggung jawab dalam lingkungan tertentu yang mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita wajib segera melaporkan ke aparat pemerintah atau Kepala Unit Kesehatan terdekat. Pelanggaran terhadap upaya penanggulangan wabah diancam hukuman kurungan hingga satu tahun atau denda maksimal Rp 1 juta.

Antisipasi terhadap wabah SARS juga diterapkan di sejumlah bandara internasional di Indonesia, termasuk beberapa pelabuhan utama di Tanah Air. Selain itu, petugas bandara juga membagikan kartu waspada kesehatan bagi penumpang sekaligus menyiagakan tim dokter. Tak cuma itu, pemerintah Indonesia juga menyiapkan 15 rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia untuk menangani penderita SARS dengan biaya ditanggung Depkes. Peralatan untuk merawat pasien pun telah didistribusikan ke sejumlah rumah sakit di Tanah Air, termasuk di RSIP Sulianti Saroso, Jakut.

Sedangkan di RS Persahabatan, Jakarta Timur, tengah dipersiapkan sebuah ruangan isolasi khusus untuk penderita SARS dilengkapi fasilitas perawatan berstandar WHO. Bagi para penderita yang datang ke RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, hanya diperkenankan dirawat di Ruang Unit Gawat Darurat. Selanjutnya, pasien harus merujuk ke RSIP Sulianti Saroso atau RS Persahabatan. Bagaimana pun, pencegahan lebih baik ketimbang pengobatan yang tentunya memerlukan energi ekstra.(ANS)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya