Liputan6.com, Maluku: Untuk pertama kali, setelah terjadinya konflik beberapa tahun silam, dua kelompok agama yang bertikai di Maluku berkumpul dalam jumlah besar. Mereka duduk dalam satu meja untuk menghadiri acara pengukuhan Raja Negeri Tulehu di Desa Tulehu, baru-baru ini. Dua kelompok warga--Islam dan Kristen--juga menyepakati untuk mempererat kembali budaya pela gandong yang sempat terganggu konflik berkepanjangan. Bahkan, kerja sama di antara mereka sudah dimulai sejak masa persiapan acara. Sekadar diketahui, pela gandong adalah tradisi yang mengandung nilai-nilai budaya lokal dan tertanam kuat di masyarakat Maluku. Dalam budaya itu, semua orang Ambon bersaudara dan cinta damai. Konon, jika satu kelompok membangun rumah ibadah, kelompok lainnya bahu membahu membantu.
Dari pemantauan SCTV, warga Desa Hulalui dan Paperu di Pulau Haruku serta Saparua yang beragama Kristen berbondong-bondong mendatangi Desa Tulehu yang mayoritas memeluk Islam. Yang menarik, tak seorang aparat keamanan pun menjaga acara ini. Warga Desa Tulehu sebagai tuan rumah memang sudah menjamin dan bertekad melindungi para tamu yang hadir dalam ritual tersebut. Seusai acara, kedua kelompok juga sepakat untuk membuka kembali seluruh jalur laut yang sempat tertutup akibat konflik. Dengan begitu, transportasi laut di Maluku, terutama di Tulehu dan Maluku Tengah kembali normal.(SID/Sahlan Heluth)
Dari pemantauan SCTV, warga Desa Hulalui dan Paperu di Pulau Haruku serta Saparua yang beragama Kristen berbondong-bondong mendatangi Desa Tulehu yang mayoritas memeluk Islam. Yang menarik, tak seorang aparat keamanan pun menjaga acara ini. Warga Desa Tulehu sebagai tuan rumah memang sudah menjamin dan bertekad melindungi para tamu yang hadir dalam ritual tersebut. Seusai acara, kedua kelompok juga sepakat untuk membuka kembali seluruh jalur laut yang sempat tertutup akibat konflik. Dengan begitu, transportasi laut di Maluku, terutama di Tulehu dan Maluku Tengah kembali normal.(SID/Sahlan Heluth)