Budaya Sensor Mandiri, Tameng Penjaga Penonton Cilik dalam Era Digital

LSF memberikan panduan Budaya Sensor Mandiri untuk mempermudah orangtua mengontrol anak-anaknya dalam mengakses media.

oleh Liputan6.comDiperbarui 23 Desember 2021, 16:15 WIB
LSF memberikan panduan Budaya Sensor Mandiri untuk mempermudah orangtua mengontrol anak-anaknya dalam mengakses media. (Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta Dalam era digital seperti saat ini, rasanya sudah jamak melihat “keakraban” anak dan remaja dengan gadget. Bahkan anak prasekolah pun kini sudah piawai memainkan gawai, termasuk mencari-cari sendiri tontonan di platform streaming. Mereka dengan mudah menyaksikan tayangan edukasi hingga serial animasi dari negeri seberang.

Namun diam-diam ada keresahan di hati orangtua melihat anak-anaknya dengan mudah mengakses tontonan di internet. Salah satunya Henni Lisyafaati (35), ibu tiga anak yang tinggal di Tangerang.

Saat anak-anaknya mengakses YouTube atau platform streaming berbayar lain, ia memang berusaha untuk selalu menemani mereka. Namun saat si sulung makin besar, putranya yang kini berusia 10 tahun mulai menyaksikan tontonan ini sendiri.

“Iya, suka kepikiran banget. Takut ada tontonan yang terlalu sadis atau soal seksualitas,” tuturnya saat berbincang dengan Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Meski khawatir, ia yakin anaknya sudah mengetahui tayangan yang layak untuknya. Seperti diketahui, salah satu parameter untuk ini adalah rating usia seperti yang telah disusun oleh Lembaga Sensor Film atau LSF, salah satu unsur dalam Budaya Sensor Mandiri.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pengaruh Tontonan Kekerasan

Psikolog Oktina Burlianti dalam acara Dear Netizen di KLY Office Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/11/2019). (Liputan6.com/Andika Zulfikar)

Kekhawatiran Henni mungkin juga menjadi beban serupa di pikiran orangtua lain. Kecemasan ini memang sangat beralasan. Pasalnya tayangan yang tak sesuai dengan umur anak memang memiliki efek yang sangat berbahaya.

“Tayangan seperti pornografi dan juga kekerasan. Kekerasan di sini tak hanya yang bersifat fisik tapi juga verbal dan psikis,” tutur psikolog Oktina Burlianti kepada Liputan6.com. Tayangan seperti ini, ujarnya, berpengaruh kepada perilaku anak—termasuk dalam tingkat agresivitas.

“Karena tontonan itu adalah sesuatu yang kita bawa ke area personal, sementara anak belajar dengan mencontoh, dengan melihat,” tambahnya.

Ucapan wanita yang juga merupakan Direktur Program Sekolah Citta Bangsa ini didukung sejumlah penelitian dari pakar di bidang psikologi. Dilansir dari laman American Psychological Association, National Institute of Mental Health pada 1982 melaporkan sejumlah efek tontonan kekerasan kepada anak.

Lanjut Baca:

Tiga di antaranya adalah penonton cilik memiliki kemungkinan menjadi kurang sensitif atas penderitaan orang lain, lebih takut terhadap dunia sekitar, hingga bisa jadi berlaku lebih agresif atau membahayakan orang lain. Penelitian dari Profesor Psikologi Universitas Stanford, Alex Bandura, juga mendapati bahwa tingkah agresif anak, sebagian dipengaruhi oleh apa yang mereka saksikan. Ia menjabarkan bahwa tindakan belajar dengan melihat dan meniru orang lain, alih-alih dari pengalaman sendiri, disebut sebagai social learning.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya