Kaleidoskop 2022: Pecco Bagnaia dan Ducati, Simbol Kebangkitan di MotoGP

Pecco Bagnaia akhiri penantian 15 tahun Ducati untuk kembali juara di MotoGP. Keberhasilannya berjalan dramatis karena ada momen naik dan turun.

oleh Defri SaefullahDiperbarui 28 Desember 2022, 15:17 WIB
Pembalap Ducati Lenovo Team, Pecco Bagnaia, berhasil meraih titel juara dunia MotoGP 2022 meski hanya finis di urutan sembilan MotoGP Valencia di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Minggu (6/11/2022) malam WIB. (AFP/JAVIER SORIANO)

Liputan6.com, Jakarta MotoGP 2022 awalnya diharapkan menjadi momentum kebangkitan Marc Marquez dengan Repsol Honda. Setelah bergelut cedera pada 2020 dan 2021, Marquez diharapkan bisa bersaing lagi sekaligus rebut gelar juara yang ke-7.

Niat besar Honda tak kesampaian. Begitu juga dengan Marc Marquez. Saat sesi pramusim, keluhan-keluhan mulai dirasakan Marc Marquez.

Uniknya justru pembalap kedua Pol Espargaro yang tampil menjanjikan di awal MotoGP 2022. Dia langsung meraih podium di MotoGP Qatar yang berlangsung 5 Maret 2022 lalu.

Marquez pun menatap MotoGP 2022 lebih positif. Namun baru seri kedua, Marquez sudah sial karena kecelakaan parah highside di sirkuit Mandalika pada MotoGP Indonesia.

Kecelakaan ini membuat Marquez harus dioperasi lengan kanannya untuk keempat kali. Cerita perjuangan Marquez untuk jadi juara pun berakhir.

Fokus publik langsung dialihkan kepada dua pembalap yaitu Fabio Quartararo, pembalap Monster Energy Yamaha dan Francesco Bagnaia.

Maklum, kedua pembalap ini juga saling bersaing di MotoGP 2021. Rupanya, Bagnaia kalah cepat lagi dari Fabio Quartaro hingga seri kelima.

Francesco Bagnaia baru bisa menang di seri enam pada MotoGP Spanyol.Hasil ini menumbuhkan semangat Bagnaia untuk mengejar defisit pada juara dunia. Sebelum Jerez, Bagnaia gagal naik podium pada lima seri yang berlangsung. Capaian terbaik sosok asal Italia itu sebelumnya adalah menduduki peringkat lima di Argentina dan Amerika Serikat.

 

Bagi Bagnaia, gelar juara dunia MotoGP tahun ini menjadi gelar pertamanya selama mengaspal. Pada klasemen akhir, Pecco Bagnaia mendulang 265 poin, unggul 17 angka dari Fabio Quartararo yang menorehkan 248 angka. (AP/Alberto Saiz)

Padahal Pecco Bagnaia mampu memenangkan empat dari enam balapan terakhir MotoGP 2021. Performa tersebut membuatnya difavoritkan jadi juara dunia musim ini.

"Saya merasa sudah kembali ke kondisi terbaik seperti tahun lalu. Semoga saya bisa mempertahannya," kata Bagnaia, dilansir Crash. "Tapi saya tidak boleh kehilangan poin lagi. Dari enam seri yang sudah berlangsung, saya sudah defisit 33 poin," sambungnya.

Penampilan buruk Bagnaia di awal musim ini memang cukup mencengangkan. Dia seperti terputus dari torehan bagus di seri terakhir MotoGP 2021 atau musim sebelumnya, namun kisah berikutnya sungguh luar biasa.

 


Ujian Gagal Finis Beruntun

Insiden horor mewarnai jalannya balap MotoGP Catalunya 2022 pada Minggu (05/06/2022) malam WIB. Pebalap LCR Honda, Takaaki Nakagami terjatuh usai ban motor depannya selip ketika mengerem di tikungan pertama. Bahkan, kepalanya sempat membentur roda belakang pebalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia. (AFP/Pau Barrena)

Pecah telur kemenangan di MotoGP Spanyol tak serta merta membuat Bagnaia tancap gas. Toh di MotoGP Prancis, dia malah gagal finis karena terjatuh.

Lanjut Baca:

Saat itu, klasemen dikuasai Fabio Quartararo dan Enea Bastianini di posisi dua. Bagnaia seperti jauh dari harapan untuk menang di MotoGP 2022. Pembalap Ducati Lenovo, Pecco Bagnaia punya segalanya untuk menjuarai MotoGP Prancis yang berlangsung di sirkuit Le Mans, Minggu (15/5/2022). Namun kesalahan di lap akhir membuatnya crash saat memimpin balapan. Memulai dari pole, pembalap Ducati ini tercecer di posisi kedua di belakang Jack Miller. Dia pun berhasil menyalip MIller di lap 4 sebelum crash di lap ke-21. Insiden yang dialami Bagnaia dimulai saat pembalap Gresini Ducati, Enea Bastianini menyodok ke posisi dua. Kedua pembalap saling berkejaran sebelum Bagnaia melebar di tikungan 8. Dia sebenarnya masih bisa mengejar Bastianini. Namun ban depan motor Ducatinya sulit dikontrol sehingga harus rela tergusur ke gravel dan tidak finis. "Semuanya sempurna sebelum terjadi crash. Saya bisa mengatur ban dan cepat. Namun saat Enea lewati Miller, saya sedikit push," katanya seperti dikutip crash. "Lalu Bastianini salip saya, saya gunakan strategi seperti di Aragon saat bersaing dengan Marquez. Saya mencoba bisa susul dia lagi secepatnya, tapi melakukan kesalahan di tikungan 8." anyak yang heran dengan crashnya Bagnaia. Namun kabarnya kesalahan saat melebar membuat ban sempat dingin sehingga kehilangan grip. "Saya tak tahu kenapa. Saya melewati tikungan ke-11 lebih pelan, namun saat tiba di dua tikungan terakhir, saya crash. Saya lihat data dan sulit dimengerti. Saya marah," katanya. "Sekarang saya harus berpikir soal kesalahan itu. Saya tak bisa jadi juara kalau salah-salah lagi. Ini saatnya lebih matang." Bagnaia memenuhi janjinya untuk memperbaiki kesalahan. Dia berhasil menjadi juara di MotoGP Italia. Tapi ujian tak berhenti karena Bagnaia malah tidak finis lagi di dua balapan beruntun yaitu MotoGP Katalunya dan Jerman. Buruknya, Fabio Quartararo berhasil menjadi juara dua kali beruntun di balapan tersebut. "Quartararo adalah satu-satunya yang tidak melakukan kesalahan. Dia mengendarai Yamaha dengan benar dan membuat perbedaan," beber Bagnaia menambahkan. "Sebelumnya, saat tertinggal 66 poin saja sudah sulit. Ini jelas jauh lebih sulit sekarang," kata Bagnaia di Speedweek. "Tapi, kami masin mempunyai 10 balapan lagi dan akan berusaha untuk meraih hasil maksimal dari semua itu dan finis sebaik mungkin," kata pria yang akrab disapa Pecco itu.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya