Mengalap Berkah di Gunung Kawi

Dua makam itu dipercaya dapat mengabulkan segala macam permohonan para pengunjung melalui penyampaian doa, pemberian sesajen atau kegiatan kendurian.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Januari 2003, 13:32 WIB
Liputan6.com, Malang: Malam tampak cerah. Sinar rembulan sempurna menembus muka bumi. Hembusan angin lembut menerpa. Terlihat sekelompok orang berkumpul di depan dua undukan tanah yang dikelilingi tumpukan bata dalam sebuah bangunan tua. Asap mengepul. Mereka tepakur. Mulut komat-kamit dengan wajah tertunduk menghadap tanah. Khusyuk. Mereka berharap dan percaya dapat mengalap berkah dari tempat itu. Hari itu tepat 5 Januari 2003.

Tak ada yang tahu pasti sejak kapan kedua makam di Gunung Kawi--sekitar 40 kilometer barat daya Malang, Jawa Timur, dengan tinggi 2.681 meter di atas permukaan laut--itu ramai dikunjungi orang dari berbagai agama dan kalangan. Yang jelas, ritual setiap 5 Januari itu sudah berlangsung puluhan tahun silam. Biasanya mereka berkumpul selepas Magrib di depan makam Kiai Zakaria II atau lebih dikenal Mbah Joeggo. Cucu Pangeran Diponegoro ini dimakamkan pada 1871. Pusara kedua yang menjadi tujuan para pemuja adalah makam Raden Mas Imam Soejono alias Mbah Soejono. Bangsawan Kerajaan Mataram ini dikubur lima tahun setelah kematian Mbah Joeggo.

Dua makam ini dipercaya dapat mengabulkan segala macam permohonan para pengunjung melalui penyampaian doa, pemberian sesajen atau kegiatan kendurian. Namun khusus untuk ritual kenduri, para juru kunci pengelola makam melalui Yayasan Ngesti Gondo mengatur jadwal tiga kali sehari: jam 10.00 WIB, jam 15.00 WIB, dan pukul 21.00 WIB. Sudah begitu pun masih harus membuat janji terlebih dahulu. Selain berdoa di depan pusara, para pengunjung juga kerap mendekati pohon ndaru dewa yang tumbuh di sekeliling kompleks makam. Mereka percaya orang yang kejatuhan buah ndaru akan mendapat tambahan keberuntungan. Dan permohonan yang disampaikannya lebih cepat terpenuhi.

Malam itu, warga Desa Wonosari, Kecamatan Ngajum, Malang, menggelar pengajian. Tepat 1 Selo menurut kalender Jawa atau pas kelahiran Mbah Joeggo. Para pengurus Yayasan Ngesti Gondo mulai berbenah. Hidangan untuk peserta khaul mulai dimasak di dapur yayasan. Tempat yang juga digunakan buat memasak makanan kenduri bagi para pengunjung makam. Setelah semua hidangan tertata rapi, khaul pun segera dimulai. Prosesi khaul diikuti para pengurus yayasan, juru kunci makam, dan warga setempat.

Khaul dimulai. Ritual tahunan ini diisi pengajian dan doa bersama di depan makam Mbah Joeggo dan Mbah Soedjono. Upacara tak sekadar perayaan hari kelahiran Mbah Joeggo, namun juga sebagai wujud terima kasih karena keberadaan makam kedua tokoh sudah membawa berkah bagi warga sekitar. Saat khaul berlangsung, sebuah keluarga juga terlihat bersembahyang bersama pengunjung lain di dalam kelenteng yang sengaja dibangun di dekat makam kramat. Kelenteng dibangun dengan tujuan agar para pengunjung dari warga Tionghoa dapat turut meminta berkah.

Ritual yang dilakukan keluarga itu sama dengan warga setempat. Mereka juga menyerahkan sesaji melalui seorang juru kunci dan berdoa di depan makam. Bila doa sudah dipanjatkan, juru kunci lain akan membimbing ritual untuk menyampaikan permohonan yang diinginkan. Menjelang tengah malam, semua permohonan telah diutarakan. Kenduri ditutup dengan makan bersama. Hidangan yang disajikan adalah makanan yang diolah para juru masak Yayasan Gunung Kawi atas biaya keluarga yang menyampaikan permohonan. Kelak bila permohonan diyakini telah dikabulkan, keluarga yang bersangkutan akan datang kembali untuk memberikan ucapan terima kasih dalam berbagai bentuk.(ICH/Tim Potret)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya