Pembuktian Maman Abdurrahman: Sukses di Usia Muda dan Tua

Saat masih berusia 24 tahun, Maman Abdurrahman sudah didaulat sebagai pemain terbaik Liga Indonesia.

oleh Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 16 Mei 2020, 17:50 WIB
Persija Jakarta - Maman Abdurrahman (Bola.com/Adreanus Titus)

Jakarta - Perjalanan karier Maman Abdurrahmanbegitu didambakan setiap pesepak bola. Saat masih muda, ia meraih berbagai kesuksesan pribadi. Saat sudah tua, ia masih berkesempatan untuk merasakan nikmatnya trofi Liga Indonesia.

Era keemasan Maman Abdurrahman sebagai pemain terjadi ketika ia berseragam PSIS Semarang pada 2005-2008 atau setelah membela Persijatim Solo FC pada periode 2001-2005.

Baru juga bergabung, Maman telah berhasil mengantar PSIS ke babak final Divisi Utama Liga Indonesia 2006. Namun, ia gagal membawa pulang gelar ke Semarang setelah dikandaskan Persik Kediri 0-1.

Namun, Maman masih bisa mencaplok gelar pribadi. Ia didaulat sebagai pemain terbaik Liga Indonesia musim 2006. Kala itu, Maman sukses membentuk benteng tangguh di lini pertahanan PSIS bersama Fofee Kamara dan Zoubairou Garba. Nama terakhir masih eksis bersama Persebaya Surabaya.

Berkat penampilannya bersama PSIS, Maman Abdurrahman mendapatkan panggilan ke Timnas Indonesia senior pada tahun yang sama. Sebelumnya, ia lebih banyak bermain dengan timnas U-23.


Kisah Tuduhan Penyuapan di Piala AFF 2010

(Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Setelah kontraknya bersama PSIS berakhir, Maman Abdurrahman bergabung dengan Persib Bandung pada 2008 hingga 2013. Di tengah kariernya bersama tim berjulukan Pangeran Biru itu, ia dihajar tuduhan penyuapan di Piala AFF 2010 bersama Timnas Indonesia.

Semua berawal dari kekalahan 0-3 Timnas Indonesia dari Malaysia pada partai final leg pertama Piala AFF 2010 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur.

Sejumlah pemain Timnas Indonesia dituding menerima suap untuk membiarkan Malaysia menang. Dasar dari tuduhan tersebut merujuk dari proses gol-gol tuan rumah.

Terutama ketika Safee Sali membuka skor untuk Malaysia pada menit ke-61. Ketika itu, Maman menjadi bulan-bulanan karena gagal menutup pergerakan Norshahrul Idlan yang menjadi pembuat assist untuk gol tersebut.

Kisah dugaan penyuapan tersebut bahkan terus diingat hingga saat ini dan pernah dibahas oleh program Mata Najwa di sebuah televisi swasta pada 2018.

"Saya ingin mengklarifikasi yang seolah olah saya terlibat pengaturan skor dalam pertandingan final Piala AFF 2010," kata Maman pada Desember 2018.

Lanjut Baca:

"Saya kaget melihat pemberitaan, tiba tiba Instagram saya ramai, saya difitnah. Saya yakin, seperti penjelasan awal, sehubungan dengan opini yang berkembang setelah tayangan Mata Najwa, saya hanya bilang dengan opini yang berkembang di media sosial, saya banyak diserang." "Saya harus akui saya melakukan kesalahan secara teknis, bahasanya blunder tapi tidak ada unsur apapun. Waktu itu Alfred Riedl setelah laga bilang, seingat saya, setiap pemain bisa saja melakukan kesalahan. Saya akui saya blunder, secara teknis. Tapi tuduhan suap itu tidak benar. Demi Allah," ucap Maman.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya