Belanda dan Hungaria, Kisah 2 Tim Hebat yang Gagal Juara Piala Dunia karena Jerman

Nasib tragis Hungaria di final Piala Dunia 1954 dan Belanda di Piala Dunia 1974, menunjukkan untuk menjadi juara dunia dibutuhkan lebih dari sekadar tim dan skuat hebat.

oleh Mohamad TaufikDiterbitkan 23 Oktober 2022, 00:07 WIB
Kiper Jerman, Sepp Maier menangkap bola dari kejaran pemain Belanda Johan Cruyff dalam laga final Piala Dunia di Munich, Jerman, 7 Juli 1974. (AFP)

Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia 2022 di Qatar kian dekat dan dalam hitungan hari digelar mulai 20 November sampai 18 Desember 2022 di delapan stadion megah.

Penggemar sepak bola dunia menerka-nerka negara mana yang bakal menjadi juara dunia di Qatar 2022. Tim unggulan yang secara tradisional memiliki sejarah kuat, memiliki peluang lebih besar menjadi juara ketimbang melahirkan juara baru.

Tetapi Piala Dunia 2022 di Qatar bukan tak mungkin melahirkan juara baru seperti Inggris di Piala Dunia 1966, Argentina (1978), Prancis (1998) dan Spanyol (2010).

Namun memiliki skuad terbaik tidak menjamin sebuah negara bisa juara Piala Dunia. Dibutuhkan banyak faktor untuk mencapai titik klimaks itu, dari mentalitas hingga keberuntungan dan lainnya.

Sejarah membuktikan sejak Piala Dunia pertama kali digelar pada tahun 1930, ada banyak negara yang memiliki tim hebat dan layak juara, tetapi gagal mengangkat trofi Piala Dunia.

Hungaria di Piala Dunia 1954 jadi contoh konkret pertama, bagaimana tim yang secara materi dan permainan harusnya jadi juara, gagal mengangkat trofi. Juga ada Belanda di Piala Dunia 1974.

Alasan paling sering dibahas mengapa Hungaria pantas diunggulkan di Piala Dunia 1954 Swiss, karena keberhasilan mereka mematahkan mitos buruk tim tamu di Stadion Wembley dengan menghancurkan Inggris lewat skor telak 6-3. Di luar skor, cara bermain Hungaria di Wembley digambarkan cukup spektakuler.

"Kami belum pernah melihat tim bermain seperti ini," kata Bobby Robson, menceritakan kesaksiannya melihat Hungaria mendemonstrasikan sepak bola indah di Wembley, beberapa tahun kemudian. "Seolah-olah kita baru saja melihat daratan Mars!"


Kalah di Waktu yang Salah

Kapten Hungaria, Ferenc Puskas (kiri), memimpin rekan-rekannya pada final Piala Dunia 1954 di Swiss. (dok. Talksport)

Orang Inggris diberi pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan oleh sekelompok pemain Hungaria dengan bakat luar biasa. Mereka adalah Ferenc Puskas, Zoltan Czibor, Nandor Hidegkuti, Jozsef Bozsik, Sandor Kocsis, dan Gyula Grosics.

Mereka sangat menonjol, di atas lapangan, karena gaya permainannya yang memusingkan dengan kontrol bola pendek dan rapat, akselerasi yang mematikan, dan kombinasi ofensif nyaris sempurna, semuanya dengan kecepatan yang sangat stabil.

Lanjut Baca:

Tetapi menghancurkan Inggris bukan satu-satunya sebab. Periode 1950-an, Timnas Hungaria adalah salah satu yang terbaik. Mereka juara Olimpiade 1952, dan dalam rentang 1950 sampai 1956 memainkan 69 pertandingan, memenangkan 58 kemenangan, 10 seri, dan hanya kalah satu kali. Sayangnya satu-satunya kekalahan tersebut dialami di waktu yang tidak tepat yakni final Piala Dunia 1954 melawan Jerman Barat. Skuat besutan pelatih Gustav Sebes sebenarnya sempat memimpin dua gol dengan cepat di awal laga yang membuat orang-orang berpikir akan kembali dihancurkan seperti di babak penyisihan grup dengan skor 8-3. Tetapi entah kenapa, Jerman Barat dengan ajaib bangkit dan langsung merespons untuk mengejar ketinggalan hingga skor jadi 2-2 di babak pertama. Puncaknya, Jerman Barat mengubur impian Hungaria ketika Helmut Rahn mencetak gol penentu di menit 84.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya