Menilik Derby Milan dari Kacamata Rayana Djakasurya: Rivalitas Penuh Tekanan Mental

Inter bakal menghadapi Milan dalam Derby della Madonnina yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (6/2/2022) dini hari WIB

oleh Theresia Melinda IndrasariDiterbitkan 05 Februari 2022, 20:30 WIB
Gelandang Inter Milan, Hakan Calhanoglu mencetak gol pertama timnya melalui tendangan penalti ke gawang AC Milan pada pertandingan Liga Serie A Italia di stadion San Siro, di Milan, Italia, Senin (8/11/2021). AC Milan bermain imbang atas Inter Milan 1-1. (AP Photo/Antonio Calani)

Liputan6.com, Jakarta - Duel sengit bakal tersaji antara rival sekota Inter Milan melawan AC Milan dalam laga Serie A yang berlangsung di Giuseppe Meazza pada Minggu (6/2/2022) pukul 00.00 WIB. Pertandingan ini menjadi duel klasik dan penuh sejarah di kancah sepak bola Italia.

Pasalnya, Nerazzurri dan Rossoneri memang telah lama dikenal sebagai kompetitor tangguh bagi satu sama lain. Keduanya pun saat ini tengah bertengger di peringkat tiga besar klasemen sementara Serie A.

Inter berada di posisi puncak dengan torehan 53 poin dan rekor tak terkalahkan dalam lima pertandingan terakhir. Sementara itu, Milan menyusul di posisi ketiga setelah mengoleksi 49 poin serta meraih tiga kemenangan dari lima laga sebelumnya.

Pengamat sekaligus komentator legendaris Serie A era 90-an Rayana Djakasurya menilai, Inter dan Milan sejatinya punya kekuatan yang hampir sama. Kedigdayaan dua klub tersebut tak lepas dari sosok pemilik yang berdiri di belakangnya.

“Ini tidak terlepas dari (sosok-sosok) yang punya Inter dan AC Milan. Kedua pemilik dari tim ini adalah orang-orang yang berpengaruh,” ujar Rayana ketika dihubungi oleh Liputan6.com via telepon pada Sabtu (5/2/2022).

“Sampai sekarang, Milan tetap dibina dalam suatu kekuatan, dalam kualitas, begitu pula Inter. Itu menunjukkan bahwa dua warna ini sangat kuat dalam industri mereka. Dua-duanya hampir sama dan mempunyai kekuatan yang sama,” sambungnya.


Kepindahan Pemain

Hakan Calhanoglu memutuskan hengkang dari AC Milan ke klub rival sekutanya, Inter Milan. Seperti Pedro, Calhanoglu langsung mencetak gol di laga pertama menghadapi sang mantan lewat tendangan penalti. Sayangnya, laga tersebut berakhir imbang. (AFP/Tiziana Fabi)

Meski punya rivalitas tajam, tak sedikit pemain memutuskan membelot dari Inter menuju AC Milan, maupun sebaliknya. Pada 2021, Halkan Calhanoglu menambah panjang daftar penggawa yang pernah merumput bersama Inter dan Milan.

Pemain berkebangsaan Turki itu resmi berseragam Nerazzuri usai kontraknya habis dengan AC Milan. Ia dikabarkan masih akan memperkuat skuad asuhan Simone Inzaghi hingga 30 Juni 2024.

Ketegangan antara Inter Milan dan AC Milan sempat memanas akibat Calhanoglu. Dalam derby tahun lalu, Calhanoglu melancarkan selebrasi provokatif usai mencetak gol dari titik putih penalti. Lesakan tersebut mengantar Inter bermain imbang 1–1 dengan pesaingnya.

Transfer dan kepindahan pemain sejatinya merupakan hal yang lumrah dalam industri sepak bola. Akan tetapi menurut Rayana, hal itu bisa saja dianggap sebagai tindakan yang menghina oleh para tifosi–golongan penggemar di Italia.

Lanjut Baca:

“Kalau ada perpindahan (pemain), biasanya dalam industri dianggap normal. Akan tetapi bagi tifosi, ini adalah pembawa keberkahan yang pindah menjadi pengkhianat. Bisa saja itu (dianggap) sebagai (hal) yang menghina,” ungkap Rayana dalam kesempatan yang sama. “Memang dari evolusi sepak bola Italia, Inter dan Milan termasuk (skuad) yang bisa digarisbawahi sebagai tim-tim berkualitas. Ambisi mereka tidak bisa diabaikan, dan juga para pemain yang dibeli, yang bercokol di situ,” katanya lagi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya