UEA Sukses Luncurkan Mesin Penjelajah Bulan Bernama Rashid

Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu berhasil meluncurkan mesin penjelajah bulan bernama Rashid, dan ini sekaligus menandai misi pertamanya ke permukaan bulan.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 12 Desember 2022, 15:33 WIB
Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon berlangsung hari ini, 16 Mei 2022. Bisa disaksikan di Indonesia? (YouTube/NASA).

Liputan6.com, Jakarta - Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu berhasil meluncurkan mesin penjelajah bulan bernama Rashid, dan ini sekaligus menandai misi pertamanya ke permukaan Bulan.

Menurut Mohammed Bin Rashid Space Center (MBRSC) di Dubai, mesin penjelajah Rashid akan memberikan "data, gambar, dan wawasan baru yabf bernilai tinggi."

Dikutip dari laman Xinhua, Senin (12/12/2022), alat penjelajah ini juga mampu "mengumpulkan data ilmiah tentang hal-hal yang berkaitan dengan asal usul tata surya, planet dan kehidupan."

Mesin penjelajah Rashid buatan UEA berada di atas Hakuto-R, alat penjelajah buatan Jepang yang dikerahkan roket SpaceX Falcon 9 dari Stasiun Angkatan Ruang Angkasa Cape Canaveral di Florida, Amerika Serikat.

Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, wakil presiden dan perdana menteri UEA, mentweet setelah peluncuran bahwa "mesin penjelajah Rashid adalah bagian dari program ruang angkasa ambisius UEA, yang dimulai dengan Mars, berlanjut ke Bulan, dan segera ke Venus. Langkah kami selanjutnya lebih besar dan lebih tinggi."

Pada September 2022, MBRSC menandatangani perjanjian dengan Badan Antariksa Nasional China untuk melakukan eksplorasi ruang angkasa bersama.

Perjanjian ini termasuk mengirim penjelajah UEA berikutnya ke Chang'e-7 untuk mendarat di Bulan, yang dilaporkan direncanakan diluncurkan pada tahun 2026.

Manusia Bisa Hidup di Bulan di Akhir 2030?

Ilustrasi permukaan bulan Europa di Jupiter. (Sumber Jet Propulsion Laboratory NASA/Caltech)

NASA memprediksi bahwa manusia bisa tinggal di Bulan pada akhir dekade ini. Sikap optimisme ini ditunjukkan NASA setelah peluncuran roket Artemis I untuk eksplorasi luar angkasa.

Roket Artemis I diluncurkan oleh NASA dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat pada 16 November 2022. NASA menyebut Artemis I sebagai roket terkuat di dunia yang dirancang untuk mengirim manusia ke angkasa luar.

Pada roket tersebut, NASA juga membawakan spacecraft Orion untuk membantu manusia agar bisa menjelajah Bulan. Orion juga bisa ditumpangi kru manusia.

Berdasarkan laporan BBC, Minggu (20/11/2022), Orion saat ini belum memiliki penumpang, tetapi mereka membawa "manikin" yang akan mengukur dampak penjelajahan pada tubuh manusia.

Pemimpin proyek Orion, Howard Hu, menjelaskan bahwa penjelajahan Bulan ini untuk mencari apakah ada air di kutub selatan Bulan.

"Kita akan mengirim orang-orang ke permukaan sana dan mereka akan hidup di permukaan tersebut dan melakukan sains," ujar Howard Hu.

Hal it penting diteliti untuk kemudian penjelajahan luar angkasa yang lebih jauh, yakni ke Mars.

"Itu akan menjadi sangat penting bagi kita untuk belajar sedikit lebih jauh dari orbit Bumi kita dan kemudian melakukan sebuah langkah besar ketika kita pergi ke Mars," jelas Howard Hu. 

"Dan misi Artemis membuat kita bisa memiliki platform berkelanjutan dan sistem transportasi yang mengizinkan kita belajar bagaimana beroperasi di lingkungan deep space," pungkas pejabat NASA itu.

Artemis dan Orion

Roket NASA untuk misi Artemis 1 terlihat setelah batal diluncurkan dari Launch Pad 39B, Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, 29 Agustus 2022. Artemis dan Apollo adalah dewa-dewi kembar di mitologi Yunani. NASA menunda peluncuran roket Artemis dengan kapsul untuk krew yang tadinya direncanakan Senin 29 Agustus. (AP Photo/John Raoux)

Nama Artemis dan Orion berasal dari tokoh mitologi Yunani. Artemis adalah dewi pemburu dan dewi bulan. Orion juga merupakan sosok pemburu legendaris. 

Dewi Artemis merupakan saudari kembar dari Apollo. Nama Apollo digunakan menjadi nama program ketika manusia berhasil mencapai Bulan pada 1972. 

Situs NASA menyebut misi Artemis I ini akan berlangsung selama 25 hari saja. Total jarak yang ditempuh mencapai 1,3 juta mil (2 juta kilometer). 

Tinggi dari roket Artemis I adalah 322 kaki (98,1 meter). Total massa roket ketika berangkat (mass at liftoff) adalah 5,75 juta pon (2,6 juta kilogram). 

Sementara, massa roket ketika melakukan thrust mencapai 8,8 juta pon (3,9 juta kilogram). Rocket Principles dari situs Massachusetts Institute of Technology (MIT) menjelaskan bahwa ketika berangkat, kekuatan roket dari mesin harus lebih berat dari massa roket.

Sementara, Orion memiliki tinggi 26 kaki (7,9 meter). Massa ketika berangkat adalah 53 ribu pon (24 ribu kilogram) dan ketika pulang dari Bulan massanya 18.200 (8.255 kilogram). 

Situs NASA menyebut bahwa kesuksesan misi Artemis I akan membuka jalan bagi para astronot untuk ke Bulan dengan Artemis II.

Artemis I Sempat Ditunda

Roket NASA untuk misi Artemis 1 berada pada Launch Pad 39B sebelum diluncurkan di Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, 29 Agustus 2022. NASA menghadapi serangkaian kebocoran bahan bakar dan kesulitan mendinginkan mesin booster pada suhu yang tepat untuk peluncuran. (AP Photo/Chris O'Meara)

Misi NASA untuk pergi ke Bulan yang dikenal dengan nama Artemis 1 akhirnya terlaksana. Misi tersebut resmi meluncur, setelah beberapa kali mengalami penundaan.

Dikutip dari The Guardian, Rabu (16/11), meski tanpa awak, pesawat ruang angkasa ini membawa tiga manekin dan mainan Snoopy untuk mengukur tingkat radiasi, sekaligus menguji sistem dan peralatan yang mendukung kehidupan untuk penerbangan berikutnya.

Menurut jadwal, Artemis 1 akan mengorbit di sekitar Bulan selama 26 hari sebelum akhirnya kembali ke Bumi. Keberhasilan misi ini disebut penting untuk melanjutkan misi Artemis selanjutnya, yakni 2 dan 3.

Misi Artemis 2 sendiri dijadwalkan akan dilakukan pada 2024. Dalam misi ini, NASA akan membawa awak untuk pergi dan kembali dari Bulan, tapi tidak sampai melakukan pendaratan.

Penerbangan kedua ini akan menjadi misi NASA ke Bulan dengan awak yang pertama setelah sekian lama. Sebab, badan antariksa Amerika Serikat itu terakhir melakukannya dalam misi Apollo 17 yang dilakukan pada Desember 1972.

Sementara misi Artemis 3 yang dijadwalkan dilakukan pada 2025, NASA berencana membawa awak perempuan untuk melakukan pendaratan di Bulan. Ini akan menjadi momen bersejarah, karena pada misi Apollo seluruh awaknya adalah pria.

Untuk diketahui, misi Artemis 1 pertama sempat dibatalkan beberapa kali, sebelum akhirnya meluncur sekarang. Terakhir, penundaan dilakukan pada September 2022, karena ada Badai Ian.

Infografis Apollo dan Jejak Manusia di Bulan. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya