Ekonom: Indonesia Harus Bersiap Hadapi Resesi Ekonomi

BPS telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen di kuartal II 2020.

oleh Tira SantiaDiperbarui 06 Agustus 2020, 17:06 WIB
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen, di kuartal II 2020 secara tahunan (year on year). Angka ini di atas  atau lebih besar dari prediksi sebelumnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad,  mengatakan seharusnya Pemerintah segera menyiapkan skenario menghadapi resesi berkepanjangan atau depresi.

“Harusnya memang sudah kita siap dalam skenario-skenario resesi bukan skenario pemulihan karena akan berbeda skenario yang ditampilkan, apalagi kalau misalnya dalam katakanlah triwulan ke-3 dan nanti triwulan ke-4 negatif, sesungguhnya kita maju menuju depresi ini yang kita khawatirkan itu ada peluang ketika pandemi nya belum kita selesaikan,” kata Tauhid, dalam Press Conference INDEF Hadapi Resesi 2020, Kamis (6/8/2020).

Ia menyebut triwulan ke-2 saja kerugian ekonomi sebesar RP 145,64 triliun bandingkan periode yang sama dengan tahun lalu, artinya memang besar sekali kerugian yang diterima oleh ekonomi negara. Bila dilihat dari dampak covid-19 diproyeksikan jumlah pengangguran dan kemiskinan meningkat.

“Kalau kita lihat berbagai proyeksi soal penambahan pengangguran jauh lebih tinggi, kemiskinan bisa lebih dari 5 sampai 10 juta, PHK bisa sampai 10 juta dan menurut saya ini suatu konsekuensi yang harus ditampung ketika kita mengalami situasi resesi,” katanya.

 

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Percepat Pemulihan Ekonomi

Pandangan udara permukiman padat penduduk di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Itulah yang menjadi tantangan dan perlunya keseriusan Pemerintah dalam mempercepat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), agar di triwulan selanjutnya tidak bertumpuk masalah dari triwulan sebelumnya.

Lanjutnya, Tauhid menyebut resesi tidak harus menunggu dalam 2 triwulan (YoY) negatif berturut-turut, seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat. Seharusnya Pemerintah Indonesia berkaca pada negara lain yang pertumbuhan ekonominya masih positif seperti Vietnam.

“Saya kira ini situasi yang juga penting untuk kita siap menghadapi konsekuensi resesi itu sendiri,” pungkasnya.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya