Harga Bawang Merah Terjun Bebas, Petani Bawang di Garut Tak Bisa Tidur Pulas

Harga jual bawang merah di Garut terjun bebas. Apa penyebabnya?

oleh Jayadi Supriadin diperbarui 28 Des 2020, 18:00 WIB
Tanaman bawang merah siap panen di Garut, Jawa Barat siap untuk dipanen saat musim panen raya kali ini. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Petani bawang merah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengeluhkan harga jual bawang merah yang anjlok pada masa panen raya tahun ini. Suplai yang melimpah menjadi biang kerok harga bawa merah di petani menjadi rendah. 

Ate, (47), salah seorang petani bawang merah Kampung Batugede, Desa Sukamanah, Kecamatan Bayongbong, Garut, mengatakan penurunan harga jual bawang merah pada saat panen raya kali ini, akibat serentaknya musim panen di beberapa daerah penghasil bawang merah.

"Brebes dan daerah lainnya juga hampir sama sedang panen raya," ujarnya, Minggu (27/12/2020).

Dampaknya bisa dirasakan langsung para petani bawang merah di Garut, mereka kehilangan kesempatan mendapatkan cuan yang besar saat Natal dan Tahun Baru, akibat melimpahnya pasokan.

"Padahal kualitas bawang merah ini cukup bagus dan tak kalah dari daerah lain,".ujarnya.

[bacajuga:Baca Juga](4244995 4222918 4224142)

Para petani, ujar Ate, mengalami kerugian yang besar, biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai jual bawang merah yang rendah.

Ade mencontohkan, biasanya tiap panen kerap mendapatkan harga jual hingga Rp15 juta dari sekitar 1.400 meter persegi lahan yang ia gunakan, namun tahun ini hanya dihargai Rp6,5 juta.

"Jelas rugi besar padahal biaya produksi mencapai Rp8 juta," ujarnya.

Saat ini harga serap pasar terhadap hasil bawang petani rata-rata berada di interval Rp7-8 ribu per kilogram, harga itu turun drastis dibanding panen raya sebelumnya di angka Rp25 ribu.

Sementara itu harga jual bawang merah di tingkat pengecer pasar tradisional Kota Garut, berada di kisaran angka Rp17 ribu per kilogram. Angka itu relatif stabil, selama perayaan Natal dan Tahun Baru.

Hal senada disampaikan Adul (45), petani bawang merah lainnya. Akibat melorotnya nilai jual bawang saat panen kali ini, ia memilih realistis untuk menjual bawang sesuai harga pasar.

"Kami pasrah saja, mau di simpan dulu juga enggak punya tempat simpan, minimal bisa untuk modal tanam lagi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sukamanah, Entam Rustam mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir wilayahnya telah menjadi sentra bawang merah di Garut.

"Wilayah kami juga terbilang tepat untuk bercocok tanam bawang merah," ujar dia.

Dengan potensi itu, warga sekitar mulai beralih menanam bawang merah karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding palawija lainya.

"Di desa Sukamanah ini setidaknya ada 80 persen petani yang bertanam bawang merah," ujarnya.

Namun sayang, khusus tahun ini, musim panen yang relatif bersamaan, menyebabkan harga jual bawang merah merosot drastis. "Banyak petani bawang merah di desanya yang tidak mendapatkan keuntungan," katanya.

 

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Simak juga video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya