Liputan6.com, Jakarta - Kita hidup di zaman pemain subur. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi menahbiskan diri sebagai dewa dengan catatan produktivitas masing-masing untuk memperbarui berbagai rekor dalam satu dekade terakhir.
Mohamed Salah memecahkan rekor pemain paling produktif di era Premier League pada 2017/2018. Sementara Harry Kane dalam perjalanan menjadi top skor sepanjang masa Premier League menggeser Alan Shearer.
Advertisement
Gonzalo Higuain menyamai catatan gol terbanyak Liga Italia dalam semusim pada 2015/2016. Di Prancis, Edinson Cavani menggoreskan nama sebagai penyumbang gol tertinggi Paris Saint-Germain, hanya dua tahun setelah Zlatan Ibrahimovic menorehkan catatan sama.
Teranyar hadir Robert Lewandowski yang mengguncang Bundesliga dan Eropa. Sementara nama-nama baru seperti Erling Halaand dan Kylian Mbappe siap melanjutkan tren ini di masa depan.
Dalam sejarah panjang sepak bola di Eropa, sulit menemukan kelompok pemain yang konsisten masuk papan skor dengan kaliber sama. Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas bersama Real Madrid dan legenda Benfica Eusebio merupakan representasi generasi lama.
Namun, ada satu nama lain yang kerap dilupakan. Padahal dia melakukannya baru tiga dekade lalu dan memiliki banyak kualitas sebagai pencetak gol produktif di era modern.
Saksikan Video Real Madrid Berikut Ini
Awalnya Perjudian
Hugo Sanchez tiba di Spanyol sebagai tanda tanya besar dan dianggap sebagai perjudian. Sebab, dia baru menekuni sepak bola di usia 15 tahun. Bakat mentah membuatnya masuk skuat Meksiko untuk Olimpiade 1976 dan direkrut UNAM.
Dalam lima musim di sana, Sanchez memenangkan dua gelar liga, satu titel Liga Champions Concacaf, serta Copa Interamericana. Dia berkontribusi dengan mencetak 104 gol dari 200 penampilan.
Adalah Atletico Madrid yang memberinya kesempatan di Eropa. Sanchez sempat kesulitan di musim debut dan hanya membuat 12 gol. Namun, Los Colchoneros tetap memberinya kesempatan berkembang.
Hasilnya, Sanchez membantu Atletico menembus empat besar Liga Spanyol di tiga kampanye berikutnya. Dia juga memenangkan gelar El Pichichi di musim terakhir dan memenangkan Copa del Rey untuk membantu Atletico mengakhiri paceklik gelar selama delapan tahun.