Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang sejarah Olimpiade, selalu ada atlet muda berbakat yang berhasil mengguncang panggung festival olahraga empat tahunan tersebut. Tren ini berlanjut dalam Olimpiade Tokyo 2020 lewat kehadiran Hend Zaza, atlet berusia 12 tahun yang melakukan debut di kejuaraan ini.
Zaza merupakan pemain tenis meja asal Suriah. Ia sukses mencatatkan sejarah sebagai atlet paling muda yang berkompetisi di Olimpiade Tokyo.
Advertisement
Dia meraih tiket menuju Olimpiade pada Februari 2020 lalu, usai mengalahkan petenis meja asal Lebanon, Mariana Sahakian dalam kualifikasi Olimpiade Asia Barat di Yordania.
Meski terpaut usia mencapai puluhan tahun dengan lawan, Zaza sukses membuktikan kualitas sebagai atlet tenis meja. Berkat pencapaiannya, Hend Zaza menjadi pemain tenis meja asal Suriah pertama yang memenangkan gelar nasional di semua tingkatan. Kini, ia melanjutkan jejaknya dengan bersaing di Olimpiade Tokyo 2020.
Melansir Marca.com, Zaza mengaku ingin mempersembahkan pencapaiannya untuk negara, orang tua, serta rekan-rekannya.
“Ini hadiah untuk negaraku, orang tuaku, dan semua temanku,” ujar Zaza.
Saksikan Video Menarik di Bawah Ini
Besar di Daerah Perang
Seperti anak-anak Suriah pada umumnya, masa kecil Zaza diwarnai oleh peperangan. Ia berhasil menjadikan tenis meja sebagai pelariannya. Dikutip dari The New York Times, Zaza mengikuti jejak sang kakak dan mengawali kiprahnya di dunia tenis meja saat berusia lima tahun. Kala itu, pelatih lokal Adham Aljamaan melihatnya dan menjadikannya sebagai anak asuhan.
Tak heran jika Zaza berhasil menjadi atlet Olimpiade di usianya yang baru menginjak 12 tahun. Rupanya, darah olahraga memang mengalir di dalam keluarga Zaza. Ayah Zaza diketahui pernah menjadi pemain sepak bola dan kini berprofesi sebagai guru senam.
“Olahraga ada di dalam darahku. Keluargaku telah memberi dukungan yang amat besar sejak awal. Sebagai anak termuda, mereka (keluarga) sangat memperhatikanku. Mereka membantuku untuk maju dalam olahraga,” ungkap Zaza dalam sesi wawancara bersama CGTN.com.
Sayangnya, Zaza menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan terkunci di daerah perang. Tak jarang, situasi perang membuat Zaza sulit menikmati waktunya bersama olahraga favoritnya tersebut.