Lebih Dekat dengan Tarung Derajat, Seni Bela Diri Asal Jawa Barat

Indonesia memiliki banyak jenis seni bela diri dengan keunikan dan kehebatan yang tak kalah dari luar negeri.

oleh stella marisDiterbitkan 04 September 2022, 16:14 WIB
Tarung Derajat. (Instagram.com/kawahdradjat)

Liputan6.com, Jakarta Sebagai negeri yang kaya akan budaya dan kesenian, Indonesia memiliki banyak jenis seni bela diri dengan keunikan dan kehebatan yang tak kalah dari luar negeri. Mulai dari Pencak Silat, Bakti Negara, hingga Tarung Derajat dari Tanah Sunda, Jawa Barat.

Dalam kesempatan ini, kita akan mengenal lebih dekat dengan seni bela diri Tarung Derajat. Tarung Derajat merupakan seni bela diri yang banyak diminati baik lelaki maupun wanita. Bukan karena hanya untuk perlindungan diri, melainkan karena terdapat filosofi “Melindungi diri tanpa mencederai lawan".

Pendiri Tarung Derajat

Tarung Derajat didirkan oleh Achmad Drajat atau AA Boxer, pria kelahiran Garut pada 18 Juli 1951. Di masa kecilnya, Drajat Mempunyai postur tubuh relatif kecil dibandingkan dengan sesama anak seusianya. Meski begitu, ia sangat menggemari olahraga keras, termasuk sepak bola yang biasa ia mainkan di halaman dekat rumah bersama teman-teman masa kecilnya.

Sang Guru Tarung Derajat, Achmad Drajat atau AA Boxer. (Instagram.com/kawahdradjat)

Dikutip dari Merdeka.com, Achmad menceritakan pengalaman masa kecilnya yang bermain untuk Persib Junior, saat itu usianya masih 13 tahun. Teman-teman yang bermain sebagai musuh kerap mencoba mencederai kakinya demi memenangkan pertandingan. Berawal dari situ, Achmad melatih tulang keringnya agar lebih kuat.

“Jadi dari kecil itu saya memang hobi bermain bola, dan sempat masuk puncaknya di Persib Junior waktu usia saya 13 tahun. disana mungkin karena badan saya kecil dan kerempeng kerap jadi sasaran lawan. Akhirnya saya latihan tulang kering dan banyak lawan yang menyerah dengan saya,” kata dia.

Bukan itu saja, pengalaman kekerasan juga masih terus ia alami hingga menginjak usia remaja. Di mana ia sempat bermukim di kawasan Tegalega, Bandung tahun 1960 yang saat itu menjadi tempat strategis untuk tawuran remaja, perampokan, perjudian, serta aktivitas kriminal lainnya.

“Dari situ saya berfikir, bagaimana menguatkan tubuh dari pukulan dan tendangan lawan,” tambahnya.

Dari pengalaman itulah, ia secara alami ditempa dan terlatih untuk menjawab tantangan hidup yang keras, fisik dan mentalnya terbina dan terbiasa untuk menerima kenyataan hidup secara realitas dan rasional. Bersamaan dengan itu, proses penciptaan gerak dan jurus dibentuk dan diuji dari perkelahian. Proses ini kemudian disempurnakan melalui suatu penempaan diri, baik secara fisik maupun mental dengan cara yang tersendiri dan mandiri.

Lanjut Baca:

Dilansir dari tarungderajat-aaboxer.com, Tarung Derajat adalah: ilmu, tindakan moral dan sikap hidup yang memanfaatkan kemampuan gaya gerak otot, otak dan nurani secara Realistis dan Rasional, terutama pada upaya penguasaan dan penerapan 5 (lima) dan gerak moral, yaitu: kekuatan - Kecepatan - Keberanian - Keuletan pada sistem ketahanan dan pertahanan diri yang agresif dan dinamis pada bentuk-bentuk gerakan pukulan, tendangan, tangkisan, bantingan, kuncian, hindaran, dan gerakan anggota tubuh penting lainnya yang terpola pada teknik, taktik, dan strategi bertahan dan menyerang yang praktis dan efektif bagi suatu ilmu olahraga seni beladiri. Tarung Derajat juga disebut-sebut sebagai Seni Gabungan Beladiri karena tidak hanya berfokus pada pukulan, tendangan, dan kuncian, namun gabungan dari semuanya. Dengan memanfaatkan kemampuan melalui keterkaitan antara daya gerak otot, otak dan nurani sehingga tetap melindungi tanpa melukai.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya