Dokter Reisa: Masih Ada yang Belum Disiplin Hidup Bersih di Masa Pandemi Covid-19

Reisa mengajak semua pihak untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan disiplin sebagai adaptasi kebiasaan baru.

oleh Yopi MakdoriDiterbitkan 12 Juni 2020, 03:05 WIB
Tim Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro menyampaikan pesan adaptasi kebiasaan baru yang produktif aman dari COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (9/6/2020). (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Liputan6.com, Jakarta Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Reisa Broto Asmoro menyatakan, masih ada yang belum disiplin menerapkan pola hidup bersih dan sehat di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya adalah pengabaian masyarakat akan cuci tangan dengan sabun.

Dia mengajak semua pihak untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan disiplin sebagai adaptasi kebiasaan baru. Hal tersebut karena  antivirus atau vaksin Covid-19 belum ditemukan sampai sekarang.

"Menurut pakar kesehatan masyarakat, perlindungan yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat," ujarnya, Kamis (11/6/2020).

Reisa mengajak semua pihak untuk bersama gerakan mencuci tangan secara masif dan massal. Ia mengatakan, ini bukan hanya dapat memutus penularan tetapi dapat meningkatkan infrastruktur perilaku hidup bersih sehat.

Ia mengutip data survei BPS 2019 yang mencatat proporsi populasi perkotaan yang memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air mengalir di Indonesia masih di bawah 80 persen.

"Angka lebih rendah lagi di populasi pedesaan. Maka mari jadikan gerakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir gerakan melawan Covid-19, sekaligus membangun sarana kesehatan untuk kepentingan semua orang," ujarnya.

 

Bawa 1.000 Jenis Kuman

Reisa mengingatkan bahwa mencuci tangan, sebagai salah satu protokol kesehatan, harus sering dilakukan dengan baik dan benar.

"Lebih dari 1.000 jenis kuman, baik itu bakteri, virus dan jamur dapat terbawa ke tangan kita," ujarnya.

Bahkan dokter dan tenaga kesehatan lain yang bekerja di rumah sakit memiliki risiko lebih besar. Tangan yang sering menyentuh dan memegang benda bisa saja menularkan.

"Apabila tangan kita sudah terpapar dan tangan kita memegang mata, hidung dan mulut, dipastikan virus akan masuk ke tubuh kita," katanya.

Ia mengatakan bahwa sejumlah studi menyebutkan bahwa virus dapat bertahan sampai dengan 72 jam di atas permukaan plastik dan steinless steel atau besi tahan karat. Sedangkan pada permukaan tembaga, virus dapat bertahan 4 jam, dan kurang dari 24 jam pada kertas karton.

"Jadi selalu ingat sering-sering untuk mencuci tangan. WHO menyarankan tujuh langkah cuci tangan yang benar, yaitu selama 20 detik," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya