Setelah <i>Tempo</i> Diserbu, Ciputra-Tomy Bertemu

Komisaris Tempo menggelar pertemuan dengan Tomy Winata menyusul penyerbuan kantor majalah tersebut oleh massa yang menamakan anak buah pengusaha pemilik Grup Artha Graha ini.

oleh Liputan6Diterbitkan 09 Maret 2003, 11:58 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Setelah aksi penyerbuan Kantor Redaksi Majalah Tempo oleh dua kelompok massa di Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat, Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk., di antaranya konglomerat Ciputra, Daryanto dan Direktur Utama Leonardi Kusen, turun gunung. Mereka menggelar pertemuan dengan Tomy Winata di kediamannya di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (8/3).

Tomy Winata yang juga pemilik Grup Artha Graha seperti diberitakan sebelumnya gerah dengan pemberitaan Tempo edisi 3-9 Maret 2003. Dalam berita yang berjudul Ada Tomy di `Tenabang`?, Tomy Winata disebut-sebut mendapat proyek renovasi Pasar Tanahabang senilai Rp 53 miliar dan proposalnya sudah diajukan sebelum pusat grosir tekstil itu terbakar. Berita tersebut kemudian menggerakkan pekerja dan anak buah Tomy yang tergabung dalam Grup Artha Graha (GAG) dan Banteng Muda Indonesia (BMI), Sabtu pagi, menyerbu Kantor Tempo [baca: Berita "Ada Tomy di `Tenabang`?" Berbuntut Ricuh].

Dalam pertemuan dengan Ciputra, Tomy meminta redaksi Tempo meralat pemberitaan yang menyangkut dirinya terkait dengan proyek renovasi Pasar Tanahabang. Menurut dia, pemberitaan itu telah membunuh karakter dirinya. Selain itu, menurut Tomy, Tempo tidak memiliki bukti-bukti yang kuat dan tidak pernah meminta konfirmasi.

Dalam wawancara khusus dengan SCTV, Tomy mengakui anak buahnya terlibat dalam penyerangan ke Kantor Tempo. Namun, Tomy menyatakan aksi tersebut sebagai urusan pribadi dan sejumlah anak buahnya sudah ditegur. Tomy juga menyatakan, bila aksi mereka dinilai sudah melanggar hukum dipersilakan untuk ditindak.

Akibat pemberitaan Tempo, Tomy mengaku mendapat teror lewat telepon. Umumnya penelepon mengaku sebagai pedagang pasar Tanahabang. Para penelepon itu menurut Tomy, di antaranya menuding dirinya sebagai binatang yang kejam dan ingin mencari untung di atas penderitaan orang lain.

Tuduhan itu, menurut Tomy, sangat menyakitkan. Sebab, selama ini menurut dia tak pernah terpikirkan untuk menyentuh pasar yang menjadi sumber penghidupan kelas menengah-bawah itu. Selain itu selama menjadi pengusaha, lanjut Tomy, tak pernah meminta-minta proyek lewat jalur tertentu [baca: Tommy Winata Membantah Terlibat Kebakaran Tanahabang].

Tomy yakin sumber berita TEMPO berasal dari orang atau pengusaha yang sengaja memojokkan dirinya agar tidak menjadi pesaing usahanya. "Bahkan mereka itu, mungkin menginginkan saya pun dibunuh oleh para pedagang Pasar Tanahabang," kata Tomy, emosional.

Sementara itu, Kepala Polres Jakarta Pusat Ajun Komisaris Polisi Sukra Wardi Dahlan, membantah telah menculik juru runding TEMPO dan perwakilan massa Tomy Winata. Menurut Sukra, mereka sepakat untuk menyelesaikan masalahnya di kantor polisi karena massa di luar Kantor TEMPO sudah beringas. Dalam pertemuan itu, lanjut Sukra, mereka sepakat untuk menyelesaikannya lewat jalur hukum.

Sementara Komisaris Tempo menggelar pertemuan dengan Tomy, sebelumnya sejumlah lembaga swadaya masyarakat jurnalis berkumpul di kantor majalah berita mingguan terbesar di Indonesia ini. Mereka mendukung upaya Tempo untuk menempuh jalur hukum dalam kasus tersebut. Dalam kesempatan tersebut Redaktur Tempo Wahyu Muryadi menyatakan, sebenarnya banyak proposal yang masuk ke Pemerintah DKI Jakarta berkaitan dengan renovasi Pasar Tanahabang. Namun saat itu, lanjut Wahyu, Tempo hanya menemukan proposal yang diajukan perusahaan Tomy.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya