Nugroho Djayusman Membantah Terkait Bom Bali

Irjen Polisi Nugroho Djayusman dan keluarga sedang berlibur dan menginap di hotel yang tak jauh dari lokasi bom Bali. Dia sempat melaporkan ledakan itu pada pimpinan melalui ajudan Kapolri.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Oktober 2002, 00:11 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Nama Inspektur Jenderal Polisi Nugroho Djayusman dan Letnan Jenderal TNI Djaja Suparman ikut terseret dalam kasus pengeboman Bali. Namun, keduanya membantah terlibat dalam tragedi yang dikutuk dunia itu. Nugroho mengaku hendak tidur di Hotel Kartika Plaza pada saat kejadian tepatnya pada 12 Oktober silam. Nugroho dan keluarganya memang tengah berlibur dan menginap di hotel yang berlokasi tak jauh dari Sari Club dan Paddy`s Cafe itu. Keterangan ini disampaikan mantan Kepala Kepolisian Daerah Jakarta ini kepada SCTV di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (28/10).

Reporter SCTV Alam Burhanan dan juru kamera Ary Trisna di Denpasar melaporkan, pembersihan lokasi peledakan di Bali memasuki hari ketiga, Selasa. Penyapuan puing-puing itu dilakukan dalam rangka Tawur Agung Masyarakat Adat Bali yang bakal digelar 15 November. Semua lokasi akan dibersihkan kecuali Sari Club, tepatnya di lokasi pertama kali bom berdarah itu meledak dan di Paddy`s Cafe.

Kemarin sempat terjadi ketegangan antara aparat setempat yang mengaku telah berkoordinasi dengan Tim Penyidik Gabungan dan Duta Besar Australia untuk merobohkan Paddy`s Cafe. Pasalnya, Tim Gabungan berpendapat penyelidikan di cafe yang berada di Jalan Legian, Kuta, ini sudah selesai dan memastikan alat peledaknya berasal dari trinitroluene (TNT). Sedangkan Tim Forensik Australia masih ingin mengais-ngais barang bukti di tempat tersebut.

Sedangkan penyelidikan di Sari Club juga masih berlanjut. Namun, belum ada satu kata soal asal bahan peledak. Sejumlah orang menyebutkan bom itu cuma mengandung TNT. Namun, Tim Gabungan berpendapat alat peledak di tempat wisata yang paling banyak menyedot minat turis bertas punggung ini berasal dari campuran TNT dan unsur bahan peledak lain. Mendengar tiga kali ledakan, mantan Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Polri ini langsung turun ke lobi dan menyuruh keamanan hotel segera mengecek kejadian tersebut. Setelah mendapat informasi plus melihat banyak tamu hotel yang berdarah dan berlarian, Nugroho mengaku langsung melaporkan hal itu ke Kepala Kepolisian RI melalui ajudan Kapolri. Langkah itu diambil semata-mata karena nalurinya sebagai polisi.

Karena itu, Deputi Departemen Pendidikan dan Latihan Markas Besar Polri ini mengaku tidak mengerti asal tuduhan tersebut. Sebab, sejak awal dirinya mengaku setuju dengan Tim Satuan Tugas Kasus Bali yang mendapat dukungan internasional. Lebih jauh, Nugroho berencana menuntut media massa yang menyinggung namanya dalam kasus pengeboman di Bali itu.

Bantahan seragam juga disampaikan Djaja Suparman. Mantan Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat itu mengaku tak terkejut saat mendengar berita tersebut. Namun, dia bingung dari mana wartawan mendapat berita yang disebut "murahan". Karena itu, Djaja berencana menanyakan langsung kabar ini pada si penulis dan berancang-ancang menuntut sejumlah media massa yang melansir rumor tersebut [baca: SBY: Belum Ada Laporan Keterlibatan Dua Jenderal].

Sementara itu, hingga kini, Kepolisian Daerah Nusatenggara Barat masih mencari seseorang yang diduga pengebom Bali. Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) yang diterima dari Markas Besar Polri menyimpulkan dia bersembunyi di wilayah ini. Namun, Kepala Polda NTB Brigadir Jenderal Iman Haryatna mengaku belum berkoordinasi langsung dengan BIN.

Iman juga belum mengetahui persis target yang dicari BIN sama dengan buruan Polda NTB. Karena itu, dia belum dapat memastikan kejaran BIN adalah seseorang yang disebut-sebut bersembunyi di Pulau Sumbawa. Sejauh ini, pencarian difokuskan terhadap MF. Karena keterangan bersifat simpang-siur, jajaran Polda NTB justru berkonsentrasi pada pencarian sejumlah nama yang telah diidentifikasi.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya