Liputan6.com, Jakarta: Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin pesimistis pemerintah mampu mencapai pertumbuhan ekonomi empat persen pada 2003. Ada sejumlah faktor yang membuat target pertumbuhan ekonomi di Tanah Air pada 2003 sulit tercapai. Demikian diungkapkan Syahril di Jakarta, baru-baru ini.
Syahril menuturkan, faktor pertama yang membuat pertumbuhan ekonomi tak sesuai target adalah agresi militer Amerika Serikat ke Irak. Menurut dia, perang di Negeri 1001 Malam akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Terlebih lagi, jika perang berlangsung lama. Bila ini terjadi, kata Syahril, akan mempengaruhi ekspor Indonesia. Asal tahu saja, saat ini, secara keseluruhan, ekspor banyak negara di dunia berjalan lambat. Akibatnya, bidang ekspor yang selama ini diharapkan menjadi satu di antara sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi negara--terutama ke Jepang, AS, dan Korea Selatan--tak bisa lagi diharapkan. Syahril memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2003 hanya sekitar 3,5 persen.
Khusus untuk kawasan Asia, Syahril menambahkan, Indonesia bisa berharap mengekspor produknya ke Cina yang diharapkan memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi. Sayangnya wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut parah yang melanda Negeri Tirai Bambu (selain Singapura dan sejumlah negara lainnya) diperkirakan membuat tingkat pertumbuhan ekonomi di Cina juga akan tersendat.
Di tempat terpisah, pengamat ekonomi Umar Juoro memperkirakan, perang AS-Irak dan wabah SARS membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2003 hanya tiga persen. Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di Tanah Air masih didorong konsumsi dalam negeri. Itu pun masih terancam bila tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah tak bisa dikendalikan pemerintah. Umar menyarankan kalangan perbankan segera menyalurkan kredit ke sektor riil, seperti bidang retail yang tetap memiliki potensi untuk tetap tumbuh. Langkah ini juga dianggap Umar bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Sementara di sektor ekspor dan investasi, Umar menilai, belum bisa diharapkan. Alasannya, dunia tengah terancam resesi ekonomi sebagai dampak perang AS-Irak.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Syahril menuturkan, faktor pertama yang membuat pertumbuhan ekonomi tak sesuai target adalah agresi militer Amerika Serikat ke Irak. Menurut dia, perang di Negeri 1001 Malam akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Terlebih lagi, jika perang berlangsung lama. Bila ini terjadi, kata Syahril, akan mempengaruhi ekspor Indonesia. Asal tahu saja, saat ini, secara keseluruhan, ekspor banyak negara di dunia berjalan lambat. Akibatnya, bidang ekspor yang selama ini diharapkan menjadi satu di antara sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi negara--terutama ke Jepang, AS, dan Korea Selatan--tak bisa lagi diharapkan. Syahril memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2003 hanya sekitar 3,5 persen.
Khusus untuk kawasan Asia, Syahril menambahkan, Indonesia bisa berharap mengekspor produknya ke Cina yang diharapkan memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi. Sayangnya wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut parah yang melanda Negeri Tirai Bambu (selain Singapura dan sejumlah negara lainnya) diperkirakan membuat tingkat pertumbuhan ekonomi di Cina juga akan tersendat.
Di tempat terpisah, pengamat ekonomi Umar Juoro memperkirakan, perang AS-Irak dan wabah SARS membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2003 hanya tiga persen. Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di Tanah Air masih didorong konsumsi dalam negeri. Itu pun masih terancam bila tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah tak bisa dikendalikan pemerintah. Umar menyarankan kalangan perbankan segera menyalurkan kredit ke sektor riil, seperti bidang retail yang tetap memiliki potensi untuk tetap tumbuh. Langkah ini juga dianggap Umar bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Sementara di sektor ekspor dan investasi, Umar menilai, belum bisa diharapkan. Alasannya, dunia tengah terancam resesi ekonomi sebagai dampak perang AS-Irak.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)