Liputan6.com, Karangasem: Pagi itu, matahari bersinar cerah di Desa Adat Karangasem, Bali. Ada sebagian sinarnya yang menelusup ke Puri Kauhan, tempat mayat Ibu Gedong Bagus Oka disemayamkan. Sudah enam hari jenazah penyebar ajaran Mahatma Gandhi ini terbujur kaku di ruang yang ditaksir berumur 200 tahun itu. Sebentar lagi jenazah berkafan itu akan dibakar dalam upacara pembakaran mayat atau Pelebon alias Ngaben.
Namun, sebelum dibakar, mayat pencetus ajaran Ahimsa (cinta kasih), Karuna (antikekerasan), dan Satya (kebenaran) ini harus dimandikan dahulu. Ratusan tamu undangan dan kerabat sudah berkumpul untuk melaksanakan ritual pemandian yang disebut nyiraman dengan air kembang atau kum-kuman tersebut. Prosesi ini diyakini dapat menyucikan jenazah setelah menjalani fase kehidupan yang dipenuhi berbagai perbuatan bertentangan dengan kehendak Sang Pencipta. Dengan ritual ini, mayat diyakini akan kembali suci dan bersih seperti saat dilahirkan. Biasanya nyiraman dipimpin seorang pendeta atau pedande.
Nyiraman rampung. Kini, mayat pendiri beberapa lembaga Ashram--satu di antaranya Ashram Gandhi Canthi Dasa di Candidasa yang didirikan pada 1976--ini siap dibakar. Puri Kauhan pun masih dipenuhi tamu undangan, kerabat, dan ratusan umat Hindu Bali. Mereka bersiap mengantar jenazah menuju setra atau pemakaman Desa Adat Karangasem, sekitar satu kilometer dari Puri Kauhan. Mayat digotong ke pemakaman dengan usungan berwarna emas.
Setiba di pemakaman, usungan jenazah dibawa mengitari peti pembakaran sebanyak tiga kali diiringi musik gong balaganjur. Tiga putaran melambangkan tahapan kehidupan: lahir, menjalani hidup, dan menempuh kematian. Ngaben siap dilaksanakan. Jenazah pendiri Ashram Bali Gandhi Widyapith di Denpasar dan Ashram Yogya Gandhi Widyapith di Yogyakarta ini pun dipindahkan ke peti pembakaran. Lewat mantera suci, dua pedande yang masih keluarga dekat Ibu Gedong memulai upacara. Selesai membaca mantera, mayat bekas anggota MPR Utusan Golongan tersebut disirami air kembang dan ditaburi beragam bunga. Tarian sakral pun dipentaskan untuk menemani arwah Ibu Gedong ke nirwana sebelum dibakar.
Berbagai tahapan pra-Ngaben dilalui. Pembakaran jasad ibu enam putra dan 12 cucu ini pun dimulai dengan lantunan kidung suci. Api berkobar. Beberapa saat kemudian, semua hanya tinggal abu. Selanjutnya, abu yang tersisa dikumpulkan dalam wadah untuk kemudian dibungkus dalam kain putih. Abu tersebut seterusnya dibawa memutari lokasi Ngaben sebanyak tiga kali. Kini tinggalah prosesi penutup, yaitu mengiring sisa jenazah penerjemah beberapa buku karya Mahatma Gandhi ke dalam bahasa Indonesia ini menuju pelarungan di Pantai Ujung, Karangasem. Menjelang malam, sisa jenazah aktivis lintas agama ini dilepas ke tengah laut.
Usai sudah semua prosesi. Arwah nenek berusia 80 tahun itu diyakini sempurna menuju nirwana. Satu di antara kuntum bunga terbaik bangsa ini sudah kembali ke Sang Pencipta. Namun begitu, bunga tersebut masih menyisakan harumnya. Yang kini banyak diyakini umat Hindu di Tanah Air sebagai jalan penyelamat. Selamat jalan Ibu Gedong Bagus Oka.(ICH/Tim Potret)
Namun, sebelum dibakar, mayat pencetus ajaran Ahimsa (cinta kasih), Karuna (antikekerasan), dan Satya (kebenaran) ini harus dimandikan dahulu. Ratusan tamu undangan dan kerabat sudah berkumpul untuk melaksanakan ritual pemandian yang disebut nyiraman dengan air kembang atau kum-kuman tersebut. Prosesi ini diyakini dapat menyucikan jenazah setelah menjalani fase kehidupan yang dipenuhi berbagai perbuatan bertentangan dengan kehendak Sang Pencipta. Dengan ritual ini, mayat diyakini akan kembali suci dan bersih seperti saat dilahirkan. Biasanya nyiraman dipimpin seorang pendeta atau pedande.
Nyiraman rampung. Kini, mayat pendiri beberapa lembaga Ashram--satu di antaranya Ashram Gandhi Canthi Dasa di Candidasa yang didirikan pada 1976--ini siap dibakar. Puri Kauhan pun masih dipenuhi tamu undangan, kerabat, dan ratusan umat Hindu Bali. Mereka bersiap mengantar jenazah menuju setra atau pemakaman Desa Adat Karangasem, sekitar satu kilometer dari Puri Kauhan. Mayat digotong ke pemakaman dengan usungan berwarna emas.
Setiba di pemakaman, usungan jenazah dibawa mengitari peti pembakaran sebanyak tiga kali diiringi musik gong balaganjur. Tiga putaran melambangkan tahapan kehidupan: lahir, menjalani hidup, dan menempuh kematian. Ngaben siap dilaksanakan. Jenazah pendiri Ashram Bali Gandhi Widyapith di Denpasar dan Ashram Yogya Gandhi Widyapith di Yogyakarta ini pun dipindahkan ke peti pembakaran. Lewat mantera suci, dua pedande yang masih keluarga dekat Ibu Gedong memulai upacara. Selesai membaca mantera, mayat bekas anggota MPR Utusan Golongan tersebut disirami air kembang dan ditaburi beragam bunga. Tarian sakral pun dipentaskan untuk menemani arwah Ibu Gedong ke nirwana sebelum dibakar.
Berbagai tahapan pra-Ngaben dilalui. Pembakaran jasad ibu enam putra dan 12 cucu ini pun dimulai dengan lantunan kidung suci. Api berkobar. Beberapa saat kemudian, semua hanya tinggal abu. Selanjutnya, abu yang tersisa dikumpulkan dalam wadah untuk kemudian dibungkus dalam kain putih. Abu tersebut seterusnya dibawa memutari lokasi Ngaben sebanyak tiga kali. Kini tinggalah prosesi penutup, yaitu mengiring sisa jenazah penerjemah beberapa buku karya Mahatma Gandhi ke dalam bahasa Indonesia ini menuju pelarungan di Pantai Ujung, Karangasem. Menjelang malam, sisa jenazah aktivis lintas agama ini dilepas ke tengah laut.
Usai sudah semua prosesi. Arwah nenek berusia 80 tahun itu diyakini sempurna menuju nirwana. Satu di antara kuntum bunga terbaik bangsa ini sudah kembali ke Sang Pencipta. Namun begitu, bunga tersebut masih menyisakan harumnya. Yang kini banyak diyakini umat Hindu di Tanah Air sebagai jalan penyelamat. Selamat jalan Ibu Gedong Bagus Oka.(ICH/Tim Potret)