Rawan Hoaks Jelang Pemilu 2024, Mari Cermat saat Membaca Informasi 

Liputan6.com menggelar Virtua Class dengan tema " Tantangan Pemilu 2024: Hoaks Berulang, Kenapa Warga Masih Percaya?”.

oleh Anasthasia Yuliana WinataDiterbitkan 27 Februari 2023, 20:30 WIB
Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) berinteraksi dengan warga saat melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih untuk Pemilu 2024 di rumah warga di Beki, Depok, Jawa Barat, Minggu (26/2/2023). Komisi Pemilihan Umum (KPU) di semua wilayah Indonesia melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih dengan datang dari rumah ke rumah guna mengantisipasi ketidaksesuaian data Pemilu 2024. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pemilu 2024 semakin dekat. Tantangan hoaks berulang juga masih ada. Hal ini ditegaskan oleh Nuri Sadida, PhD Researcher Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda pada program Virtual Class bertajuk “Tantangan Pemilu 2024: Hoaks Berulang, Kenapa Warga Masih Percaya?” yang diselenggarakan oleh Liputan6.com, (24/22023).

"Sangat besar (potensi hoaks jelang pemilu 2024) karena dari kajian yang sudah saya lakukan (menunjukkan) jelang pemilu pasti hoaks meningkat jumlahnya,” ujar Nuri.

Di era banjir informasi, di internet kita perlu skeptisisme dan verifikasi atas informasi yang ditemukan. Apalagi menjelang Pemilu 2024 yang berpotensi maraknya informasi hoaks. Maka itu, kata Nuri, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mendapat informasi agar terhindar dari hoaks.

Dalam Virtual Class yang juga dihadiri Komisioner KPU Idham Holik, sebagai narasumber lainnya, Nuri menyebut, langkah awal mencermati informasi dapat dilihat dari judul berita. “Judul beritanya berbau clickbait atau tidak, yang membuat kita menjadi penasaran atau marah itu harus kita perhatikan,” Nuri menjelaskan.

Selain itu dari segi penggunaan bahasa juga perlu diperhatikan. Nuri menerangkan, sebagai pembaca kita dapat mencermati, informasi di berita menggunakan bahasa formal atau tidak, mencantumkan referensi yang sah atau tidak, atau  mencantumkan link yang benar atau tidak.

“Jangan sampai terkecoh dengan hal-hal yang seperti itu…,” Nuri menegaskan.

 

Perhatikan Kata-Kata yang Sensasional

PhD Researcher Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda, Nuri Sadida, saat tampil sebagai narasumber pada program Virtual Class bertajuk “Tantangan Pemilu 2024: Hoaks Berulang, Kenapa Warga Masih Percaya?” yang diselenggarakan Liputan6.com, (24/2/2023). (Istimewa)

Untuk mengidentifikasi informasi itu fakta atau hoaks dapat dilakukan dengan memperhatikan penggunaan katanya. Nuri menekankan salah satu ciri berita hoaks itu biasanya kalimatnya mengandung kata-kata yang sensasional dan emosional yang membuat pembaca merasa emosi, terancam, atau marah. 

“Ketika kita membaca sebuah informasi dan respons emosi yang paling pertama kita rasakan itu misalnya merasa terancam, marah, bisa jadi itu ciri-ciri berita hoaks,” tegas Nuri.

Selain itu, Nuri juga memberi penekanan bahwa perlu adanya verifikasi lanjutan terkait kebenaran informasi tersebut.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya