Bencana Itu Telah Terjadi, Jerman Gagal ke 16 Besar Piala Dunia 2022

Tak satupun yang menduga Jerman akan tersingkir, gagal ke babak 16 besar Piala Dunia 2022, tapi itu yang terjadi dan kritikan keras pun melayang ke tim Panser itu

oleh Yo KavyaDiterbitkan 03 Desember 2022, 15:00 WIB
Kesedihan suporter timnas Jerman setelah matchday 3 Grup E Piala Dunia 2022 melawan Kosta Rika di Al Bayt Stadium, Jumat (2/12/2022) dini hari WIB. Kegagalan lolos ke babak 16 besar ini menambah catatan buruk Jerman setelah menyandang status juara dunia di Piala Dunia 2014 Brasil. (AP Photo/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Jakarta Ekspresi Kai Havertz saat berpose dengan trofi sebagai pemain terbaik (man of the match) laga Jerman vs Kosta Rika mewakili apa yang dirasakan rekan-rekannya, penggemar dan masyarakat Jerman di Piala Dunia 2022.

Jerman memang berhasil menghajar Kosta Rika 4-2 dalam partai terakhir Grup E Piala Dunia 2022 pada Jumat (2/12/2022) dini hari WIB di Al Bayt Stadium, Al Khor.

Kai Havertz baru bermain di babak kedua, tepatnya pada menit ke-66 untuk menggantikan Thomas Mulle. Dalam waktu yang relatif singkat, ia mampu mencetak brace untuk Jerman.

Tatapan kosong Havertz terlihat jelas. Wajahnya datar, tanpa senyuman.

Sangat kontras apa yang diperlihatkan oleh Havertz ketika ia melakukan selebrasi kemenangan Chelsea dalam final Lliga Champions menghadapi Manchester City, 30 Mei 2021 .

Chelsea menang 1-0 lewat gol yang dicetak Havertz. Saat melakukan selebrasi kemenangan The Blues, Havertz mencium Sophia Weber, kekasihnya yang seorang model ternama.

Kegetiran yang dirasakan lelaki berusia 23 tahun itu bisa dimaklumi. Jerman harus angkat koper di babak penyisihan, Dua kali beruntun tidak lolos ke 16 besar Piala Dunia, edisi 2018 dan 2022.

"Ketika terjadi dengan cara seperti ini, rasanya seperti melihat film horor," ujar Kai Havertz dinukil dari France24.

"Ketika Anda dua kali beruntun kandas di babak pertama, dan sekali di babak 16 besar, itu sangat pahit."

"Kami harus jujur dan bilang dalam empat tahun ini segalanya tidak berjalan dengan baik. Rasanya kami bukan tim spesialis turnamen lagi," tuturnya.


Sangat Kritis

Reaksi pemain Jerman setelah pemain Kosta Rika Juan Pablo Vargas mencetak gol ke-2 timnya pada duel matchday 3 Grup E Piala Dunia 2022 di Al Bayt Stadium, Jumat (2/12/2022) dini hari WIB. Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2022 Qatar untuk kedua kalinya berturut-turut meski menang 4-2 atas Kosta Rika. (AP Photo/Darko Bandic)

Paul Battison menulis di BBC Sport (2/12/2022), bahwa Jerman datang ke Qatar dengan pertahanan yang rapuh. Mereka tidak mencatatkan clean sheet dalam pertandingan kompetitif sejak kemenangan 9-0 atas Liechtenstein di kualifikasi Piala Dunia setahun lalu.

Sejak itu mereka kebobolan 15 gol dalam 10 pertandingan kompetitif, sementara dalam tiga pertandingan persahabatan mereka kebobolan satu gol melawan Belanda, dan mencatatkan clean sheet hanya melawan Israel dan Oman.

Sedangkan koresponden BBC di Berlin, Jenny Hill mengatakan "frustrasi dan kemarahan menggambarkan suasana hati di Jerman pagi ini" dengan "rasa terhina yang meluas".

Lanjut Baca:

Media-media Jerman menyambut kegagalan yang terjadi dengan nada keras. Dalam artikel yang sangat kritis setelah eliminasi, surat kabar Bild menulis: 'Dunia sepak bola dulu bergetar di depan kami. Kami dipuji sebagai 'tim turnamen.' 'Sekarang Jerman hanyalah kurcaci sepak bola," kata Bild. Kegagalan yang memalukan itu membuat timnas Jerman dinilai, dari para pemain hingga staf pelatih, tidak satupun yang berkelas dunia. Peristiwa 1 Desember telah ditandai sebagai "akhir dari negara sepak bola yang pernah hebat dan membanggakan". Die Welt, sementara itu, mengatakan sepak bola Jerman telah mencapai "titik terendah" dan "harus berhenti membohongi dirinya sendiri". Perlunya "perubahan mendasar" untuk meningkatkan hasil. Suddeutsche Zeitung menampilkan tajuk "hasil yang sesuai dengan kekacauan besar", sementara Faz mengatakan kembali ke puncak sepakbola dunia adalah "hanya ilusi bagi Jerman". Sedangkan Der Spiegel telah memulai penyelidikan tentang alasan di balik kinerja buruk bangsa, memberi label orang di belakangnya sebagai " keras kepala".

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya