Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street terpangkas pada perdagangan Jumat, 14 Oktober 2022 setelah membukukan reli sebelumnya seiring investor mencerna harapan inflasi. Wall street ditutup dengan perdagangan yang bergejolak selama sepekan.
Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 403,89 poin atau 1,34 persen ke posisi 29.634,83. Indeks naik 1,15 persen pada pekan ini. Indeks S&P 500 merosot 2,37 persen ke posisi 3.583,07.
Advertisement
Indeks acuan ini alami koreksi tujuh hari berturut-turut dalam delapan hari. Indeks Nasdaq tergelincir 3,08 persen ke posisi 10.321,39. Hal itu seiring koreksi saham Tesla dan Lucid Motors yang masing-masing turun 7,5 persen dan 8,61 persen.
Baik indeks S&P 500 dan Nasdaq mengakhir pekan lebih rendah dengan masing-masing merosot 1,5 persen dan 3,1 persen.
Saham jatuh ke posisi terendah setelah survei konsumen dari University of Michigan menunjukkan harapan inflasi meningkat, sentimen yang mungkin diawasi oleh the Federal Reserve (the Fed). Indeks Nasdaq memimpin penurunan karena perusahaan yang paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi melonjak dengan tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun melampaui 4 persen untuk kedua kalinya dalam dua hari. Hal ini seiring investor bereaksi terhadap harapan inflasi yang lebih tinggi.
Pasar gelisah sepanjang pekan ini karena investor menimbang data inflasi baru yang akan informasikan the Fed terus menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga. Pada perdagangan Kamis pekan ini, indeks Dow Jones naik 827 poin setelah turun lebih dari 500 poin ke level terendah secara intraday.
Inflasi Masih Jadi Kekhawatiran
Di sisi lain, indeks S&P 500 naik 2,6 persen untuk memecahkan penurunan beruntun dalam enam hari. Sementara itu, indeks Nasdaq melonjak 2,2 persen. Selain itu, pada perdagangan Kamis pekan ini juga menandai pembalikan intraday terbesar kelima dari posisi terendah dalam sejarah indeks S&P 500, dan itu adalah yang terbesar keempat untuk Nasdaq menurut SentimenTrader.
Pergerakan tersebut juga mengikuti rilis indeks harga konsumen, pembacaan inflasi utama Amerika Serikat yang lebih panas dari yang diharapkan pada September 2022. Awalnya, ini membebani pasar karena investor bersiap untuk the Federal Reserve melanjutkan rencana kenaikan suku bunga yang agresif. Namun kemudian, investor abaikan kekhawatiran itu.
Di sisi lain, inflasi yang terus menerus tetap menjadi masalah bagi the Fed dan kekhawatiran investor seputar pengetatan kebijakan bank sentral.
“Dengan CPI inti yang masih bergerak kea rah yang salah dan pasar tenaga kerja yang kuat, kondisi tidak sesuai untuk poros kebijakan the Fed yang akan menjadi salah satu kondisi untuk reli berkelanjutan di pasar saham,” ujar UBS Global Wealth Management Chief Investment Officer Mark Haefele, dikutip dari CNBC, Sabtu (15/10/2022).
Gerak Saham di Wall Street
Ia menambahkan, inflasi tetap tinggi untuk waktu lebih lama dan kenaikan bunga the Fed lebih lanjut, risiko meningkat kalau efek kumulatif dari pengetatan kebijakan mendorong ekonomi AS ke dalam resesi. “Merusak prospek laba perusahaan,” ujar dia.
Saham bank dan operator toko barang kebutuhan pokok Albertsons menjadi perhatian pada perdagangan Jumat pekan ini. Saham pemilik Safeway Albertsons turun 8 persen setelah Kroger setuju membeli perusahaan dalam kesepakatan senilai USD 24,6 miliar atau USD 34,10 per saham. Sedangkan saham Kroger merosot 4,8 persen.
Selain itu, saham maskapai Delta naik 3 persen setelah Cowen meningkatkan saham di tengah pemulihan dalam perjalanan. Beberapa saham bank termasuk JPMorgan Chase dan Morgan Stanley bergerak dalam perdagangan tengah hari setelah rilis laporan keuangan yang beragam.
Penutupan Wall Street pada 13 Oktober 2022
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street berbalik arah menguat pada perdagangan Kamis, 13 Oktober 2022. Indeks Dow Jones melambung 1.500 poin dari posisi terendah ke level tertinggi seiring pelaku pasar mengabaikan laporan inflasi yang tinggi.
Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones meroket 827,87 poin atau 2,83 persen ke posisi 30.038,72. Indeks S&P 500 bertambah 2,6 persen ke posisi 3.669,91, dan memecahkan penurunan beruntun dalam enam hari. Indeks Nasdaq naik 2,23 persen ke posisi 10.649,15.
Pada sesi perdagangan yang bergejolak, saham tersungkur ke level terendah sejak 2020 menyusul data inflasi yang panas dari perkiraan. Kemudian indeks saham acuan di wall street memantul dengan menakjubkan. Indeks Dow Jones naik 1.300 poin seiring pelaku pasar mencerna laporan indeks harga konsumen pada September 2022.
Indeks S&P 500 membukukan rentang perdagangan terluas sejak Maret 2022. Pada perdagangan Kamis pekan ini menandai pembalikan intraday terbesar kelima dari posisi terendah dalam sejarah indeks S&P 500. Bahkan kenaikan itu terbesar keempat untuk Nasdaq, menurut SentimenTrader.
Sektor saham energi dan bank memimpin penguatan. Saham Chevron naik 4,85 persen seiring lonjakan harga minyak. Saham Goldman Sachs dan JPMorgan masing-masing naik 3,98 persen dan 5,56 persen. Saham-saham teknologi berbalik arah menguat. Demikian juga saham semikonduktor dengan Nvidia dan Qualcom turut berkontribusi.
Investor mungkin bertaruh laporan inflasi yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini berarti kenaikan harga akan segera mencapai puncaknya.