Suka Duka Kuli Panggul di Tanjungpriok

Profesi kuli panggul di pelabuhan, memang memerlukan fisik yang kuat. Seorang kuli panggul ternyata masih bertahan dengan usia yang mendekati senja.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 Februari 2003, 08:22 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pekerjaan apa pun asalkan halal adalah baik. Apalagi, seseorang terkadang tak dapat memilih jenis pekerjaan yang akan digelutinya. Menjadi kuli panggul di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara, misalnya. Selain membutuhkan tenaga dan fisik yang kuat, para buruh kasar itu juga harus gesit. Bukan apa-apa, soalnya mereka harus bersaing dengan puluhan hingga ratusan rekan sekerja. Mereka berebut mengais rezeki dengan menawarkan jasa memanggul barang-barang penumpang yang baru turun maupun naik ke kapal. Sepintas, mereka yang berumur muda saja yang dianggap mampu bekerja. Namun bagi Miun, usia 70 tahun bukanlah halangan mengerjakan profesi sebagai kuli panggul.

Di tengah kesibukannya, baru-baru ini, Miun menceritakan suka duka menjadi kuli panggul. Dia mengaku sudah menekuni profesi sebagai kuli panggul selama 40 tahun. Miun memang tak mempunyai pilihan lain. Ia juga menyadari keadaannya yang buta huruf karena tak sempat mengenyam bangku sekolah menyebabkan minimnya jenis pekerjaan yang mampu digelutinya. Pada akhirnya, Miun mau tak mau hanya dapat mengandalkan ototnya yang kuat sebagai modal bekerja.

Seiring usia yang mendekati senja, menjadi kuli panggul di pelabuhan, ternyata bukanlah hal yang mudah bagi Miun. Lelaki tua ini mengaku cukup sulit bersaing dengan sekitar 200 lebih rekan-rekannya yang relatif masih muda dan memiliki tenaga lebih kuat. Kondisi fisik yang sudah cukup tua itu tak menyebabkan Miun kehilangan akal. Untuk mengangkut barang-barang penumpang kapal dengan berat di atas 50 kilogram, Miun menggunakan gerobak miliknya sendiri. Gerobak itu dibuatnya dengan modal Rp 200 ribu. Namun, ia akan memanggul sendiri barang-barang yang beratnya di bawah 50 kg.

Dengan memanfaatkan gerobaknya, Miun terkadang memperoleh upah Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu untuk sekali angkut barang yang jumlahnya antara satu hingga lima koli [satu koli sama dengan sembilan kg--Red]. Meski dengan segala keterbatasan yang ada, Miun menjalani pekerjaannya ini dengan senang hati. Dia bahkan tak berniat pensiun sebagai kuli panggul. Bila benar-benar tak sanggup bekerja lagi, barulah Miun berhenti.(ANS/Rieke Amru dan Bambang Triyono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya