Shin Tae-yong dan Luis Milla Ternyata Satu Suara soal Rendahnya Profesionalisme PSSI

Sebelum Shin Tae-yong, Luis Milla selepas meninggalkan kursi Timnas Indonesia, mengkritik profesionalisme PSSI, hal yang sama dilakukan pelatih asal Korea Selatan itu.

oleh Windi WicaksonoMuhammad Adi YaksaDiterbitkan 22 Juni 2020, 11:20 WIB
Luis Milla vs Shin Tae-yong. (Bola.com/Dody Iryawan)

Jakarta - Karier Shin Tae-yong bersama Timnas Indonesia terancam hanya seumur jagung. PSSI dan Indra Sjafri terang-terangan mengibarkan bendera perang kepada pelatih berpaspor Korea Selatan itu.

Bermula dari wawancaranya dengan media Korea Selatan, Joins, Shin Tae-yong dianggap bermain playing victim. Arsitek asal Korea Selatan itu bisa dipecat PSSI jika tidak kembali ke Indonesia pada pekan depan.

"Kalau dia tidak datang, harus kami evaluasi. Mungkin dipecat. Kami minta paling lambat dia datang pada pekan depan. Kami lihat nanti bagaimana," ujar Ketua Satuan Tugas (Satgas) Timnas Indonesia, Syarif Bastaman, ketika dihubungi Bola.com, Jumat (19/6/2020).

"Sejak rapat virtual dengan dia pada pekan lalu, dia sudah setuju untuk datang ke Indonesia. Alih-alih datang, dia malah berkoar-koar di media. Walaupun entah benar atau tidak dia berbicara seperti itu, sudah tersebar di media. Saat rapat virtual dengan Exco PSSI, dia menolak untuk datang," jelas Syarif.

Kursi kepelatihan Shin Tae-yong pun digoyang. Indra Sjafri berpeluang menggantikannya sebagai nakhoda Timnas Indonesia. Namun, jangan lupakan Luis Milla, pelatih yang diinginkan masyarakat Indonesia.

Yang menarik, Shin Tae-yong dan Luis Milla memiliki pandangan yang sama terhadap minimnya profesionalisme PSSI. Belum lama ini, Shin Tae-yong mempertanyakan PSSI sebagai federasi sepak bola. Dia heran karena PSSI beberapa kali berganti pengurus, bahkan membiarkan orang kompeten seperti Ratu Tisha mundur dari jabatan Sekjen PSSI.

Shin Tae-yong juga mengkritik sikap Indra Sjafri yang pergi tanpa izin saat masih menjabat sebagai asisten pelatihnya. PSSI kemudian malah mengangkatnya sebagai direktur teknik. Shin Tae-yong berharap ke depannya PSSI bisa fokus terhadap pengembangan sepak bola Indonesia demi meraih prestasi. Bukan justru membuat keputusan-keputusan kontroversial yang hanya berguna terhadap kepentingan pribadi.

Sementara itu, Luis Milla sebelumnya juga pernah mengkritik PSSI, karena memiliki manajemen yang buruk. Hal itu disampaikan oleh pelatih asal Spanyol tersebut selepas meninggalkan kursi pelatih Timnas Indonesia. Bahkan, menurut Luis Milla, PSSI, yang kala itu dipimpin Edy Rahmayadi, berulangkali melanggar kontrak.

Lanjut Baca:

"Proyek yang sudah saya bangun selama satu setengah tahun lebih berakhir, meski diwarnai dengan manajemen yang buruk, pelanggaran kontrak berulang, dan profesionalisme rendah dari para pemimpin, selama lebih dari 10 bulan terakhir, saya merasa sudah melakukan pekerjaan terbaik," begitu pesan Luis Milla dalam unggahannya di akun instagram, @luismillacoach. Soal prestasi, Luis Milla dan [Shin Tae-yong](4284658 "") memiliki catatan gemilang. Untuk Shin Tae-yong, sebelum menekuni dunia kepelatihan, dia adalah pemain dengan limpahan gelar di Korea Selatan. Tercatat, mantan pemain berposisi gelandang serang ini enam kali merengkuh trofi K League 1 bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 1993, 1994, 1995, 2001, 2002, dan 2003. Shin Tae-yong banting setir menjadi pelatih pada 2005 setelah didapuk sebagai asisten pelatih klub Australia, Queensland Roar FC, klub terakhir yang dibelanya di sepak bola profesional. Pengabdian Shin Tae-yong kepada Queensland Roar berakhir pada 2008 dan ia kembali ke Korea Selatan untuk menangani Seongnam. Bersama klub ini, ia sukses besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya