Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan hidup kiper Timnas Iran, Alireza Beiranvand adalah perjuangan menggapai mimpi, dengan berbagai resiko yang tak mudah. Apalagi ia melakukannya saat usianya masih belia. Perjuangan yang mengantarnya ke Piala Dunia.
Alireza lahir di Sarabias, Lorestan 21 September 1992. Keluarganya hidup nomaden, selalu berpindah-pindah demi mendapatkan padang rumput untuk domba mereka. Sebagai anak tertua, ia harus bekerja sejak masih kecil untuk membantu keluarganya.
Advertisement
Pekerjaan pertamanya adalah menggembala domba, dan kapanpun mendapatkan waktu senggang, ia akan bermain sepakbola serta permainan lokal bernama Dal Paran. Permainan ini memiliki peran yang signifikan terhadap kemampuannya di lapangan.
Dal Paran merupakan permainan dengan menggunakan sebuah batu, dan pemainnya harus melemparnya sejauh mungkin.
Pada usia 12 tahun, Alireza berlatih dengan tim lokal tempat tinggalnya di Sarabias. Ia memulai sebagai striker, namun karena ada kiper yang cedera, ia mulai memainkan perannya sebagai penjaga gawang.
Sayang, kecintaan Alireza terhadap si kulit bundar ditentang sang ayah, Morteza Alireza. Ayahnya menilai bahwa sepak bola tidak bisa menjadi lahan pekerjaan.
"Ayah saya sama sekali tidak menyukai sepakbola dan meminta saya untuk bekerja. Dia bahkan merobek pakaian dan sarung tangan saya. Beberapa kali saya bermain dengan tangan kosong," tutur Alireza kepada The Guardian.
Untuk mengejar mimpinya, Alireza yang bernama lengkap Alireza Safar Beiranvand pun harus meninggalkan rumah dan pergi ke Teheran dengan modal pinjaman uang dari sanak saudara. Ia memutuskan untuk pindah ke ibu kota demi bisa bergabung dengan klub yang lebih besar.
Pengemis
Di perjalanan, ia bertemu dengan salah satu pelatih bernama Hossein Feiz, yang sedang menukangi sebuah klub lokal. Feiz mengatakan bahwa Alireza bisa berlatih bersama timnya jika bisa memberi 200.000 toman (30 paun).
Permintaan itu tentu saja tidak bisa dipenuhinya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur di depan pintu klub. Beberapa orang yang melintasinya bahkan mengiranya sebagai pengemis dan memberinya uang.
"Saya tidur di depan pintu klub dan saat bangun pada pagi hari, saya menyadari bahwa orang-orang memberi saya recehan. Mereka berpikir saya adalah pengemis! Saya jadi bisa menikmati sarapan enak untuk pertama kalinya sejak lama," lanjutnya.