Chevron Masih Jadi Penguasa Minyak di Indonesia

PT Chevron Pacific Indonesia, perusahaan minyak asal Amerika Serikat, masih menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Hingga 27 Januari 2013, Chevron memproduksi minyak 327.692 barel per hari.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Januari 2013, 17:43 WIB
PT Chevron Pacific Indonesia, produsen minyak asal Amerika Serikat, masih menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Hingga 27 Januari 2013, Chevron memproduksi minyak sebanyak 327.692 barel per hari (bph).

Dalam bahan tertulis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) yang dikutip Liputan6.com, Rabu (30/1/2013), angka ini sekitar 39,7% dari total produksi minyak dan kondensat nasional sebesar 826.325 bph.

Berada di posisi kedua PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero), yang memproduksi 120.798 bph atau 14,6% dari total produksi nasional. Sementara perusahaan asal Prancis PT Total E&P Indonesie menempati peringkat ketiga dengan tingkat produksi 64.788 bph atau sekitar 7,8% dari total produksi nasional.

Anak usaha Pertamina lainnya yaitu PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java merupakan kontributor keempat dengan tingkat produksi 38.178 bph, disusul perusahaan China  CNOOC SES Ltd yang menghasilkan minyak 36.331 bph.

Perusahaan minyak asal Amerika Serikat lainnya yaitu ConocoPhillips Indonesia berada di posisi enam dengan laju produksi 35.146 bph. Diikuti Chevron Indonesia Company (CICo) dengan memproduksi minyak 26.910 bph, serta Mobil Cepu Limited memproduksi sebanyak 24.083 bph.

Produksi minyak nasional memang sempat terganggu akibat cuaca yang buruk.  Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan selama seminggu terakhir telah terjadi berbagai masalah operasi akibat cuaca buruk maupun kendala peralatan operasi.

Gelombang di Laut Jawa mencapai tinggi 6 sampai 7 meter sehingga menyebabkan putusnya tali jangkar maupun hose (pipa salur) tanki penampungan minyak di lapangan lepas pantai Poleng yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Kejadian ini menyebabkan PHE WMO sempat hanya mampu berproduksi kurang dari 2.000 bph, padahal target dari PHE WMO adalah 25 ribu bph.

“Sekarang 6 dari 12 baut pada hose yang putus sudah berhasil dipasang, sehingga produksi akan kembali ke level 6.000 sampai dengan 7.000 bph,” ujar Gde.

Kerja keras dari pekerja lapangan juga berhasil menghidupkan kembali gas lift compressor pada lapangan yang dioperasikan oleh CICo di Selat Makassar.

Gde menambahkan faktor alam yang sedang tidak bersahabat menjadi kendala utama operasi dalam sepekan terakhir. Kondisi cuaca menyebabkan pemindahan rig untuk Lapangan Ujung Pangkah yang dioperasikan oleh HESS mengalami kendala sehingga terpaksa shutdown total dan mengakibatkan kehilangan produksi sekitar 13 ribu bph.

Beberapa kebocoran juga dialami oleh Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Meski dalam situasi sulit, para pekerja di lapangan-lapangan tersebut terus berupaya sekuat tenaga untuk mengembalikan produksi pada kondisi normal.

Upaya tersebut telah berhasil memulihkan berbagai permasalahan di lapangan. Produksi minyak di Ujung Pangkah sudah mencapai 5.000 bph dari target maksimum 14 ribu bph. Produksi gas juga sudah mulai normal mencapai 37 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Kilang elpiji juga akan mulai dioperasikan kembali.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada para pekerja di lapangan yang telah bekerja siang malam menghadapi gelombang besar demi mempertahankan produksi minyak nasional. Mereka adalah tulang punggung industri ini,” ujar Gde.

Dengan upaya keras tersebut, saat ini produksi minyak nasional naik dari level 806 ribu bph menjadi 825 ribu bph. Produksi diharapkan akan terus meningkat seiring dengan pulihnya operasi HESS dan lain-lain. Peningkatan produksi lebih lanjut diharapkan akan datang dari kegiatan pengeboran yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh PHE WMO.(Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya