Liputan6.com, Lampung: Pernahkah terpikir betapa sulitnya melatih seekor gajah liar hingga menjadi jinak dan lucu yang bisa dijadikan atraksi menghibur? Itulah yang dirasakan Dedi, serati atau pelatih dan perawat gajah di Way Kambas, Lampung sejak 10 tahun silam. Banyak hal yang dialaminya, mulai dari ketakutan mengintai gajah liar di hutan pada tengah malam sampai mengajar gajah bermain yang tiba-tiba ngambek atau mengamuk.
Menjadi seorang serati menurut Kepala Pusat Latihan Gajah Way Kambas Soedarmadji, membutuhkan keberanian, kesabaran, ketekunan, dan memiliki rasa terhadap gajah yang dilatih. "Profesi ini nyawa taruhannya," kata dia. Wajar jika setiap istri serati dihantui rasa cemas ketika suami mereka berangkat ke "medan perang". Mereka was-was kalau-kalau suaminya terluka atau tinggal nama.
Namun, bagi Dedi dan serati-serati lainnya, terkadang kekhawatiran seperti itu dapat dikesampingkan. Sebab, sebelum menjadi serati, mereka sudah dilatih dan dibekali kekuatan lewat ritual ngerung. Disebut ngerung karena biasanya upacara ini diadakan di sebuah tempat yang disebut rung. Sebelum acara dimulai, setiap calon serati membaca doa keselamatan sesuai agama masing-masing. Lantas, mereka wajib mempersembahkan sesaji aneka benda, antara lain nasi tiga warna, air tujuh warna, dan seekor ayam. Kepala ayam dipercaya bisa menandakan lancar-tidaknya pelatihan seekor gajah kelak. Bila kepala ayam mulus dan berlidah lurus berarti pelatihan akan lancar, demikian sebaliknya.
Setelah mengikuti upacara, resmilah mereka menjadi serati di Way Kambas. Di lokasi seluas 400 hektare ini, mereka bertugas. Memburu gajah liar di hutan. Biasanya setelah terkumpul, hewan-hewan raksasa itu diasingkan dari gajah yang sudah jinak dan diikat kakinya setiap pagi dan sore hari saban hari. Biasanya, dalam kurun waktu antara tiga sampai enam bulan, hewan-hewan berbelalai itu berubah menjadi akrab dan patuh pada perintah pelatihnya. "Jadi ada rasa dekat, gitu. Ada rasa sayang juga," kata Dedi.
Meski mengaku menyukai profesi serati yang dianggap langka, Dedi yang punya dua anak ini tak mau buah hatinya kelak berprofesi serupa. "Ya, kalau bisa sih, janganlah. Sekarang kan sudah modern," ucap pria berusia 32 tahun ini tanpa merinci apa yang dikehendakinya buat masa depan anak-anaknya. Alasannya, selain berisiko tinggi, gaji pekerjaan ini juga terkadang tak mampu menutupi seluruh kebutuhan keluarga: cuma Rp 300 ribu per bulan, di luar uang makan dan transport.
Namun, Dedi tetap berusaha bekerja maksimal. Sembari berharap, pemerintah memperhatikan nasib para serati. Selain itu, dia dan istrinya Ismanah juga berencana membuka warung di rumah mereka. Tapi, keinginan sederhana itu masih impian karena belum punya cukup modal. Entah kapan kehendak itu jadi nyata.(MTA/Tim Potret SCTV)
Menjadi seorang serati menurut Kepala Pusat Latihan Gajah Way Kambas Soedarmadji, membutuhkan keberanian, kesabaran, ketekunan, dan memiliki rasa terhadap gajah yang dilatih. "Profesi ini nyawa taruhannya," kata dia. Wajar jika setiap istri serati dihantui rasa cemas ketika suami mereka berangkat ke "medan perang". Mereka was-was kalau-kalau suaminya terluka atau tinggal nama.
Namun, bagi Dedi dan serati-serati lainnya, terkadang kekhawatiran seperti itu dapat dikesampingkan. Sebab, sebelum menjadi serati, mereka sudah dilatih dan dibekali kekuatan lewat ritual ngerung. Disebut ngerung karena biasanya upacara ini diadakan di sebuah tempat yang disebut rung. Sebelum acara dimulai, setiap calon serati membaca doa keselamatan sesuai agama masing-masing. Lantas, mereka wajib mempersembahkan sesaji aneka benda, antara lain nasi tiga warna, air tujuh warna, dan seekor ayam. Kepala ayam dipercaya bisa menandakan lancar-tidaknya pelatihan seekor gajah kelak. Bila kepala ayam mulus dan berlidah lurus berarti pelatihan akan lancar, demikian sebaliknya.
Setelah mengikuti upacara, resmilah mereka menjadi serati di Way Kambas. Di lokasi seluas 400 hektare ini, mereka bertugas. Memburu gajah liar di hutan. Biasanya setelah terkumpul, hewan-hewan raksasa itu diasingkan dari gajah yang sudah jinak dan diikat kakinya setiap pagi dan sore hari saban hari. Biasanya, dalam kurun waktu antara tiga sampai enam bulan, hewan-hewan berbelalai itu berubah menjadi akrab dan patuh pada perintah pelatihnya. "Jadi ada rasa dekat, gitu. Ada rasa sayang juga," kata Dedi.
Meski mengaku menyukai profesi serati yang dianggap langka, Dedi yang punya dua anak ini tak mau buah hatinya kelak berprofesi serupa. "Ya, kalau bisa sih, janganlah. Sekarang kan sudah modern," ucap pria berusia 32 tahun ini tanpa merinci apa yang dikehendakinya buat masa depan anak-anaknya. Alasannya, selain berisiko tinggi, gaji pekerjaan ini juga terkadang tak mampu menutupi seluruh kebutuhan keluarga: cuma Rp 300 ribu per bulan, di luar uang makan dan transport.
Namun, Dedi tetap berusaha bekerja maksimal. Sembari berharap, pemerintah memperhatikan nasib para serati. Selain itu, dia dan istrinya Ismanah juga berencana membuka warung di rumah mereka. Tapi, keinginan sederhana itu masih impian karena belum punya cukup modal. Entah kapan kehendak itu jadi nyata.(MTA/Tim Potret SCTV)