Wanita yang menggugat cerai kini semakin populer. Yang jadi pertanyaan mengapa pria tak bisa melihat ketika istrinya berhenti mencintainya?
Inilah yang dialami Martin. Ia baru menyadari kalau pernikahannya sedang dalam kesulitan ketika istri yang dinikahinya selama 18 tahun membuatnya seperti terkena 'bom'.
"Dia berterus terang mengatakan kalau dia tidak mencintai saya lagi, dan merasakan tak ada koneksi lagi dengan saya," kata Martin seperti dikutip Dailymail, Jumat (4/1/2013).
Pada saat itu, Martin merasa istrinya Katie (48 tahun) pergi jauh dari kehidupan masa depannya. "Dia mengatakan kalau dirinya tak bisa menjelaskan alasannya. Dia tidak mempunyai ide apa yang diinginkannya. Yang ia tahu adalah kalau dia tidak menginginkan saya".
Pengusaha berusia 50 tahun dari Maidstone, Kent, tak menyangka akan mengalami ini semua. Seperti kebanyakan pria yang mengalami hal yang sama, biasanya tak akan menyadari ada sesuatu yang buruk di rumahnya.
Dari statistik perceraian, Martin tak sendirian. Sebanyak 68 persen gugatan cerai diajukan wanita dan hanya 4 persen pria yang menggugat.
Pengacara di Inggris menyebut 3 Januari sebagai 'Hari Perceraian'. Alasannya, pada tanggal tersebut menjadi hari yang paling umum bagi pasangan yang sudah berjuang hidup bersama untuk mengakhiri segalanya dan menghubungi pengacara untuk bercerai.
Terapis Seks Andrew G. Marshall mengatakan, selama 30 tahun menjadi terapis, ia menemukan pria jarang yang mengakui ada masalah dalam keluarganya. Namun itu tidak berarti kaum wanita yang selalu menggugat cerai.
Ketika wanita mengumpulkan keberanian untuk mengatakan 'Saya tidak mencintaimu', wanita tak berharap memberikan kejutan. Ini yang terjadi pada Martin dan pria lainnya.
Marshall menjelaskan, sebenarnya ada tanda-tanda peringatan yang hampir selalu ada jika pria menyadarinya. Apalagi istrinya selalu melakukan apa pun yang diinginkannya.
"Selama sesi terapi dengan Martin, dia mulai melihat masalah-masalah kecil yang ia abaikan".
"Tidak mengherankan kalau Katie menahannya. Saya tidak pernah menanyakan apa yang ingin dilakukan atau bagaimana perasaannya".
Katie menahan perasaan dan pendapatnya agar semua orang bahagia. Tapi tekanan menyebabkan masalah. "Dengan mematikan emosi negatif seperti marah atau kesal, Anda akhirnya mematikan semua perasan. Bahkan yang positif seperti cinta," jelas Marshall.
Setelah menceritakan ketidakbahagiaannya, Katie akhirnya menyadari ia perlu mengekspresikan dirinya. Saat Katie melakukannya, hubungan pasangan suami istri itu berangsur-angsur membaik.
"Sebagai pasangan yang masih bersama, perkataan 'saya tidak mencintaimu' bukan berarti 'saya tidak akan pernah mencintaimu lagi'.
Pria bisa saja rajin membelikan bunga, cokelat atau mengajak makan malam yang mahal, tapi pria sering gagal menjaga kesehatan pernikahannya.
Pria berpikir jika ada masalah di dalam keluarganya, istrinya akan memberitahukannya dan keduanya akan memperbaikinya.
Ketika alarm itu berbunyi, wanita tidak akan mengatakan 'kita harus sering pergi keluar bersama' tapi wanita bakal mengatakan 'saya ingin bercerai'.
Jika sudah mendengar pernyataan itu, pria secara emosional akan sakit tapi harus bisa menanganinya. Sebab, salah seorang yang selalu menjadi tempat curahan hatinya, yang tak lain dari istrinya itu, tak ada lagi.
Wanita bisa mempunyai teman dekat yang bisa diajak bercurhat. Tapi pria akan mengajak keluar pasangan namun menghindari percakapan pribadi.
Sebenarnya, menyelamatkan pernikahan bukan hanya pekerjaan suami. Jika Anda jatuh cinta, ada dua strategi yang paling bekerja.
Pertama, Anda berusaha memperbaiki hubungan sendirian, tapi Anda bisa merasa semakin kesal.
Kedua, setelah menekan ketidakbahagaiaan dalam beberapa waktu, Anda bakal meledak hanya karena masalah sepele atau rasa sakit keluar semuanya.
Ini jarang terlihat pada pria karena pria cenderung melihat ledakan wanita karena terlalu sensitif atau pria tidak bisa mengerti mengapa masalah kecil bisa menyebabkan kemarahan yang begitu besar dan segera melupakannya.
Waktu terbaik untuk membicarakan masalah adalah ketika pasangan sedang dalam kondisi baik. Karena saat itu seseorang berada dalam kondisi yang menerima.
Dengan kondisi tenang, Anda bisa menjelaskan rasa lelah dan habisnya harapan bisa mengubah sesuatu. Kata-kata 'saya tidak mencintaimu lagi' mungkin keras, tapi itu yang akan dilakukan seseorang setidaknya agar mengerti.
Dalam kondisi ini bisa memberikan suami Anda kesempatan terakhir untuk memikul tanggung jawab dalam menyelamatkan pernikahannya. Ini jauh lebih baik dibanding bergabung dengan antrean perempuan dalam mengajukan gugatan.(MEL/IGW)
Inilah yang dialami Martin. Ia baru menyadari kalau pernikahannya sedang dalam kesulitan ketika istri yang dinikahinya selama 18 tahun membuatnya seperti terkena 'bom'.
"Dia berterus terang mengatakan kalau dia tidak mencintai saya lagi, dan merasakan tak ada koneksi lagi dengan saya," kata Martin seperti dikutip Dailymail, Jumat (4/1/2013).
Pada saat itu, Martin merasa istrinya Katie (48 tahun) pergi jauh dari kehidupan masa depannya. "Dia mengatakan kalau dirinya tak bisa menjelaskan alasannya. Dia tidak mempunyai ide apa yang diinginkannya. Yang ia tahu adalah kalau dia tidak menginginkan saya".
Pengusaha berusia 50 tahun dari Maidstone, Kent, tak menyangka akan mengalami ini semua. Seperti kebanyakan pria yang mengalami hal yang sama, biasanya tak akan menyadari ada sesuatu yang buruk di rumahnya.
Dari statistik perceraian, Martin tak sendirian. Sebanyak 68 persen gugatan cerai diajukan wanita dan hanya 4 persen pria yang menggugat.
Pengacara di Inggris menyebut 3 Januari sebagai 'Hari Perceraian'. Alasannya, pada tanggal tersebut menjadi hari yang paling umum bagi pasangan yang sudah berjuang hidup bersama untuk mengakhiri segalanya dan menghubungi pengacara untuk bercerai.
Terapis Seks Andrew G. Marshall mengatakan, selama 30 tahun menjadi terapis, ia menemukan pria jarang yang mengakui ada masalah dalam keluarganya. Namun itu tidak berarti kaum wanita yang selalu menggugat cerai.
Ketika wanita mengumpulkan keberanian untuk mengatakan 'Saya tidak mencintaimu', wanita tak berharap memberikan kejutan. Ini yang terjadi pada Martin dan pria lainnya.
Marshall menjelaskan, sebenarnya ada tanda-tanda peringatan yang hampir selalu ada jika pria menyadarinya. Apalagi istrinya selalu melakukan apa pun yang diinginkannya.
"Selama sesi terapi dengan Martin, dia mulai melihat masalah-masalah kecil yang ia abaikan".
"Tidak mengherankan kalau Katie menahannya. Saya tidak pernah menanyakan apa yang ingin dilakukan atau bagaimana perasaannya".
Katie menahan perasaan dan pendapatnya agar semua orang bahagia. Tapi tekanan menyebabkan masalah. "Dengan mematikan emosi negatif seperti marah atau kesal, Anda akhirnya mematikan semua perasan. Bahkan yang positif seperti cinta," jelas Marshall.
Setelah menceritakan ketidakbahagiaannya, Katie akhirnya menyadari ia perlu mengekspresikan dirinya. Saat Katie melakukannya, hubungan pasangan suami istri itu berangsur-angsur membaik.
"Sebagai pasangan yang masih bersama, perkataan 'saya tidak mencintaimu' bukan berarti 'saya tidak akan pernah mencintaimu lagi'.
Pria bisa saja rajin membelikan bunga, cokelat atau mengajak makan malam yang mahal, tapi pria sering gagal menjaga kesehatan pernikahannya.
Pria berpikir jika ada masalah di dalam keluarganya, istrinya akan memberitahukannya dan keduanya akan memperbaikinya.
Ketika alarm itu berbunyi, wanita tidak akan mengatakan 'kita harus sering pergi keluar bersama' tapi wanita bakal mengatakan 'saya ingin bercerai'.
Jika sudah mendengar pernyataan itu, pria secara emosional akan sakit tapi harus bisa menanganinya. Sebab, salah seorang yang selalu menjadi tempat curahan hatinya, yang tak lain dari istrinya itu, tak ada lagi.
Wanita bisa mempunyai teman dekat yang bisa diajak bercurhat. Tapi pria akan mengajak keluar pasangan namun menghindari percakapan pribadi.
Sebenarnya, menyelamatkan pernikahan bukan hanya pekerjaan suami. Jika Anda jatuh cinta, ada dua strategi yang paling bekerja.
Pertama, Anda berusaha memperbaiki hubungan sendirian, tapi Anda bisa merasa semakin kesal.
Kedua, setelah menekan ketidakbahagaiaan dalam beberapa waktu, Anda bakal meledak hanya karena masalah sepele atau rasa sakit keluar semuanya.
Ini jarang terlihat pada pria karena pria cenderung melihat ledakan wanita karena terlalu sensitif atau pria tidak bisa mengerti mengapa masalah kecil bisa menyebabkan kemarahan yang begitu besar dan segera melupakannya.
Waktu terbaik untuk membicarakan masalah adalah ketika pasangan sedang dalam kondisi baik. Karena saat itu seseorang berada dalam kondisi yang menerima.
Dengan kondisi tenang, Anda bisa menjelaskan rasa lelah dan habisnya harapan bisa mengubah sesuatu. Kata-kata 'saya tidak mencintaimu lagi' mungkin keras, tapi itu yang akan dilakukan seseorang setidaknya agar mengerti.
Dalam kondisi ini bisa memberikan suami Anda kesempatan terakhir untuk memikul tanggung jawab dalam menyelamatkan pernikahannya. Ini jauh lebih baik dibanding bergabung dengan antrean perempuan dalam mengajukan gugatan.(MEL/IGW)