Film Liam dan Laila Tayang di Kampus Amerika dan Canada

Pemutaran film Liam dan Laila untuk memperkenalkan kebudayaan dan kultur Indonesia.

oleh Aditia SaputraDiperbarui 20 Mei 2020, 15:41 WIB
Pre Screening film Liam Dan Laila (Daniel Kampua/bintang.com)

Liputan6.com, Jakarta Pandemi Corona Covid-19 yang melanda kota-kota di Amerika Serikat, menjadi saat yang tepat untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada publik Amerika.  Ini juga bersamaan dengan bulan suci Ramadan yang bisa menjadi kajian para mahasiswa Amerika untuk mempelajari bagaimana kultur kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi dan memadukan nilai-nilai tradisi dengan norma-norma religiusitas. 

Hadirnya perkuliahan online yang menggantikan perkuliahan di ruang-ruang kampus yang sedang ditutup, memberikan kesempatan untuk mengenalkan dan mempromosikan Indonesia dengan lebih dekat.

Untuk itulah, Universitas Yale bekerjasama dengan Acha Productions dan Mahakarya Pictures mempersembahkan Indonesia Digital Film Streaming Event (IDFSE) dengan memutar film bernuansa perbedaan budaya barat dan timur, Liam dan Laila karya penulis dan sutradara Arief Malinmudo. 

Film produksi Mahakarya Pictures ini bercerita tentang kisah percintaan antara Liam dari Prancis dan Laila dari Sumatra Barat, yang terbentur oleh norma-norma agama dan adat tradisi Minangkabau. Film drama komedi ini menuturkan perilaku masyarakat Indonesia yang tetap mempertahan nilai-nilai tradisi leluhur dari generasi ke generasi ditengah arus kehidupan digital dan modernisasi. 

“Film dan bahasa merupakan produk budaya yang mencerminkan nilai, norma, gagasan, pandangan, pesan, perilaku, sikap, adat dan masyarakat. Tujuan pemutaran film Liam dan Laila ini untuk memberikan visualisasi yang dapat membangkitkan keingintahuan mahasiswa Amerika dengan mendalami keanekaragaman Indonesia,” ujar Indriyo Sukmono, senior lecture, Yale Council on Southeast Asian Studies dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini.


Sambutan

Media visit pemain film Liam dan Laila (Adrian Putra/Fimela.com)

Sementara itu, Eksekutif Produser yang juga CEO Mahakarya Pictures, Dendi Reynando menyambut baik rencana pemutaran film Liam dan Laila di YALE University. 

“Film ini dapat menjadi jembatan dalam memahami cara masyarakat hidup dalam budaya Indonesia, khususnya Minangkabau. Selain itu cerita dalam film ini banyak terjadi di belahan bumi manapun. Semoga bisa membawa Inspirasi positif buat mahasiswa di Yale University dan kampus kampus lain yang ikut menyaksikan,” ujarnya.

 


Perkenalan

Pre Screening film Liam Dan Laila (Daniel Kampua/bintang.com)

Sementara bagi Maya Naratama, Produser yang bekerja di New York pemutaran film Liam dan Laila ini cocok untuk diputar di kalangan mahasiswa dan publik Amerika.  

Lanjut Baca:

“Selain ceritanya menggambarkan perbedaan antara kultur budaya Indonesia dan barat, film ini juga akan mengangkat  karya sineas Indonesia di Amerika,” ujarnya. Maya adalah founder Acha Productions yang bergerak di bidang produksi film dan event organizer di kota New York.  “Merupakan salah satu kebahagiaan kami ketika bisa berkarya, kemudian nafas karya tersebut tidak berhenti di bioskop namun juga dapat ditonton dan "dibaca" oleh kalangan akademik. Jika film kami sebelumnya banyak dijadikan kajian pada skripsi, thesis dan Jurnal, kali ini oleh teman teman mahasiswa di Amerika dari beragam disiplin ilmu. Tentu ini akan menambah pengetahuan baru bagi saya berdiskusi dan  mendengar  pandangan langsung dari  teman - teman baru,” ujar Arief Malinmudo.    

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya