NASA Menyelidiki Reruntuhan Columbia

NASA masih menyelidiki reruntuhan Pesawat Ulang-Alik Columbia yang meledak di Texas, AS. Presiden George W. Bush menetapkan Texas dan Lousiana sebagai kawasan darurat.

oleh Liputan6Diterbitkan 02 Februari 2003, 18:04 WIB
Liputan6.com, Texas: Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) masih menyelidiki secara intensif reruntuhan Pesawat Ulang-Alik Columbia yang meledak di langit Texas, AS, kemarin pagi waktu setempat. Polisi juga sudah memulai pencarian tujuh jenazah astronot Columbia yang dipastikan tewas. Untuk mempermudah penyelidikan, garis polisi dibentangkan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat nahas tersebut. Warga juga diimbau untuk tak mendekati tempat kejadian. Hingga Ahad (2/1) ini, polisi sudah menemukan sejumlah potongan tubuh yang diyakini sebagai milik korban [baca: Pesawat Ulang-Alik Columbia Meledak, Tujuh Tewas].

Sejauh ini, NASA belum berani menyimpulkan penyebab kecelakaan. Namun, mereka mengakui bahwa sejumlah transmisi data kunci di bagian kiri orbiter hilang beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi. Data ini diperkuat dengan hilangnya beberapa sensor, seperti sensor suhu pada sistem hidrolik sebelah kiri. Problem ini kemudian diikuti hilangnya tekanan pada ban pesawat dan indikasi pemanasan struktural yang berlebihan.

Musibah terbakarnya Columbia saat memasuki atmosfer bumi adalah terjadi pertawa kali dalam sejarah penerbangan antariksa AS. Beberapa saat setelah kejadian, Presiden AS George Walker Bush langsung menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Bush juga menelepon Perdana Menteri Israel Ariel Sharon untuk menyampaikan kabar turut berduka kepada rakyat Israel, terutama keluarga Ilan Ramon, astronot pertama Negeri Zionis yang turut tewas dalam peristiwa tersebut.

Kepada Direktur Federal Emergency Management Agency (FEMA) atau Badan Manajemen Darurat Federal Joe Allbugh, Bush menetapkan sebagian wilayah Negara Bagian Texas dan Lousiana sebagai kawasan darurat. Sebab, menurut NASA, reruntuhan Columbia bisa membahayakan manusia karena mengandung racun.

Keputusan Bush itu memberi wewenang kepada FEMA buat menerima dana untuk mengkoordinasikan operasi pencarian korban dan pengamanan. Sebagai pemimpin operasi tersebut, Bush menunjuk Deputi Direktur FEMA yang merangkap Menteri Muda Keamanan Dalam Negeri Bidang Kesiapan dan Respon Darurat Michael Brown.

Kecelakaan yang menimpa pesawat buatan 1981 itu terjadi pada ketinggian 63 kilometer di atas bumi dengan kecepatan 20 ribu kilometer per jam. Pesawat ini baru saja menuntaskan misinya yang ke-28, setelah lepas landas pada 16 Januari 2003.

Dalam rekaman gambar layar monitor NASA terlihat adanya jejak asap putih dari pecahan badan pesawat. Seorang saksi mata di Dallas, Texas, menyebutkan, dirinya mendengar suara ledakan keras sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat. Sedangkan NASA menyatakan bahwa pesawat itu hilang dari layar monitor sekitar pukul 09.15 waktu Florida atau jam 21.15 WIB.

Columbia yang sebelumnya dinamai The Boston itu adalah pesawat ulang-alik tertua milik NASA. Columbia menjadi pesawat ulang-alik pertama Amerika yang bersayap, selain Discovery, Atlantis, Endeavour, dan Challenger--yang juga mengalami kecelakaan. Columbia pertama kali melakukan uji coba peluncuran pada 12 April 1981. Setelah itu, pesawat angkasa luar itu pernah menjalani 100 kali lebih modifikasi di pabrik pesawat Rockwell International`s Palmdale, California. Perbaikan yang menelan biaya $70 juta itu menjadikan Columbia bisa lebih lama mengorbit di angkasa luar.

Akibat insiden yang menimpa Columbia, pemerintah Negeri Paman Sam terpaksa menangguhkan misi angkasa luarnya. Dengan begitu, misi selanjutnya yang sedianya akan dilakukan 1 Maret 2003 ditunda hingga NASA menemukan jawaban pasti mengenai penyebab terbakarnya Columbia.(SID/Uri)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya