Citizen6, Jakarta: Novel Sepatu Dahlan yang sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia itu lahir darinya. Khrisna Pabichara, penulis yang berasal dari Makassar ini baru saja merilis buku Surat Dahlan, lanjutan novel sebelumnya. Laki-laki yang mempunyai akun twitter @1bichara ini sampai sekarang masih menekuni mencintai sastra-sastra lisan kuno Makassar, seperti sinrilik, kelong, rapang, dan parupama ini mengisi seluruh hidupnya dengan menulis.
Daeng Khrisna, begitu ia biasa dipanggil, sejak kecil memang sudah menyukai dunia sastra. Pernah suatu hari pada masa bocahnya ia terlempar dari atas punggung kerbau karena keasyikan membaca. Ia tidak sadar kalau kerbaunya yang bernama I Kapila, sedang berahi.
Advertisement
Kesukaan membaca ini menurun dari keluarganya. Kakeknya yang ia kagumi, hafal naskah Bositimurung, Kappalak Tallung Batua, dan dongeng-dongeng Makassar. Ia mengaku gayanya ketika membaca puisi terinspirasi dari cara Kakek nya, Punda menuturkan royong dan rapang.
Via email, laki-laki yang juga menulis novel "Gadis Pakarena" danRahasia Pembelajar Kreatif ini membagi pengalamannya seputar dunia kepenulisan. Berikut Wawancara itu:
Saya sudah membaca "Tentang Khrisna" di http://www.bukubichara.com/, kenapa Daeng memutuskan menjadi penulis setelah berpindah-pindah profesi?
Penulis pernah menjadi impian besar saya semasa remaja. Tepatnya, semasa SMP, lantaran waktu itu saya menang dalam sebuah lomba menulis surat tingkat nasional. Itu sebabnya saya memilih Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Negeri Ujung Pandang sebagai labuhan menuntut ilmu selepas SMP.
Di lain sisi, saya termasuk orang yang menyukai ekonomi, terutama yang terkait dengan hitung-hitungan. Lantas saya putuskan untuk pindah ke SMA Muhammadiyah Sungguminasa, Gowa. Begitu pula pada saat menafkahi diri, banyak yang saya lakukan lebih karena kaitan emosional: menyukai apa yang saya lakukan. Akan tetapi, tak ada yang melampaui kesukaan saya terhadap dunia kepenulisan.
Apa arti menulis bagi seorang daeng Khrisna Pabichara?
Sederhananya, saya ingin merawat harapan mendiang kakek, Punda Daeng Manrawa. Beliaulah yang mula-mula menjerumuskan saya untuk menekuni dan mencintai sastra-sastra lisan kuno Makassar, seperti sinrilik, kelong, rapang, dan parupama.
Beliau pula yang menuntun saya untuk bersentuhan dengan lontarak. Saya juga ingin agar apa yang saya lakukan, kelak, dikenang dan diketahui oleh keluarga saja. Selain itu, menulis bagi saya adalah segalanya. Lewat menulis, saya bisa berbagi. Dengan menulis, saya bisa membincangkan apa saja bersama khalayak pembaca.
Telah banyak menulis buku, bagaimana proses kreatif daeng khrisna? bagaimana menemukan ide lalu mewujudkannya menjadi cerita?
Menemukan ide? Ini pertanyaan menarik. Ide, bagi saya, adalah muasal karya. Dari sanalah sebuah tulisan bermula. Masalahnya, ide kerap datang sesukanya, kadang pada saat yang tidak diinginkan. Anehnya, pada saat tertentu, ide tidak suka diperas. Manakala ide melintas, hal pertama yang kerap saya lakukan adalah menangkap dan merekam ide itu.
Banyak cara yang saya lakukan, di antaranya dengan menuliskan dan menyimpan kalimat kunci, pembuka ingatan, di telepon genggam. Lalu, saat waktu sudah lebih memungkinkan, barulah saya ulik dan pantik kembali ide itu.
Jika tak muncul-muncul juga, saya suka membuka-buka portal berita lalu membayangkan peristiwa di dalam berita itu berubah menjadi cerita di kepala saya. Biasanya, cerita sudah selesai di kepala, baru ditulis. Kadang saat ide berkelebat, segara saya kicaukan di twitter. Kicauan itu lantas saya bubuhi favorit, biar nanti bisa saya pindahkan ke laptop. Begitu selalu, sederhana.
Apa kendala-Kendala ketika menulis
Kendala dalam menulis biasanya saat merancang apa yang hendak saya tulis. Barangkali sama seperti saat seorang arsitek mereka-reka bentuk bangunan, lalu menaksir hal-hal lain terkait bangunan itu.
Atau, ibarat dokter yang mula-mula mendengarkan kisah-keluh pasiennya, lantas menentukan apa yang semestinya dilakukan. Apabila bentuk dan bangunan cerita sudah utuh di kepala, biasanya mengalir. Lagi, dan lagi. Lalu, hadirlah kendala berikutnya, kesulitan mengakhiri. Bagi saya, memulai dan mengakhiri tulisan adalah bagian yang sama sulitnya.
Apa yang menyenangkan dari kegiatan menulis?
Kepuasan batin. Ketika pertama kali cerpen saya dimuat sebuah media, saya bahagia. Honor urusan lain, meskipun tentu saja juga membahagiakan. Kebahagiaan terbesar saya, tatkala apa yang saya tulis diterima oleh khalayak pembaca. Dalam hal ini, diterima bukan sekadar disukai atau dilumuri puja-puji, melainkan juga dikritik dan ditunjukkan bagian mana yang masih butuh polesan. Kepuasan batin saat merampungkan sebuah tulisan juga kesenangan lain yang selalu saya rindukan.
Apa kegiatan daeng selain menjadi penulis?
Kegiatan selain menulis? Ya, tidak jauh dari dunia dan perbukuan. Suka menghadiri kegiatan komunitas pencinta buku, menghadiri bincang-bincang buku, atau berbagi pengalaman dalam kepenulisan. Saya tidak punya pekerjaan selain menulis.
Apa yang diharapkan dari pembaca yang telah membaca buku2 daeng?
Harapan bagi pembaca? Semoga apa yang saya tulis berkenan dan berterima di hati pembaca. Semoga.
Bagaimana kondisi sastra indonesia sekarang ini?
Sangat menjanjikan. Saya sering menyaksikan orang membaca buku di kereta, di pesawat, bahkan di halte saay menunggui bus. Toko buku juga selalu disambangi pengunjung. Banyak orang, terutama di daerah, yang masih merindukan kehadiran perpustakan, taman bacaan, atau kedai buku.
Bagi saya, ini langkah awam untuk mengapresiasi karya sastra. Kita juga punya tokoh-tokoh hebat seperti Pram, N H Dini, Romo Mangun, Kunto, dan generasi setelah mereka. Bahkan, kita punya anak-anak muda dengan gairah menulis yang menyala.
Pembelajaran sastra di sekolah? Ah, tak perlu dikeluhkan. Saya malah mengapresiasi banyak orang yang mengajak orang untuk terus membaca dan menulis. Kerja mulia yang harus terus disokong oleh masyarakat. Banyak juga yang bisa kita harapkan dari pemerintah, semisal harga kertas dan pajak penulis yang mahal.
Jika harga buku murah--dengan kualitas isi yang terjaga--pasti lebih memudahkan bagi khalayak pembaca. Pasti ada masa, yang entah, pemerintah akan peduli. Mungkin nanti. Kapan pun itu, kita tidak dilarang untuk terus berharap. Bagaimanapun, sastra Indonesia masih dan akan terus menjanjikan. (KW)