Liputan6.com, Jakarta - Persaingan MotoGP 2022 masih berlanjut di Eropa. Usai balapan di Sachsenring, Jerman, seri selanjutnya berlangsung di Assen, Belanda, akhir pekan ini.
Fabio Quartararo difavoritkan memenangkan MotoGP Belanda. Rider Monster Energy Yamaha itu tengah dalam kepercayaan diri tinggi setelah dua kali beruntun memenangkan podium juara, yaitu di Catalunya dan Jerman.
Advertisement
Quartararo menjadi juara baru MotoGP Jerman yang berlangsung di Sirkuit Sachsenring, Minggu, 19 Juni lalu. Sebelumnya, podium juara selalu dimenangkan Marc Marquez delapan kali beruntung sejak 2013 silam.
Namun, tahun ini pembalap Repsol Honda itu harus merelakan takhtanya. Karena, Marquez kini tengah fokus dalam pemulihan cedera lengan.
Quartararo juga menjadi pembalap Yamaha pertama yang memenangkan MotoGP Jerman sejak Valentino Rossi bertakhta pada 2009 lalu. Mampukah pembalap Prancis itu melanjutkan performa bagusnya di MotoGP Belanda 2022, akhir pekan ini?
Sebelum menikmati sengitnya persaingan, simak data dan fakta menarik terkait balapan di Assen.
* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Kesuksesan Yamaha
- Assen menjadi satu-satunya venue yang menggelar Grand Prix setiap tahun sejak lahirnya Kejuaraan Dunia pada 1949 hingga 2019. Rentetan akhirnya terhenti pada 2020 dibatalkan karena pandemi.
- 2022 akan akan menjadi gelaran GP Belanda ke-73 di Assen.
- Sirkuit Assen pada awalnya sepanjang 16,54km, sebelum pada 1954 dikurangi menjadi 7,7km. Panjang trek menyusut lagi menjadi 6,1km pada 1985.
- Layout lintasan saat ini telah digunakan sejak 2006 dengan sejumlah modifikasi ringan.
- Pada 2016, Dutch TT digelar pada Minggu untuk pertama kalinya setelah pada tahun-tahun sebelumnya berlangsung pada Sabtu.
- Balapan 500cc pada Dutch TT 1975 merupakan satu-satunya balapan Grand Prix kelas premier di mana dua pembalap pertama yang melintasi finis mendapatkan catatan waktu yang sama.
- Kala itu Barry Sheene dan Giacomo Agostini menyelesaikan balapan dengan sangat ketat sehingga pencatat waktu saat itu, yang masih menggunakan jam manual dengan tingkat akurasi hingga 0,1 detik, tidak dapat menentukan siapa yang finis pertama.