Amien Rais: Sinyalemen BIN Bisa Menyesatkan

Ketua MPR Amien Rais mengimbau empat tokoh yang disebut-sebut berada di belakang aksi mahasiswa menemui Kepala BIN. "Saya memang biasa dituduh," kata Adi Sasono, seorang tertuduh itu.

oleh Liputan6Diterbitkan 21 Januari 2003, 20:23 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Badan Intelijen Negara menyebutkan ada empat tokoh yang mendalangi berbagai unjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan telepon. Keempat tokoh yang disebut-sebut itu adalah Fuad Bawazier, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Wiranto, Ketua Umum Partai Nasionalis Bung Karno Eros Djarot, dan mantan Menteri Koperasi Adi Sasono.

Sinyalemen BIN sontak memancing Ketua MPR Amien Rais berbicara. Awal pekan ini, dia menyatakan bahwa tuduhan tersebut bisa menyesatkan. Lantaran itulah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional ini mengimbau BIN duduk bersama keempat orang tersebut. Tujuannya untuk mengklarifikasi tuduhan itu secara kekeluargaan. "Sebelum menjadi berantakan, ada pro-kontra dan saling curiga, alangkah baiknya keempat tokoh itu bertemu Kepala BIN Hendropriyono. Lantas saking tukar pendapat, atas dasar apa mereka dituduh," kata Amien. Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan bahwa demonstrasi yang terjadi selama ini adalah reaksi alami.

Pendapat serupa dikatakan Adi Sasono ketika berdialog dengan Arief Suditomo di Studio Liputan 6 SCTV, Selasa petang. Adi mengatakan bahwa rakyat memang marah terhadap kebijakan tersebut. Terutama dipicu pemerintah Megawati Sukarnoputri yang tak kuasa menghadapi tekanan asing sehingga mencabut subsidi BBM. Bahkan, kenyataan yang ada, tak cuma mahasiswa saja yang demo. "Kalangan buruh dan pengusaha yang biasanya berseberangan sekarang bisa duduk bersama," kata Adi.

Mantan Direktur Centre for Information and Development Studies (CIDES) ini mengaku tak mengetahui alasan BIN menuduh berada di belakang aksi mahasiswa. "Saya memang biasa dituduh sejak zaman Soeharto," Adi melanjutkan. Yang jelas, seseorang tak bisa begitu saja menggerakkan mahasiswa di banyak kampus. Apalagi, mahasiswa sekarang juga jauh lebih cerdas ketimbang dahulu.

Namun, Adi berusaha menarik benang merah dari situasi akhir-akhir ini yang berbuntut sinyalemen BIN tersebut. Menurut dia, cara tersebut memang kerap dilakukan sebuah rezim represif di negara mana pun. Pemerintah yang seperti itu, bila tak mampu menyelesaikan masalah, akan mencari kambing hitam. "Meski sekarang Tahun Kambing, kan bukan berarti mencari kambing hitam. Ini mengesankan sebuah kemalasan berpikir," ujar Adi.

Adi juga menyarankan bahwa dalam menghadapi asing, sebaiknya pemerintah menentukan sikap yang menguntungkan rakyat. "Pihak asing jangan dilayani. Mandat kita kan di rakyat. Jangan membungkuk pada asing untuk menekan rakyat," kata Adi. Menyoal anjuran Ketua MPR Amien Rais agar dirinya menemui Kepala BIN, Adi mengatakan akan menelepon Hendropriyono. Kendati begitu, Adi meragukan bahwa tuduhan tersebut berasal dari Kepala BIN. "Saya kenal Hendropriyono. Dia orang pintar. Saya pikir orang pintar tak akan kasih laporan bodoh seperti ini," Adi menambahkan.

Sedangkan ketika ditanya mengenai sikapnya terhadap kenaikan harga BBM, Adi menegaskan bahwa dirinya berada di belakang rakyat. Dengan kata lain, Adi hendak mengatakan bahwa suaranya sama dengan yang dilontarkan mahasiswa, buruh, dan kaum ibu, yang menolak kenaikan harga tiga komoditas penting.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Partai Nasionalis Bung Karno Eros Djarot membantah tuduhan sebagai orang di belakang unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, listrik, dan telepon. Menurut Eros, demonstrasi adalah refleksi dari kekecewaan mereka atas kondisi sekarang. Sama halnya Adi Sasono, Eros juga mengaku berada di belakang rakyat. Tapi, itu bukan berarti sebagai penggerak unjuk rasa [baca: Eros Djarot Membantah Menggerakkan Unjuk Rasa].(SID)

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya