Liputan6.com, Jakarta: Bangunan tua nan unik berkubah bulat ini memang tampak mencolok di Jalan Merdeka Timur 10, di kawasan Gambir, di pusat Ibu Kota. Eksterior pun seakan sudah berbicara: ini bukan sekadar tumpukan batu tak bermakna. Paling tidak, bukti sudah berbicara, perayaan Natal 2002 digelar di sana. Dengan sedikit berhias, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel seperti "merangkul" umat--buat sekejap--berkumpul bersama, merenungi kelahiran Yesus Kristus, dan maknanya untuk kehidupan manusia. Seperti ratusan tahun sebelumnya, Gereja Immanuel pun acap menyelenggarakan momentum religius serupa, merayakan kehadiran kasih Sang Pencipta, sejak didirikan 167 tahun lampau.
Gereja Immanuel sebenarnya adalah sebutan baru dari bangunan asli bernama Willemskerk, yang artinya Gereja Willem. Nama itu diambil dari Raja Willem I, yang bertahta sebagai raja Belanda, saat batu pertama pembangunan gereja diletakkan, pada 24 Agustus 1835. Rencana pembangunan gereja ini diputuskan oleh Majelis Jemaat Gereja Hervormd dan Gereja Lutheran di Batavia. Biaya pembangunan direncanakan sebesar 192 ribu gulden, yang dirogoh dari kocek kedua kumpulan umat tadi plus duit pemerintah Hindia Belanda. Dalam kurun waktu empat tahun, gedung itu tuntas dibangun. Tepat pada 24 Agustus 1839, bangunan tersebut ditahbiskan menjadi gereja.
Dibanding rumah ibadah nasrani di Jakarta, Gereja Immanuel memang berbeda. Gaya Laat Rennaissance--yang berasal dari kebudayaan Hellas, sebelum abad Masehi--mendominasi struktur bangunan gereja, yang satu-satunya gereja berbentuk lingkaran di Ibu Kota. Adalah ide sang arsitektur, Mr Horn, yang menggabungkan model teater berbalkon dengan kubah di atasnya dan arena pertandingan di zaman Kerajaan Romawi.
Ditopang pilar-pilar besar, gereja ini pun menghadirkan lampu-lampu hias khas masa lampau, yang tergantung menghias sisi luar bangunan. Pintu dan jendela berbentuk majesties, menggambarkan kebesaran dan keagungan. Pola ini mengikuti tempat ibadah di Yunani, pada zaman purbakala. Nilai historis itu dikukuhkan lewat perlindungan dari undang-undang Lembaran Negara (Staatsblad) Nomor 238 Tahun 1931 tentang Monumenten Ordenantie, dan dipertegas lagi melalui Lembaran Daerah Nomor CB/11/1/12 Tahun 1972.
Gereja Immanuel sempat mencatat sejarah penting dalam perkembangan Kristen di Tanah Air. Sejak berdiri, di gedung itu digelar Sidang Raya Gereja Protestan Indonesia yang pertama sejak zaman Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada 1624, yang baru tercatat resmi pada 19 Desember 1916. Selain itu, persidangan Sinode GPIB yang pertama pun diadakan di gedung gereja ini.
Adopsi kebudayaan zaman dulu pun tak berhenti sampai di situ. Bagian dalam gereja memperlihatkan dominasi furnitur kayu. Mulai dari tempat duduk bagi para jemaat, berturut-turut bertingkat ke belakang, lengkap dengan balkonnya. Di balkon itu pula, alat musik organ kuno masih berada di sana, sejak 1843. Dengan seluruh "kemegahan", ruangan gereja ini mampu menampung sekitar 600 jemaat di bagian dalam dan 200 umat di bagian luar gereja.
Keunikan bangunan, kedekatan dengan Tuhan, dan kebersamaan di antara umat-lah, yang membuat gereja tak lekang didatangi para jemaat Kristen Protestan. Bahkan, ada yang seolah tak ingin berpindah ke lain gereja, meski apapun yang terjadi, sejak puluhan tahun lampau. Paula, misalnya, jemaat Gereja Immanuel. Menurut dia, menjadi jemaat di gereja itu sudah dilakukannya semenjak kecil. "Kini, anak-anak anak-anak saya pun ikut serta, bahkan sekarang aktif di gereja ini," kata perempuan itu.
Paula tak sendirian bila berbicara soal keinginan beribadah hanya di Gereja Immanuel. Hasrat itu pula yang membuat para pengurusnya terus berharap, gereja ini bisa menjadi titik tolak upaya menggalang persatuan bagi seluruh umatnya, yang berasal dari berbagai suku bangsa.
Sayang, masih ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang ingin melenyapkan bangunan penuh sejarah tadi. Buktinya, gereja ini sempat diancam bom--yang belakangan menjadi bagian dari sejumlah teror terhadap bangunan ibadah di Tanah Air--menjelang akhir Oktober tahun ini. Lewat telepon gelap, sang peneror menyampaikan bahwa bangunan tersebut bakal diledakkan [baca: RS Cikini dan Gereja Immanuel Diancam Bom]. Untunglah, anggota Kepolisian Sektor Gambir tak menemukan bom atau bahan peledak yang dimaksud. Ironis memang, buat kisah sebuah saksi kasih sejak ratusan tahun silam.(BMI/Indy Rahmawati dan Dwi Guntoro)
Gereja Immanuel sebenarnya adalah sebutan baru dari bangunan asli bernama Willemskerk, yang artinya Gereja Willem. Nama itu diambil dari Raja Willem I, yang bertahta sebagai raja Belanda, saat batu pertama pembangunan gereja diletakkan, pada 24 Agustus 1835. Rencana pembangunan gereja ini diputuskan oleh Majelis Jemaat Gereja Hervormd dan Gereja Lutheran di Batavia. Biaya pembangunan direncanakan sebesar 192 ribu gulden, yang dirogoh dari kocek kedua kumpulan umat tadi plus duit pemerintah Hindia Belanda. Dalam kurun waktu empat tahun, gedung itu tuntas dibangun. Tepat pada 24 Agustus 1839, bangunan tersebut ditahbiskan menjadi gereja.
Dibanding rumah ibadah nasrani di Jakarta, Gereja Immanuel memang berbeda. Gaya Laat Rennaissance--yang berasal dari kebudayaan Hellas, sebelum abad Masehi--mendominasi struktur bangunan gereja, yang satu-satunya gereja berbentuk lingkaran di Ibu Kota. Adalah ide sang arsitektur, Mr Horn, yang menggabungkan model teater berbalkon dengan kubah di atasnya dan arena pertandingan di zaman Kerajaan Romawi.
Ditopang pilar-pilar besar, gereja ini pun menghadirkan lampu-lampu hias khas masa lampau, yang tergantung menghias sisi luar bangunan. Pintu dan jendela berbentuk majesties, menggambarkan kebesaran dan keagungan. Pola ini mengikuti tempat ibadah di Yunani, pada zaman purbakala. Nilai historis itu dikukuhkan lewat perlindungan dari undang-undang Lembaran Negara (Staatsblad) Nomor 238 Tahun 1931 tentang Monumenten Ordenantie, dan dipertegas lagi melalui Lembaran Daerah Nomor CB/11/1/12 Tahun 1972.
Gereja Immanuel sempat mencatat sejarah penting dalam perkembangan Kristen di Tanah Air. Sejak berdiri, di gedung itu digelar Sidang Raya Gereja Protestan Indonesia yang pertama sejak zaman Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada 1624, yang baru tercatat resmi pada 19 Desember 1916. Selain itu, persidangan Sinode GPIB yang pertama pun diadakan di gedung gereja ini.
Adopsi kebudayaan zaman dulu pun tak berhenti sampai di situ. Bagian dalam gereja memperlihatkan dominasi furnitur kayu. Mulai dari tempat duduk bagi para jemaat, berturut-turut bertingkat ke belakang, lengkap dengan balkonnya. Di balkon itu pula, alat musik organ kuno masih berada di sana, sejak 1843. Dengan seluruh "kemegahan", ruangan gereja ini mampu menampung sekitar 600 jemaat di bagian dalam dan 200 umat di bagian luar gereja.
Keunikan bangunan, kedekatan dengan Tuhan, dan kebersamaan di antara umat-lah, yang membuat gereja tak lekang didatangi para jemaat Kristen Protestan. Bahkan, ada yang seolah tak ingin berpindah ke lain gereja, meski apapun yang terjadi, sejak puluhan tahun lampau. Paula, misalnya, jemaat Gereja Immanuel. Menurut dia, menjadi jemaat di gereja itu sudah dilakukannya semenjak kecil. "Kini, anak-anak anak-anak saya pun ikut serta, bahkan sekarang aktif di gereja ini," kata perempuan itu.
Paula tak sendirian bila berbicara soal keinginan beribadah hanya di Gereja Immanuel. Hasrat itu pula yang membuat para pengurusnya terus berharap, gereja ini bisa menjadi titik tolak upaya menggalang persatuan bagi seluruh umatnya, yang berasal dari berbagai suku bangsa.
Sayang, masih ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang ingin melenyapkan bangunan penuh sejarah tadi. Buktinya, gereja ini sempat diancam bom--yang belakangan menjadi bagian dari sejumlah teror terhadap bangunan ibadah di Tanah Air--menjelang akhir Oktober tahun ini. Lewat telepon gelap, sang peneror menyampaikan bahwa bangunan tersebut bakal diledakkan [baca: RS Cikini dan Gereja Immanuel Diancam Bom]. Untunglah, anggota Kepolisian Sektor Gambir tak menemukan bom atau bahan peledak yang dimaksud. Ironis memang, buat kisah sebuah saksi kasih sejak ratusan tahun silam.(BMI/Indy Rahmawati dan Dwi Guntoro)