Bola Ganjil: George Raynor Dihargai di Negara Orang, Diabaikan Negeri Sendiri

George Raynor mencapai berbagai kesuksesan di luar negeri, tapi diabaikan negara sendiri. Ini adalah kisahnya.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 29 April 2021, 00:30 WIB
George Raynor mencapai berbagai kesuksesan di luar negeri, tapi diabaikan negara sendiri. Ini adalah kisahnya. (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - George Raynor meraup berbagai kesuksesan di luar negeri. Capaian tersebut bahkan sampai membuatnya gelar kebangsaan dari Raja Swedia Gustav IV.

Berbekal prestasi ini, Raynor pun bermimpi bisa meninggalkan kesan serupa di kampung halaman.

Dia kembali ke Inggris dan berharap mendapat tawaran pekerjaan dari Federasi Sepak Bola Inggris (FA) untuk menangani tim nasional. Bagaimanapun, tidak ada pria lokal sebelumnya yang sukses membawa tim lolos ke final Piala Dunia.

Namun jangankan FA, klub papan atas setempat juga tidak ada yang tertarik menggunakan jasa Raynor. Setelah hanya membutuhkan satu kemenangan untuk merebut gelar internasional paling prestisius, dia harus puas menangani Skegness Town, klub semiprofesional yang berkompetisi di Liga Midland.

Ini adalah cerita kariernya:

Saksikan Video Berikut Ini


Juara Olimpiade

BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Raynor dipercaya menangani Timnas Swedia setelah sebelumnya melatih tentara Inggris di Irak. Untuk menerapkan filosofinya, dia membutuhkan waktu dan komitmen karena sepak bola Swedia masih berstatus amatir. Pemain yang masuk timnas pun jarang berlatih bersama.

Mengatasi masalah ini, Raynor pergi ke setiap kota tempat klub Swedia berbasis. Dia lalu menghabiskan banyak waktu di tiap lokasi untuk melatih anak asuhnya.

Pendekatan ini berbuah baik. Swedia menghajar Swiss 7-2 pada laga debut Raynor. The Yellow Vikings lalu tidak terkalahkan dalam 10 pertandingan awal sang nakhoda, sebelum kalah beruntun dari Inggris dan Belanda.

Meski begitu, Swedia mendapat momentum positif jelang Olimpiade 1948. Berturut-turut mereka menaklukkan Austria, Korea Selatan, Denmark, dan Yugoslavia untuk menduduki podium tertinggi.

Namun, Kemenangan Swedia menarik perhatian peminat, terutama asal Italia. Meski Raynor coba memblok, daya tarik tampil di luar negeri terlalu besar bagi pemain.

Gunnar Nordahl pergi ke AC Milan, disusul Gunnar Gren dan Nils Liedholm. Mereka membentuk trio maut Gre-No-Li dan membawa I Rossoneri mendominasi Serie A. Saudara Nordahl, Knut (AS Roma) dan Bertil (Atalanta), ikut menjajal nasib keluar negeri.

Akhirnya semakin banyak talenta dari Swedia eksodus. Kondisi ini menyulitkan Raynor karena kebijakan otoritas setempat. Swedia hanya mau menggunakan pemain amatir untuk membela timnas. Dengan kepergian bintang, Raynor terpaksa mencari talenta baru.

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya