Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia 2022 Qatar menghadapi dilema bagi ribuan fans sepak bola yang bakal mengunjungi Negeri Timur Tengah tersebut. Banyak kekhawatiran muncul, salah satunya ‘tidak siapnya’ bandara utama Qatar menampung masuknya penumpang secara massal.
Menurut sumber dari Sportmail, orang dalam Hamad International merasa prihatin. Mereka tidak siap dan takut akan kenyamanan para pengunjung yang segera membanjiri Qatar.
Advertisement
Polemik itu makin menyeruak ketika surat kabar asal Inggris ini telah diberitahu bahwa Pemerintah Qatar masih gencar dalam merekrut sejumlah staf dari seluruh dunia. Mereka sekarang berpacu dengan waktu untuk mendapatkannya (para staf untuk servis bandara) untuk dilatih dengan standar yang dipersyaratkan.
Beberapa staf khawatir bahwa tingkat lalu lintas yang meningkat, dengan aktivitas lebih dari dua kali lipat, akan membuat pekerja yang sudah di bawah tekanan tidak dapat mengatasinya.
Sementara Otoritas Penerbangan Sipil Qatar (QCAA) mengatakan mereka telah meningkatkan sistem kontrol dan 'melaksanakan rencana yang cermat' dengan 'pelatihan berkelanjutan untuk pengontrol lalu lintas udara sesuai dengan persyaratan internasional'.
Dapat disimpulkan bahwa situasi tersebut digambarkan oleh seorang pejabat yang panik sebagai 'titik krisis'.
Kekhawatiran serius muncul atas proses rekrutmen. Di tengah keyakinan bahwa orang-orang yang ditawarkan pekerjaan itu, tapi mereka tidak menyelesaikan pelatihan yang diperlukan.
Namun, staf telah diperingatkan siapa pun yang dianggap 'menyabotase' operasi itu akan 'ditangani oleh negara'. Mereka sejatinya hanya berusaha keras mengakomodir para fans selama berada di Qatar.
Rintangan Memasuki Qatar
Selama Piala Dunia, yang dimulai bulan depan, penerbangan masuk dan keluar dari bandara akan melonjak dari 700 per hari menjadi 1.600. Tetapi, sejumlah pekerja, yang semuanya ingin tetap anonim karena takut akan tuduhan, khawatir menghadapi itu.
Mereka percaya fasilitas yang berbasis di Doha tidak mampu menangani lalu lintas ekstra di tengah kekurangan staf kontrol lalu lintas udara.
Beberapa merasa penerbangan akan ditunda atau dialihkan ke Dubai, yang berjarak enam setengah jam perjalanan, dengan penggemar yang akan membayar ongkos lebih mahal dengan risiko serius kehilangan waktu penting menonton pertandingan.