Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat menjadi sebuah langkah yang tepat. Terutama untuk menopang ekonomi masyarakat terdampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurut Pakar Ekonomi Institut For Developmemt of Economics Finance (Indef) Aviliani, penyaluran BLT BBM oleh Jokowi mesti disikapi positif. Terlebih bagi kelompok masyarakat yang terkena imbas langsung dari naiknya harga BBM.
Advertisement
“Pemerintah udah bener kemarin, kasih BLT dulu baru harga (BBM) naik gitu,” ujar Aviliani dalam Rilis Survei Nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dilihat dalam akun You Tube LSI, Selasa (6/9/2022).
Dia menuturkan kenaikan harga BBM menjadi pilihan yang harus diambil Jokowi demi menjaga stabilitas perekonomian nasional. Salah satunya, kata dia, juga menjadi upaya untuk menghindari inflasi.
“Nah yang masyarakat belum paham adalah memang dampak pada inflasi,” sambung Aviliani.
Pada awalnya, tambah dia, pemerintah berencana akan menanggung subsidi BBM hingga akhir tahun 2022. Namun ternyata catatan di bulan September ini, anggaran subsudi BBM sudah melebihi batas kemampuan APBN.
Karenanya, dia melanjutkan, agar tidak terus mengalami lonjakan subsidi yang tinggi. Presiden akhirnya mengambil keputusan untuk mengalihkan subsidi BBM kepada Program BLT.
“Tetapi perlu diketahui masyarakat juga adalah 80 persen pengguna (BBM) itu sebenarnya bukan masyarakat yang membutuhkan. Tapi industri menggunakan, kedua adalah mobil-mobil paling banyak menggunakan BBM, juga paling banyak menyedot,” terang Aviliani.
Diketahui, Presiden Jokowi bakal segera memberikan sejumlah bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat dengan anggaran Rp24,17 triliun. Bantuan diberikan dalam bentuk BLT senilai Rp600.000 kepada masyarakat peneirma manfaat.
Selamatkan APBN
Aviliani mendukung keputusan Presiden Joko Widodo yang memilih menaikkan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, jika harga BBM tidak dinaikkan justru akan berbahaya bagi postur APBN.
Avialiani mengatakan, harga minyak dunia pada 2022 dalam asumsi pemerintah berada di angka 80 dolar per barel. Namun, efek perang Rusia-Ukraina, harganya melambung menjadi 105 dolar per barel.
Karenanya, keputusan Presiden Jokowi menaikkan harga BBM dinilai Aviliani sudah tepat.
“Kalau tidak dinaikkan, pembengkakan APBN bisa berbahaya. Jika semula subsidinya Rp 200 triliun, bebannya jadi Rp 500 triliun. Bahkan bisa lebih Rp 600 triliun,” kata Aviliani saat menghadiri rilis survei Lembaga Survei Indonesia, Minggu (4/9/2022).
Aviliani juga mendukung keputusan pemerintah dalam memberikan bantalan sosial, bahkan sebelum harga BBM dinaikkan. Kendati demikian, ia menyarankan distribusi bantuan sosial harus benar-benar tepat sasaran.
“Subsidi memang lebih bagus kepada orang, bukan barang. Kalau barang, menimbulkan moral hazard. Bisa ada kenaikan subsidi. Pilihan ini harus dilakukan,” ungkap Aviliani.
Selesaikan Persoalan Ekonomi
Di sisi lain, Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan menyatakan tingginya tingkat kepuasan publik terhadap kerja Presiden Jokowi menjadi modal yang cukup untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dan politik.
Dalam temuan LSI, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi pada bulan Agustus berada di angka 72,3 persen. Menurut Djayadi, ada kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan temuan Mei 2022, baru berada di angka 67,5 persen.
“Apakah approval rate bisa menjadi modal untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia, seperti ekonomi dan politik, saya jawab iya. Karena tingginya approval rate didasari pada evaluasi masyarakat,” kata Djayadi.
Terkait dampak kenaikan harga BBM, Djayadi menilai tingginya tingkat kepuasan publik atas kinerja presiden juga bisa modal yang cukup untuk mengurangi dampak negatifnya. Pasalnya, Djayadi melanjutkan, angka 72,3 persen menunjukkan sentiment masyarakat cukup positif terhadap kinerja pemerintah, terutama Jokowi.
“Kalau sentimennya sudah positif, kita lebih mudah berbicara dan menyampaikan sesuatu yang kurang baik. Karena masyarakat sudah percaya dengan pemerintah,” ungkap Djayadi.