Kepada El Mundo Deportivo, pemain kelahiran Como, Italia, 19 Februari 1977, itu, bertutur tentang skandal pengaturan skor di Italia, proyek pembinaan tim muda, dan kenangan bersama tim nasional Italia. Berikut petikannya:
Apa yang membuat Anda mengunjungi Barcelona?
Banyak hal. Barca dan Barcelona selalu ada dalam hati saya. Meskipun saya tidak memenangkan satu gelar pun selama dua tahun berada di sana, saya tetap memiliki kenangan yang indah. Saya tetap menjalin kontak dengan pemain seperti Puyol, Xavi...
Saat Anda pergi, Barca menorehkan periode terbaiknya sepanjang sejarah...Apakah Anda menyesal tak melewati tahun-tahun menakjubkan itu?
Secara logis saya kira itu betul. Tapi dalam hidup Anda tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Saya menghabiskan dua tahun yang berat di sana...dan saya harus menyelesaikan masalah hidup saya di Italia. Jika tidak, saya pasti bertahan karena memiliki sisa dua tahun kontrak. Hidup terkadang meminta Anda melompati beberapa tantangan. Di sana masih ada dua tahun yang bisa saya gunakan untuk meraih gelar, tapi yang terpenting adalah pengalaman.
Di Barca saat itu ada Ronaldinho, Eto'o, Deco, juga Messi. Apakah mereka mendekati siklus kejayaan?
Tentu. Kami memiliki tim yang spektakuler, juga Henry, Xavi, dan Iniesta...di tahun kedua kami memiliki persoalan mental dan itulah sebabnya klub melakukan sejumlah perubahan.
Saat ini, apa kegiatan Anda?
Saya sudah menjalani dua level kursus kepelatihan, dan sekarang akan mengambil kursus ketiga bersama Cannavaro, Materazzi, Inzaghi, Crespo...Kami akan berada di Florence, Juni nanti, dan kami akan menghadapi ujian akhir. Saya juga punya proyek olahraga untuk anak m