Keindahan Babylonia di Tengah Ancaman Perang

Seperti Menara Babel yang pernah hancur dan tinggal nama, demikianlah Kota Babylonia terancam perang. Kota bersejarah ini hanya satu jam perjalanan darat jauhnya dari Baghdad.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 Maret 2003, 08:45 WIB
Liputan6.com, Babylonia: Mungkinkah generasi mendatang masih bisa menikmati keanggunan dan kemegahan Kota Babylonia, Irak, sebagai peninggalan kejayaan di masa lampau? Tak ada yang bisa memastikan. Kenyataannya, kota yang terletak sekitar satu jam perjalanan darat dari Kota Baghdad itu kini terancam hancur akibat gempuran pasukan militer Amerika Serikat dan koalisinya. Beberapa waktu silam sebelum perang AS-Irak meletus, reporter SCTV Trie Ambarwati dan Teguh Rahardjo sempat merekam keadaan kota itu, termasuk bangunan-bangunan bersejarahnya yang berumur ribuan tahun.

Babylonia diyakini sebagai kota tertua di dunia yang terkenal dengan keindahannya. Tidak ada yang tahu pasti kapan kota itu berdiri. Sebagian kalangan menyebut, kota itu sebagai peninggalan Dinasti Babylonia Lama yang diperbaharui kembali oleh Raja Nebuchadnezzar dari Dinasti Neo-Babylonia. Pendapat itu diperkuat dengan Hanging Garden atau Taman Gantung Babylonia yang dibangun Nebuchadnezzar untuk permaisurinya, Amites. Taman itu terletak berseberangan dengan patung Singa Babylon, simbol penjaga kota di zaman Nebuchadnezzar.

Di zaman Kerajaan Sumeria pada 4500-2000 Sebelum Masehi, Babylonia dikenal dengan nama Kadinyirra yang berarti "Gerbang Tuhan". Di sanalah terdapat Menara Babel, simbol keangkuhan manusia juga diyakini berada di Babylonia. Menara yang muncul pada masa Kerajaan Sumeria itu bahkan tercantum dalam Alkitab sebagai penyebab kemurkaan Tuhan terhadap umat manusia.

Jalan terpenting di Babylonia dinamakan Jalan Prosesi. Jalan yang panjangnya lebih dari 2,5 kilometer itu menghubungkan banyak tempat di Kompleks Babylonia. Di antaranya Gerbang Ishtar, Istana, Menara Babilon serta Jembatan. Selain itu, masih ada Kuil Ninmakh yang diekskavasi pada tahun 1900 dan dibangun kembali pada tahun 1958. Kuil itu adalah kuil persembahan bagi ibu para dewi.

Kompleks Kota Raja di Babylonia yang luasnya mencapai 21 kilometer persegi kini telah direstorasi. Di antaranya, sebuah istana di dekat Sungai Efrat yang luasnya mencapai 52 ribu meter persegi. Bagian selatan istana ini masih berfungsi hingga dua abad Sebelum Masehi untuk berbagai kegiatan hukum dan administatif kerajaan. Kerajaan Sumeria hancur pada 1700 SM. Setelah itu rakyat di wilayah itu disatukan oleh Raja Hammurabi. Di masa kekuasaan raja inilah ditemukan undang-undang yang diyakini sebagai yang tertua di dunia. Yakni soal cara berdagang, cara berperang, cara beribadah, dan satuan-satuan ukuran.

Di Babylonia juga terdapat Ziggurat, bangunan tertinggi se-Babylonia terdiri dari tujuh tingkat dan tiga tangga. Sayangnya, tim arkeologi belum berhasil mengekskavasi menara itu. Ziggurat disebut juga Etemenanki. Artinya, lambang perantara surga dan bumi. Selain yang sudah ditulis di atas, masih ada sejumlah peninggalan bersejarah di kota ini yang belum terjamah [baca: Babylonia, Kota Yang (Hampir) Dilupakan]. Berharap saja, perang AS-Irak segera usai agar kota bernilai seni tinggi ini tak tinggal nama. Juga yang lebih penting lagi agar rakyat Irak tak lagi sengsara.(MTA)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya