Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 99 persen pemain sepak bola adalah amatir dan hanya satu persen profesional. Mempertimbangkan fakta itu, muncul pertanyaan besar.
Mengapa negara yang hanya memiliki belasan ribu pemain terdaftar dan kompetisi dengan klub mayoritas semiprofesional tidak boleh ikut ikut berpartisipasi di pesta sepak bola?
Advertisement
Pola pikir itulah yang mendasari Tahiti ketika mengikuti Piala Konfederasi 2013 di Brasil. Meski datang dari latar belakang berbeda, mereka tidak sungkan saat berpartisipasi.
Tahiti merupakan wakil Oceania pertama selain Australia dan Selandia baru yang lolos ke turnamen juara antarbenua tersebut.
Partisipasi mereka membuat kompetisi tujuh tahun lalu memiliki sisi romantis berkat kehadiran negara kecil di turnamen besar. Sama seperti partisipasi Zaire dan Haiti di Piala Dunia 1974, atau tampilnya Trinidad & Tobago, Jamaika, Bosnia-Herzegovina, dan Kuwait pada edisi-edisi lain.
FIFA pun ikut gembira. Mereka selalu berusaha meningkatkan pengaruh di luar dua kiblat utama Eropa dan Amerika Selatan. Sebab sepak bola milik siapa saja.
Saksikan Video Tahiti Berikut Ini
Partisipasi Bersejarah
Dengan Australia sudah pindah dan berkompetisi di Asia agar kualitas meningkat, Selandia Baru jadi kekuatan utama pada zona Oceania. Namun, meski tidak terkalahkan pada Piala Dunia 2010, mereka menjalani mimpi buruk di Piala Oceania 2012.
Pada turnamen di Kepulauan Solomon, Selandia Baru dikejutkan permainan cepat Kaledonia Baru sehingga takluk 0-2 di semifinal.
Tahiti memanfaatkan keterpurukan sang favorit. Mereka membungkam Kaledonia Baru berkat gol tunggal Steevy Hong Hue.
Piala Konfederasi merupakan panggung besar bagi Tahiti. Eddy Etaeta yang kala itu menduduki kursi pelatih pun berusaha maksimal mempersiapkan anak asuhnya.
Dia menyetel suara penonton dengan kencang saat latihan agar pemain terbiasa tampil di stadion penuh. Etaeta juga menempel gambar pemain bintang dunia yang bakal mereka hadapi pada turnamen di Brasil.
Minimal Cetak Gol
Lawan pertama Tahiti adalah Nigeria, negara yang memiliki peringkat 100 posisi lebih baik dari mereka. Nasib sial langsung diterima. Gol pertama lawan tercipta setelah bola mengenai wasit Uwa Echiejile.