Nicholas Saputra Merinding Bermain &quotBiola Tak Berdawai

Jika biola tak berdawai, dengan apakah dia menghasilkan nada indah seperti seharusnya dia ada? Tonton saja di film "Biola Tak Berdawai" mulai 4 April nanti di bioskop-bioskop Ibu Kota.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Maret 2003, 08:21 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ada tubuh-tubuh terlahir cacat. Ada raga-raga yang sempurna didiami jiwa nan kosong. Saat keduanya berpadu, lahirlah sebuah hakikat yang membuahkan pengenalan akan cinta bagi pelakon-pelakonnya. Di situlah Ria Irawan, Nicholas Saputra, dan Jajang C. Noer menggapai-gapai dawainya yang hilang untuk bisa memainkan nada indah kehidupan. Dan, Sekar Ayu Asmara sang sutradara, membantu mewujudkannya dalam "Biola Tak Berdawai".

"Saya harus berlatih biola sampai 1,5 bulan demi mendalami peran ini," kata Nico--panggilan Nicholas--yang berakting sebagai Bisma, seorang pria cacat mental yang jatuh cinta pada Renjani pengasuhnya yang dimainkan Ria Irawan. Cowok Bandung yang masih berumur 19 tahun ini pun harus berusaha agar tampak seperti lelaki berusia 23 tahun, di antaranya dengan menumbuhkan kumis. Kendala lain, menurut pria yang berulang tahun saban 24 Februari ini, selain harus berakting ciamik, juga pergulatan jiwa saat pertama kali mengetahui harus berlaga akting dengan artis sekaliber Ria dan Jajang. "Aku sampai merinding main bersama mereka," kisah Niko saat berdialog dengan Bayu Sutiyono dan Nunung Setiyani di Studio SCTV Jakarta, Ahad (23/3) pagi.

Kalau Nico getol berlatih biola, Ria lain lagi. Perempuan yang mengaku sedang ikut pendidikan program S-2 di Institut Bisnis Manajemen Indonesia ini langsung riset ilmu psikologi menghadapi anak cacat. Hasilnya, dibanding Nico dan pemain lainnya, dia terbukti lebih gampang beradaptasi dengan "anak-anak asuhnya" yang satu di antaranya memang benar-benar cacat.

Diakui Ria, sinema bernuansa musik ini memang menarik. Pertama kali ditawari main, dia langsung tertarik. Apalagi saat itu, Ayu sendiri yang membacakan skenario dan menggambarkannya dengan dramatis. "Membuat saya tak punya alasan untuk menolaknya," kata kelahiran Jakarta, 24 Juli 1969 yang sudah jadi bintang film sejak kanak-kanak ini. Tapi, Ria meneruskan, setelah mengetahui Nico menjadi lawan main, dia sempat memicingkan sebelah mata. "Saya sempat pesimis. Sepertinya anak ini [Nico] cuma modal tampang ganteng doang. Tapi pas syuting...," Ria melanjutkan dengan belalakan mata yang menyiratkan kekaguman pada si Rangga dalam "Ada Apa dengan Cinta" itu.

Akting Nico dan Ria dalam film produksi PT Kalyana Shira Film ini terbukti memikat. Setidaknya begitulah kata Ria, pendapat para penonton yang menonton premiere sinema tersebut di Jakarta, beberapa hari silam. Rata-rata, tambah Ria yang mengaku tak mempermasalahkan honor dalam film ini, mereka tidak bisa menebak akhir ceritanya.

Entah apa yang mengilhami Ayu. Tapi menurut seniman yang juga memproduseri film "Ca Bau Kan" ini, tak ada kejadian atau apapun yang menginspirasikannya. Suatu hari dia sedang duduk-duduk santai, dan tiba-tiba saja cerita datang dan mengalir begitu saja lewat jari-jarinya. "Saya hanya berusaha membuat cerita yang dimengerti banyak orang. Tapi yang jarang diceritakan," jelas wanita bersuara mirip lelaki itu. Yang pasti, lanjut Ayu, kisah ini adalah sebuah metafora tentang bagaimana jiwa-jiwa yang kosong berusaha menemukan isinya, seperti biola-biola telanjang mencari dawainya.

Dalam sinema ini, Jajang berperan sebagai Mbak Wied, seorang dokter berpenampilan eksentrik yang bersama-sama Renjani mengelola rumah asuh bagi anak-anak cacat di Yogyakarta. Renjani yang dulunya penari balet, mengabdikan dirinya bagi bocah-bocah yang dibuang orangtua karena pengalamannya yang pernah dikecewakan cinta. Film ini semakin menyentuh saat Dicky Lebrianto, seorang anak yang benar-benar cacat ikut berperan sebagai anak asuh Renjani bernama Dewa.

Suatu hari, rumah asuh itu kedatangan anggota baru yang tak lain adalah Bisma sang pemain biola. Nah, disinilah Bisma yang tak pernah mengenal asmara mulai tertarik pada Renjani. Mereka bertemu kala Renjani mengajak Dewa menonton resital kuartet biola untuk tujuan terapi. Dari momentum itu, hubungan mereka berlanjut. Cinta pun bersemi dibalut nuansa muram nan dramatis. Dengan gambar-gambar indah dan musik orkestra yang digarap Addie M.S., jadilah sinema ini sebagai satu di antara yang layak anda perhitungkan. Saksikan penayangannya di bioskop-bioskop Jakarta mulai 4 April mendatang.(MTA)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya