Liputan6.com, Garut: Banjir lahan dingin ternyata tak ada di Gunung Papandayan. Longsoran yang turun ternyata bukan lahar, melainkan longsoran bukit. Kepastian ini terungkap setelah pegawai Vulkanik mengecek dari pos pengamatan Cisurupan. Demikian keterangan Direktur Vulkanologi Departemen Pertambangan dan Mineral Ahmad Djumarma, Senin (11/11).
Lebih jauh Djumarna menjelaskan, longsoran bukit berada di Desa Dayeuh Luhur atau sekitar empat kilometer dari lereng sebelah barat Gunung Papandayan. Longsoran bercampur bebatuan dan lumpur itu terbawa arus Sungai Cibeureum yang kemudian melintasi beberapa desa di kaki gunung yang memiliki ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut itu.
Akibat longsoran, dua kampung di kaki gunung yang terletak di Kabupaten Garut ini tertutup lahar. Lima rumah dan sebuah pondok pesantren tertimpa longsor. Sekitar 4.000 orang penduduk Desa Sinar Jaya, Desa Cipaganti, dan Desa Sirnagalih mengungsi. Mereka ditampung di Masjid Agung Cisurupan dan Sarana Anak Dinas Sosial Jabar. Sejauh ini belum ada korban jiwa.(ULF/Budi Rachmat)
Lebih jauh Djumarna menjelaskan, longsoran bukit berada di Desa Dayeuh Luhur atau sekitar empat kilometer dari lereng sebelah barat Gunung Papandayan. Longsoran bercampur bebatuan dan lumpur itu terbawa arus Sungai Cibeureum yang kemudian melintasi beberapa desa di kaki gunung yang memiliki ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut itu.
Akibat longsoran, dua kampung di kaki gunung yang terletak di Kabupaten Garut ini tertutup lahar. Lima rumah dan sebuah pondok pesantren tertimpa longsor. Sekitar 4.000 orang penduduk Desa Sinar Jaya, Desa Cipaganti, dan Desa Sirnagalih mengungsi. Mereka ditampung di Masjid Agung Cisurupan dan Sarana Anak Dinas Sosial Jabar. Sejauh ini belum ada korban jiwa.(ULF/Budi Rachmat)