Ali Imron: Pengebom Bali adalah Kelompok Kami

Tersangka Kasus Bom Bali Ali Imron mengaku pengeboman di Legian, murni dilakukan kelompoknya tanpa campur tangan kekuatan lain. Peledakan ditujukan untuk warga AS dan sekutunya.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Februari 2003, 18:00 WIB
Liputan6.com, Denpasar: Tersangka utama peledakan Bom Bali Ali Imron menegaskan, pelaku pengeboman adalah kelompoknya dan tidak melibatkan organisasi atau pihak lain. Jadi tidak ada yang menunggangi dan tak ada yang menyokong seperti yang diberitakan selama ini. Demikian dikemukakan Ali Imron dalam jumpa pers di Markas Kepolisian Daerah Bali di Denpasar, Selasa (11/2). Dalam kesempatan itu, Ali Imron didampingi Ketua Tim Investigasi Bom Bali Inspektur Jenderal Polisi I Made Mangku Pastika.

Ali Imron juga meminta masyarakat Indonesia dan internasional mempercayai keterangannya itu. Menurut dia, peledakan tersebut murni dilakukan kelompoknya. "Sebagai orang Islam saya bersumpah, wallah (demi Allah-Red), peledakan itu murni dilakukan kelompok kami," kata Ali Imron.

Malah dengan setengah berkelakar, adik Amrozi ini mengatakan, kemampuan kelompoknya sebagai anak bangsa Indonesia merancang bom patut dibanggakan. Namun, lanjut Ali Imron, patut juga disalahkan karena salah penerapannya. Kontan saja, pernyataan Ali Imron mengundang tawa wartawan.

Lebih lanjut, Ali Imron berharap setelah konferensi pers ini tak ada lagi cekcok atau silang pendapat soal pengebom Bali. Bila ada yang masih meragukan kelompoknya, baik militer, polisi, atau siapa pun, dia mempersilahkan untuk mengecek langsung.

Ketika seorang wartawan asing menanyakan penyebab dijadikannya Kuta sebagai sasaran peledakan bom, dia menjawab bahwa niat peledakan itu adalah jihad fisabilillah dengan sasaran orang Amerika Serikat dan sekutunya. "Karena merekalah teroris yang sesungguhnya," kata Ali Imron, tenang.

Sedangkan mengenai keragu-raguan sejumlah pihak tentang keterlibatan Kelompok Tenggulun dalam pengeboman Bali, masih dengan gaya berkelakar, Ali Imron mengatakan bahwa sebenarnya Amrozi tak tahu menahu soal bom. "Dia tahunya hanya belanja saja," kata Ali. Adik Amrozi ini juga mengaku marah kepada yang meragukan kemampuannya dalam operasi peledakan itu. "Saya tentu marah karena saya alumni jihad Afghanistan saat melawan Rusia," ujar Ali Imron. Dia juga membantah bila Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir terlibat dalam pengeboman Bali. "Saya selama ini tidak pernah menjalankan perintah Beliau (Ba`asyir)," tegas Ali Imron.

Tapi pernyataan Ali Imron itu diragukan Tim Pembela Muslim (TPM). Satu di antara anggota TPM Made Rahman meyakini ada pihak luar yang ikut membantu kelompok Ali Imron. "Seandainya benar pengakuan Ali Imron tak terkait dengan pihak luar, mengapa polisi tidak melanjutkan rekonstruksi di Lamongan" kata Made Rahman. Dia memperkirakan, keterangan Ali Imron hanya untuk mengalihkan kemungkinan keterkaitan Ba`asyir dalam kasus itu. Dia juga meragukan kemampuan kelompok Ali Imron dalam peledakan tersebut. "Sangat sulit dipercaya kelompok ini bisa membuat bom sedahsyat itu," jelas Made.

Sementara itu, rekonstruksi peledakan bom di depan Kedutaan Besar AS di Legian, kelar dilakukan. Dalam reka ulang ini diketahui Ali Imron-lah yang menjadi operator lapangan peledakan bom. Kala itu, Ali Imron betugas mengawasi dan memata-matai kondisi di sekitar sasaran peledakan. Saat itu, dia mengendarai sepeda motor. Kendaraan itu sengaja dipasangi tiga tombol yang berfungsi mampu menghentikan motor supaya tampak rusak. Kondisi itu diperlukan sepanjang pengawasan sasaran lokasi peledakan.

Sedangkan mengenai peledakan bom Sari Club di Jalan Legian, Ali Imron mengaku hanya menyetir mobil Mitsubishi L-300 sampai di pertigaan jalan [baca: Ali Imron Mengaku Menyetir Mitsubishi L-300]. Tidak sampai ke depan Sari Club, seperti yang diberitakan selama ini. Selanjutnya dia menyerahkan kemudi mobil yang mengangkut sekitar satu ton bahan peledak itu kepada Acong alias Iqbal alias Jimmy. Bahkan, dia sempat menanyakan kepada Acong bila tombol pengontrol sudah diaktifkan. "Nanti saja," kata Ali Imron, mengutip perkataan Acong kala itu. Setelah menyerahkan kemudi kepada Acong, kemudian Ali Imron menumpang sepeda motor yang dibawa Idris.

Tapi dalam rekonstruksi itu, Ali Imron tak menjelaskan soal bom bunuh diri di Paddy`s Cafe. Dia hanya mengatakan, setiap individu sudah punya tugas masing-masing. Dan, tiap orang memegang remote control atau pengontrol jarak jauh. "Jadi kalau orang pertama gagal melakukan, maka orang kedua bisa menggantikan tugasnya," kata Ali Imron.

Ketua Tim Investigasi Bom Bali I Made Mangku Pastika juga mengatakan, soal bom bunuh diri di Paddy`s Cafe masih bisa diperdebatkan. Buktinya ada penjagaan berlapis dari para pelaku. Misalnya, kalau orang pertama gagal, eksekutor kedua langsung beraksi. Jadi, menurut Pastika, ada kemungkinan bom diledakan melalui alat kontrol. Tapi, hingga kini polisi belum melakukan penyidikan ke arah tersebut.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya