Siapa penemu teori evolusi? Semua pasti akan menjawab, Charles Darwin. Tak ayal, di negaranya, Darwin dianggap sebagai ilmuwan terbesar Inggris Raya. Padahal, ada lagi sosok yang amat berjasa membangun teori soal asal-usul manusia itu: Alfred Russel Wallace.
Banyak orang yang meyakini, ilmuwan abad ke-19 itu, punya peran penting, bahkan menemukan frase "origin of spesies" -- atau asal-usul spesies, yang menjadi judul buku Darwin yang menggemparkan dunia. Wallace adalah "bapak evolusi yang terlupakan".
Ia juga dikenal dengan dengan konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna. Juga "efek Wallace", sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman dunia hewani.
Pria Inggris itu adalah seorang petualang, rajin melakukan penelitian lapangan. Di lembah Sungai Amazon, hingga Malay Archipelago, Kepulauan Melayu. Wallace bahkan memulis buku berjudul panjang, "The Malay Archipelago: The land of the orang-utan, and the bird of paradise. A narrative of travel, with sketches of man and nature".
Ia membagi Indonesia, yang bernama Hindia Belanda kala itu, dengan Garis Wallace, yang membagi nusantara ke dalam dua bagian berbeda.
Sekian lama diabaikan, hasil kerja Wallace kini dirayakan besar-besaran, 100 tahun setelah kematiannya, tahun 1913 lalu, dalam serangkaian acara di Museum Sejarah Alam London.
Potret besarnya dipajang, dekat patung Darwin yang terkenal. Korespondensinya diunggah di internet. Tak ketinggalan, sejumlah spesimen penting dipamerkan.
Wallace dan Darwin sama-sama menjadi penulis artikel ilmiah yang pertama kali mengajukan teori seleksi alam pada tahun 1858, setahun sebelum buku Darwin "On the Origin of Species" terbit.
Kurator museum sekaligus ahli Wallace, Dr George Beccaloni mengatakan, ini momentum tepat untuk kembali mengingatkan atas jasa Wallace pada ilmu pengetahuan.
"Prestasi luar biasa Wallace tidak dihargai, ketika ia hidup bahkan hingga saat ini. Ia bahkan kerap dibayang-bayangi nama besar Darwin," kata dia, seperti dimuat Daily Mail, (23/1/2013).
Terserang Demam di Halmahera
Lahir pada tahun 1823, Alfred Russel Wallace adalah salah satu ilmuwan besar abad ke-19.
Bukan hanya karena ia ikut menemukan proses evolusi melalui seleksi alam bersama Charles Darwin pada tahun 1858, tapi kontribusi besarnya pada biologi, glasiologi, land reform, antropologi, etnografi , epidemiologi, dan astrobiologi.
Karya rintisannya soal biogeografi evolusi, studi tentang bagaimana tumbuhan dan hewan terdistribusi, membuatnya menjadi "Bapak Biogeografi Evolusi".
Suatu hari di bulan Februari 1858, ketika Wallace terkena serangan demam di Desa Dodinga di Pulau Halamahera yang terpencil, tiba-tiba ide tentang seleksi alam sebagai mekanisme perubahan evolusioner, terlintas di benaknya.
Setelah cukup kuat, Wallace menulis esai rinci yang menjelaskan teori itu, lalu mengirimnya disertai surat pengantar kepada Charles Darwin, yang ia tahu dari korespondensi tertarik pada subjek evolusi.
Ia meminta Darwin untuk menyerahkan esai itu ke pengacara sekaligus geologi terkenal saat itu, Charles Lyell --jika Darwin menilainya pantas diterbitkan di jurnal terkemuka.
Pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui bukunya "The Origin of Species" tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi.(Ein)
Banyak orang yang meyakini, ilmuwan abad ke-19 itu, punya peran penting, bahkan menemukan frase "origin of spesies" -- atau asal-usul spesies, yang menjadi judul buku Darwin yang menggemparkan dunia. Wallace adalah "bapak evolusi yang terlupakan".
Ia juga dikenal dengan dengan konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna. Juga "efek Wallace", sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman dunia hewani.
Pria Inggris itu adalah seorang petualang, rajin melakukan penelitian lapangan. Di lembah Sungai Amazon, hingga Malay Archipelago, Kepulauan Melayu. Wallace bahkan memulis buku berjudul panjang, "The Malay Archipelago: The land of the orang-utan, and the bird of paradise. A narrative of travel, with sketches of man and nature".
Ia membagi Indonesia, yang bernama Hindia Belanda kala itu, dengan Garis Wallace, yang membagi nusantara ke dalam dua bagian berbeda.
Sekian lama diabaikan, hasil kerja Wallace kini dirayakan besar-besaran, 100 tahun setelah kematiannya, tahun 1913 lalu, dalam serangkaian acara di Museum Sejarah Alam London.
Potret besarnya dipajang, dekat patung Darwin yang terkenal. Korespondensinya diunggah di internet. Tak ketinggalan, sejumlah spesimen penting dipamerkan.
Wallace dan Darwin sama-sama menjadi penulis artikel ilmiah yang pertama kali mengajukan teori seleksi alam pada tahun 1858, setahun sebelum buku Darwin "On the Origin of Species" terbit.
Kurator museum sekaligus ahli Wallace, Dr George Beccaloni mengatakan, ini momentum tepat untuk kembali mengingatkan atas jasa Wallace pada ilmu pengetahuan.
"Prestasi luar biasa Wallace tidak dihargai, ketika ia hidup bahkan hingga saat ini. Ia bahkan kerap dibayang-bayangi nama besar Darwin," kata dia, seperti dimuat Daily Mail, (23/1/2013).
Terserang Demam di Halmahera
Lahir pada tahun 1823, Alfred Russel Wallace adalah salah satu ilmuwan besar abad ke-19.
Bukan hanya karena ia ikut menemukan proses evolusi melalui seleksi alam bersama Charles Darwin pada tahun 1858, tapi kontribusi besarnya pada biologi, glasiologi, land reform, antropologi, etnografi , epidemiologi, dan astrobiologi.
Karya rintisannya soal biogeografi evolusi, studi tentang bagaimana tumbuhan dan hewan terdistribusi, membuatnya menjadi "Bapak Biogeografi Evolusi".
Suatu hari di bulan Februari 1858, ketika Wallace terkena serangan demam di Desa Dodinga di Pulau Halamahera yang terpencil, tiba-tiba ide tentang seleksi alam sebagai mekanisme perubahan evolusioner, terlintas di benaknya.
Setelah cukup kuat, Wallace menulis esai rinci yang menjelaskan teori itu, lalu mengirimnya disertai surat pengantar kepada Charles Darwin, yang ia tahu dari korespondensi tertarik pada subjek evolusi.
Ia meminta Darwin untuk menyerahkan esai itu ke pengacara sekaligus geologi terkenal saat itu, Charles Lyell --jika Darwin menilainya pantas diterbitkan di jurnal terkemuka.
Pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui bukunya "The Origin of Species" tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi.(Ein)