Semua Kena Terjang Imbas Perang Rusia Ukraina, Ekonomi AS Diramal Melambat hingga Eropa Resesi

Perang Rusia Ukraina memberi dampak meluas ke semua negara di dunia.

oleh Natasha AmaniDiperbarui 07 Maret 2022, 17:46 WIB
Ekonomi dunia ilustrasi (foto: pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah invasi Rusia ke Ukraina, ekonomi Amerika Serikat diprediksi akan tumbuh lebih lambat karena tingginya inflasi. 

Dilansir dari CNBC International, Senin (7/3/2022) sementara ekonomi Eropa diprediksi akan mendekati resesi, dan mata uang Rusia kemungkinan bisa melihat penurunan hingga dua digit.

CNBC Rapid Update memprediksi PDB AS bakal naik 3,2 persen tahun ini. Angka tersebut menandai menurunnya perkiraan PDB AS hingga 0,3 persen dari prediksi sebelumnya pada bulan Februari.

Meski demikian, angka ini masih di atas tren pertumbuhan karena AS terus bangkit kembali dari penyebaran Covid-19 Omicron secara bertahap.

Namun, para peramal mengatakan sejauh ini masih belum diketahui bagaimana ekonomi AS akan menanggapi lonjakan harga minyak mentah yang mencapai di atas USD 126 per barel, dan harga bensin yang rata-rata di atas USD 4 per galon.

"Harga energi melonjak, dan mungkin tetap lebih tinggi secara terus-menerus, tetapi saya memperkirakan banyak kenaikan yang terlihat dalam beberapa hari terakhir akan surut dalam beberapa bulan, yang berartidampak jangka pendek pada pertumbuhan dan inflasi," kata Ekonom  Amherst Pierpont, Stephen Stanley.

Dampak Ekonomi Terburuk dari Konflik Rusia-Ukraina Diprediksi Bakal Terjadi di Eropa

Pengungsi, sebagian besar wanita dan anak-anak, tiba di perbatasan di Medyka, Polandia, Sabtu (5/3/2022). Mereka melarikan diri dari invasi Rusia di Ukraina. (AP Photo/Markus Schreiber)

Sebagian besar prediksi melihat efek ekonomi terburuk dari konflik Rusia-Ukraina akan dihadapi Eropa.

Bank dari Inggris, Barclays menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Eropa tahun ini menjadi 3,5 persen dari 4,1 persen bulan lalu.

“Melonjaknya harga komoditas dan penghindaran risiko di pasar keuangan adalah penularan utama, menyiratkan kejutan stagflasi global, dengan Eropa menjadi wilayah yang paling berisiko” kata Barclays.

Dengan adanya serangkaian sanksi dari negara Barat atas invasi di Ukraina, Rusia diperkirakan akan melihat dampak ekonomi paling parah.

Prediksi JPMorgan menunjukkan bahwa Rusia akan melihat penurunan PDB hingga 12,5 persen karena ekonomi negara itu tengah dilanda dampak sanksi yang telah membekukan USD 630 miliar cadangan devisa.

Sedangkan prediksi oleh Institute for International Finance (IIF), melihat kontraksi ekonomi Rusia hingga 15 persen -  dua kali lipat penurunan dari krisis keuangan global.

"Kami melihat risiko terdalam. Rusia mungkin tidak akan pernah sama lagi," kata Kepala Ekonom IIF, Robin Brooks.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya