Liputan6.com, Jakarta: Kendati Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat telah menarik obat-obatan yang mengandung phenypropanolamine dari peredaran, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan masih akan meneliti jenis obat-obatan tersebut. Rencananya, pemerintah akan menarik jenis obat-obatan tersebut dari pasaran. Hal tersebut diungkapkan Dirjen POM Drs Sampurno MBA, baru-baru ini, di Jakarta.
Berdasarkan penelitian Badan POM AS, mengkonsumsi dalam jangka waktu yang panjang serta dengan dosis yang tinggi, obat tersebut terbukti membawa efek samping berupa pendarahan otak dan stroke. Sedangkan di Indonesia, meski ada sekitar 189 merek dagang obat flu dan batuk yang mengandung phenypropanolamine, antara lain Decolgen, Neozep Forte, Ultra Flu dan Mixagrip, Ditjen POM belum menyatakan obat-obatan tersebut berbahaya dan harus ditarik dari pasaran.
Menurut Sampurno, pemerintah yang dibantu berbagai pihak terkait baru akan melakukan pengkajian ulang terhadap efek samping jenis obat tersebut. Paling lambat pengkajian tersebut akan digelar 5 Desember mendatang. Untuk itu, ia berharap masyarakat memperhatikannya.(AWD/Olivia Rosalia dan Adi Iskarpandi)
Berdasarkan penelitian Badan POM AS, mengkonsumsi dalam jangka waktu yang panjang serta dengan dosis yang tinggi, obat tersebut terbukti membawa efek samping berupa pendarahan otak dan stroke. Sedangkan di Indonesia, meski ada sekitar 189 merek dagang obat flu dan batuk yang mengandung phenypropanolamine, antara lain Decolgen, Neozep Forte, Ultra Flu dan Mixagrip, Ditjen POM belum menyatakan obat-obatan tersebut berbahaya dan harus ditarik dari pasaran.
Menurut Sampurno, pemerintah yang dibantu berbagai pihak terkait baru akan melakukan pengkajian ulang terhadap efek samping jenis obat tersebut. Paling lambat pengkajian tersebut akan digelar 5 Desember mendatang. Untuk itu, ia berharap masyarakat memperhatikannya.(AWD/Olivia Rosalia dan Adi Iskarpandi)