Jubir Corona: Imunisasi untuk Anak Tak Boleh Berhenti di Tengah Pandemi

Yurianto mengusulkan sebelum melakukan imunisasi orangtua sebaiknya menghubungi petugas yang selama ini melayaninya.

oleh Ady AnugrahadiDiperbarui 02 Juni 2020, 17:09 WIB
Juru Bicara Penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto saat konferensi pers Corona di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (11/4/2020). (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Pemerintah Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, imunisasi atau pemberian vaksin pada anak harus tetap berjalan meski saat ini Indonesia sedang dilanda Covid-19.

"Kita tak boleh hentikan sama sekali imunisasi, karena hakikatnya adalah hak asasi anak-anak kita untuk terlindungi dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi," kata dia saat Konferensi Pers di Gedung BNPB, Selasa (2/6/2020).

Dia mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, tak bisa imunisasi dengan pola lama seperti pergi ke posyandu bersama-sama, berkerumun mendengarkan penyuluhan, menimbang bayi dan sebagainya.

"Harus ada mekanisme yang diubah, inilah yang dibutuhkan inovasi dari segala pihak seperti kader kesehatan, petugas puskesmas, orangtua dan balita," ucap dia.

Yurianto mengharapkan, imunisasi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dia mengusulkan sebelum melakukan imunisasi orangtua sebaiknya menghubungi petugas yang selama ini melayaninya.

"Karena semua ibu akan memiliki kartu atau buku monitoring tentang imunisasi. Mintakan imunisasi dijadwalkan, komunikasi dengan puskesmas, buat janji sehingga tak perlu imunisasi datang berkelompok," ujar dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kebiasaan baru jadi solusi

Petugas medis mengenakan alat pelindung diri (APD) saat swab test massal di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat, Selasa (2/6/2020). Swab test massal untuk mengantisipasi penyebaran virus corona COVID-19 ini dapat memeriksa 180 orang per hari. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Pria yang akrab disapa Yuri menjelaskan, kebiasaan baru menjadi satu-satunya solusi dan harus mulai ditanamkan kepada seluruh keluarga. Salah satunya, Yuri menyebut dalam konteks layanan kesehatan.

Menurut dia, pemerintah telah menyampaikan sosialisasi tentang penggunaan layanan telemedicine untuk jasa layanan konsultasi kesehatan.

"Sehingga tak perlu dalam kepentingan konsul harus datang ke rumah sakit, menunggu di rumah sakit, karena memberikan risiko cukup besar," ujar dia.

Menurut dia, di dalam kebiasaan baru banyak yang akan diubah. "Bukan sesuatu yang sulit karena pada hakikatnya sudah banyak dilakukan. Inilah yang harus mewarnai kita dalam antisipasi, produktif tapi aman dari Covid-19," tandas Yurianto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya