Bola Ganjil: Fluminense vs Flamengo, Layaknya Rivalitas Kakak Adik

Simak sejarah derby Rio de Janeiro Fluminense vs Flamengo.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 13 Desember 2020, 00:30 WIB
Flamengo bertemu Fluminense pada derby Rio de Janeiro di Taca Guanabara 2019. (AFP/Mauro Pimentel)

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut akhir pekan ini yang menghadirkan derby Madrid dan Manchester, ada cerita tentang perseteruan dari kota terbesar kedua di Brasil, Rio de Janeiro.

Seperti rivalitas lainnya, Fluminense dan Flamengo merepresentasikan dua sisi berbeda. Di negara dengan tradisi sepak bola kental, konflik keduanya bahkan menjadi salah satu yang tertua sepanjang sejarah.

Persaingan di antara mereka punya dimensi berbeda meski Rio de Janeiro memiliki klub lain yang juga berprestasi, Botafogo dan Vasco da Gama.

Maka mustahil menceritakan Fluminense atau Flamengo tanpa melibatkan satu sama lain.

Saksikan Video Flamengo Berikut Ini


Sejarah Berdiri

Pendiri Fluminense Oscar Cox. (Twitter)

Fluminense didirikan Oscar Cox, olahragawan kelahiran Brasil dari orang tua Inggris pada 17 Juli 1902. Warna kebesaran klub adalah merah, putih, dan hijau.

Semula Cox ingin menggunakan nama Rio Football Club, tapi batal karena sudah ada organisasi lain dengan identitas sama.

Dia lalu mencari inspirasi lokal dan memakai sebutan Latin dari Rio de Janeiro, Flumen, sebagai jati diri klub.

Cox tampil di laga resmi pertama Fluminense ketika mereka mengalahkan Rio FC 8-0. Dia juga berpartisipasi saat Fluminense merebut gelar pertama, Campeonato Carioca 1906, yakni Kejuaraan Regional Provinsi Rio de Janeiro.

Salah satu pemain kunci lain dari tim juara itu adalah Alberto Borgerth. Putra ayah Brasil dan ibu Hungaria, Borgerth merupakan atlet luar biasa. Namun, dia dan beberapa rekannya dikeluarkan dari klub karena berselisih dengan manajemen pada September 1911.

Tidak terima, Borgerth memutuskan kembali ke Clube de Regatas do Flamengo, tempat dirinya mendayung saat masih anak-anak.

Flamengo pada saat itu memang lebih dikenal sebagai klub mendayung. Namun Borgerth tidak peduli. Dia bahkan sukses mendirikan divisi sepak bola di klub pada 24 Desember 1911.

Rivalitas Fluminense dan Flamengo tetap memanas meski peruntungan keduanya belakangan timpang. Fluminense tidak pernah merebut gelar sejak 2012.

Sedangkan Flamengo memenangkan Carioca 2020. Berstatus juara bertahan Brasil dan Copa Libertadores, mereka juga masih terlibat persaingan gelar kedua ajang tersebut.

Lanjut Baca:

Sejak berdiri, Fluminense mengasosiasikan diri dengan masyarakat papan atas Rio de Janeiro berkat koneksi Inggris. Para suporter kerap memakai busana mewah saat menyaksikan pertandingan. Akibatnya, Fluminense melarang pemain keturunan merepresentasikan tim. Salah satu pemain berwarna yang sempat tampil, Carlos Alberto, sampai harus menggunakan tepung beras untuk menutup wajahnya sebelum bertanding. Langkah itu terpaksa diambil agar fans tidak bergejolak. Pemilihan pemain berdasar warna kulit itu akhirnya menjadi identitas klub, meski kini tidak lagi diterapkan. Namun, suporter Fluminense masih bangga akan praktik lama sampai sekarang. Mereka bahkan menciptakan lagu yang dikumandangkan setiap pertandingan. Di laga besar, pendukung juga kerap melempar tepung beras ke lapangan untuk mengenang tradisi sekaligus menakuti lawan. Flamengo mengambil langkah berbeda. Mereka menjadi klub untuk semua warga. Pendukung mereka biasanya datang dari kelas pekerja. Berbekal pendekatan itu, Flamengo pun menjadi salah satu klub dengan jumlah pendukung terbanyak di Brasil. Padahal mereka lebih muda ketimbang Fluminense. Maka rivalitas kedua klub bisa dimengerti. Mereka merepresentasikan dua jiwa berbeda dari satu kota. Tidak ada pemilahan berdasar agama atau politik, hanya sebatas harga diri. Sama seperti persaingan kakak adik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya